Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan Nusa Tenggara Barat merilis persentase non performing loan (NPL) atau kredit macet perbankan di sana. Hasilnya kredit macet di sana peningkatan dari 1,58 persen selama Desember 2014 menjadi 1,91 persen pada akhir Agustus 2015.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Barat (NTB), Yusri menilai salah satu penyebab meningkatnya persentase kredit macet yang disalurkan lembaga perbankan adalah kondisi perekonomian yang mengalami kelesuan secara nasional.
"Persentase kredit macet bisa meningkat lagi jika kondisi perekonomian belum membaik," katanya.
Kondisi tersebut berdampak juga terhadap perekonomian di daerah, khususnya sektor usaha yang mengandalkan bahan baku dari impor. Meskipun nilai tukar rupiah terus melemah, Yusri menilai tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi perbankan di NTB karena likuiditas perbankan di wilayah kerjanya masih tergolong cukup kuat meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan pada Kuartal I 2015.
"Persentase kredit macet memang terus meningkat. Namun, masih di bawah ketentuan sebesar 5 persen. Likuiditas perbankan juga masih aman. Akan tetapi, tentu harus tetap diantisipasi segala kemungkinan dampak pelemahan ekonomi," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Prijono mengakui kinerja bank umum (konvensional dan syariah) mengalami perlambatan pertumbuhan pada Triwulan II 2015. Hal itu terlihat dari indikator aset bank umum pada triwulan kedua 2015 mengalami perlambatan pertumbuhan dari 15,61 persen (yoy) pada triwulan pertama 2015 menjadi 13,30 persen (yoy) pada Triwulan II 2015.
Aset bank umum pada Triwulan II 2015 mencapai Rp28,84 triliun. Sebagian besar aset bank umum di NTB merupakan aset pada kelompok bank pemerintah dengan porsi sebesar 73,54 persen, sedangkan kelompok bank swasta nasional dan bank asing campuran masing-masing sebesar 26,12 persen dan 0,33 persen.
Perlambatan pertumbuhan aset bank umum tersebut sejalan dengan perlambatan pertumbuhan pada penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan transaksi antarbank dan antarkantor. Jumlah nominal DPK bank umum pada Triwulan II 2015 mencapai Rp18,25 triliun. Penghimpunan DPK tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan dari 19,54 persen (yoy) pada triwulan pertama 2015, menjadi sebesar 14,49 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.
"Perlambatan pertumbuhan DPK tersebut kemudian juga diikuti dengan perlambatan pertumbuhan kredit yang disalurkan," ujarnya.
Indikator lainnya, kata dia, adalah penyaluran kredit bank umum pada triwulan kedua 2015, yang mencapai Rp22,54 triliun atau tumbuh 14,01 persen (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut melambat jika dibandingkan tingkat pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 14,96 persen (yoy).
Sebagian besar kredit yang disalurkan di NTB, kata dia, masih merupakan kredit konsumsi dengan porsi sebesar 56,91 persen dari total kredit.
"Share kredit konsumsi tersebut lebih tinggi daripada kredit produktif (kredit modal kerja dan kredit investasi) yang porsinya sebesar 43,09 persen dari total kredit," kata Prijono. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Program DIB Harita Group Ubah Nasib Istri Nelayan, Kini Bisa Hasilkan Cuan Sendiri
-
Komisaris Pertamina Cek Distribusi BBM dan LPG di Sorong, Pastikan Pasokan Terjaga
-
BI Longgarkan Transaksi NDF Offshore untuk Perkuat Rupiah
-
Harga Kondom Naik Gara-gara Perang AS-Iran, Kok Bisa?
-
Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM
-
Investor RI Masih Tertinggal? Dunia Sudah Pakai AI untuk Trading Saham
-
Harga BBM Nonsubsidi Kerek Inflasi? Begini Jawaban BI
-
Sudah 3 Tahun Tak Naik! Jadi Alasan Pemerintah Kerek HET Minyakita
-
India Mau Borong Pupuk RI, Mentan Amran: Dubesnya Telepon Langsung!
-
Purbaya Tak Tahu Isu PPN Jalan Tol: Janji Saya Sama, Tak Akan Terapkan Pajak Baru