Suara.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan kalau situasi global saat ini berdampak pada kondisi perekonomian di dalam negeri.
Salah satu yang paling berpengaruh, kata Bambang, adalah kebijakan stimulus moneter yang dihentikan bank sentral Amerika.
"Sejak bank sentral AS mengumumkan rencana penghentian kebijakan stimulus moneter pada pertengahan 2013, perekonomian global senantiasa berada dalam pusaran gejolak dan ketidakpastian. Pasar keuangan di sejumlah negara berkembang mengalami tekanan yang cukup berat sejalan dengan arus pembalikan modal asing (capital reversal) terutama ke AS. Sejak saat itu, nilai tukar mata uang di sejumlah negara berkembang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah," kata Bambang dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR, Rabu (20/5/2015).
Pidato Bambang ini dalam rangka memberikan pengantar dan keterangan dari pemerintah atas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun Anggaran 2016.
KEM PPKF ini, nantinya akan menjadi acuan bagi pemerintah dan DPR dalam rangka pembicaraan pendahuluan penyusunan RAPBN 2016.
Dia melanjutkan, kondisi gejolak dan ketidakpastian ekonomi global juga diperberat dengan adanya kenyataan bahwa Cina sedang memasuki fase perlambatan, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya selalu membukukan pertumbuhan double digit.
"Jepang yang diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan di kawasan Asia melalui kebijakan stimulus ekonomi yang cukup agresif juga masih belum menunjukan prospek yang cukup kuat. Demikian pula yang terjadi di Eropa, prospek pemulihan dari krisis ekonomi masih belum berjalan sesuai harapan," ujarnya.
Akibat perkembangan kinerja ekonomi global yang kurang menguntungkan ini, Bambang mengatakan, hal itu berdampak pada perekonomian nasional.
"Dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional terus mengalami perlambatan. Bahkan dalam tahun 2014 pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5 persen, jauh lebih dibandingkan dengan laju pertumbuhan tiga tahun sebelumnya yang masih diatas 6 persen," imbuhnya.
Dia menambahkan, menurunnya kinerja ekspor akibat pelemahan permintaan global dan merosotnya harga komoditas internasional merupakan faktor utama melambatnya aktivitas ekonomi nasional.
Bambang juga menerangkan selain berdampak pada kinerja pertumbuhan ekonomi, melemahnya kinerja ekspor juga telah berdampak pada kondisi neraca pembayaran Indonesia, khususnya neraca transaksi berjalan.
"Sejak 2012, neraca transaksi berjalan Indonesia terus mengalami defisit yang cukup besar. Kombinasi tekanan pada pasar keuangan terkait dengan rencana penghentian kebijakan stimulus moneter serta tekanan pada neraca transaksi berjalan inilah yang telah mengakibatkan nilai tukar rupiah mengalami tekanan," terangnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
Terkini
-
Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Diprediksi Naik Dua Kali Lipat!
-
Garda Revolusi Iran Disebut Tutup Selat Hormuz, Mengapa Dunia Harus Panik?
-
Target Pasar Global, Pertamina Bangun Ekosistem SAF Terverifikasi Internasional
-
Industri Kripto di Dalam Negeri Tumbuh Lebih Sehat Usai Bursa CFX Pangkas Biaya Transaksi
-
HPE Maret 2026: Harga Konsentrat Tembaga Turun, Emas Justru Menanjak
-
Alasan Dibalik Dibalik Rencana Stop Ekspor Timah
-
Harga Genteng Rp4.300 Per Unit, Transaksi Awal Program Gentengisasi di Jabar Capai Rp12,6 Miliar
-
BRI Bantu Biayai Program Gentengisasi lewat KUR Perumahan
-
Manggis Subang Tembus China, LPDB Koperasi Siap Perkuat Pembiayaan Hingga Rp20 Miliar
-
Indonesia Emas 2045 Butuh Koperasi Modern dan Generasi Produktif