Suara.com - Pemerintah tidak akan mengubah target pertambahan kapasitas listrik 35 ribu MW yang saat ini sedang berjalan. Penambahan kapasitas listrik diperlukan untuk menyeimbangkan pertumbuhan tenaga listrik sebesar 8,7 persen per tahun dan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 97,4 persen pada tahun 2019.
“Pemerintah tidak akan merevisi besaran target listrik 35 ribu MW karena rasio elektrifikasi kita masih rendah artinya masih ada ribuan desa, jutaan penduduk yang tidak mendapatkan akses listrik, tidak adil kalau kita tidak kerja keras untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka karena listrik adalah jendela peradaban, sebegitu mereka dapat akses listrik, seketika dunia terbuka,” ujar Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Senin (7/9/2015).
Pemerintah beberapa waktu lalu telah meresmikan proyek kelistrikan untuk 50 pulau terluar. Sudirman bersyukur saat peresmian listrik di 50 pulau terluar, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara akan masuk dengan koneksi jaringan IT di 50 pulau terluar tersebut. Menurut Sudirman itu berarti 50 titik terluar tersebut akan juga mendapatkan akses informasi dan ilmu pengetahuan.
Sebelumnya, Direktur Ketenagalistrikan Jarman menegaskan pembangunan kapasitas listrik 35 ribu MW merupakan suatu kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta untuk meningkatkan rasio elektrifikasi. Hingga bulan Juni 2015, Jarman manmbahkan, rasio elekrifikasi kita baru mencapai 86,39 persen dengan kapasitas pembangkit sebesar 53,5 GW.
Rasio elektrifikasi nasional tersebut menurut Jarman, masih lebih rendah dari negara-negara tetangga seperti, Singapura yang sudah mencapai 100 persen, Brunei 99,7persen, Thailand 99,3 persen, dan Vietnam 98,0 persen.
Dijelaskan Jarman, Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi sebesar 97,4 persen dalam lima tahun kedepan dan untuk mencapai target sebesar itu diperlukan tambahan kapasitas terpasang sebesar 35 ribu MW diluar 7.400 MW yang saat ini sudah dalam tahap konstruksi.
”PLN harus konsentrasi di transmisi karena ini merupakan backbond yang harus dibangun bagaimanapun juga karena tanpa transmisi pembangkit itu tidak bisa menyalurkan listrik ke masyarakat," ujar Jarman.
Berita Terkait
-
Bangun Listrik 35 Ribu MW, Menko Rizal: PLN Bisa Bangkrut
-
Pemerintah Yakin Wujudkan Proyek Listrik 35.000 MW Sesuai Target
-
Menteri ESDM: Konsumsi Listrik RI Lebih Rendah dari Malaysia
-
Pemerintah Target Tambah Listrik 35 Ribu Megawatt dalam 5 Tahun
-
Program Listrik 35 Ribu Megawatt Bikin Pengusaha Batubara Senang
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
Terkini
-
Profil Dewan Energi Nasional, Ini tugas dan Tanggung Jawabnya
-
Bursa Saham Indonesia Tidak Siap? BEI Klarifikasi Masalah Data yang Diminta MSCI
-
Target Negosiasi Tarif Impor AS Mundur, Ada Kendala?
-
Purbaya soal IHSG Anjlok: Beres Sebelum Mei, Hanya Syok Sesaat
-
PU Kebut Normalisasi Sungai Aek Doras, Upaya Redam Ancaman Banjir di Sibolga
-
Tekanan Global hingga AI Warnai 2026, MCorp Buka Ruang Dialog Strategis Lintas Industri
-
Pos Indonesia Gandeng Emiten WIFI Bantu Distribusi Internet Rakyat
-
IHSG Terjun Bebas, BEI: Investor Jangan FOMO Jual Saham
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
Jembatan Energi Jawa Hampir Tersambung: Proyek Cisem II Rampung Maret 2026