Suara.com - Menko Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan, pembangunan pembangkit listrik setahun terakhir akan mencapai 10.000 MW, baik yang dikerjakan PLN maupun swasta.
"Dalam setahun ini baik yang dikerjakan sendiri maupun yang dikerjakan swasta sudah mencapai 10.000 MW," kata Darmin Nasution di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (3/12/2015).
Darmin menyebutkan capaian 10.000 MW itu perbandingannya untuk PLN dan swasta hampir sekitar 50:50. "Tapi angkanya tidak persis seperti itu," katanya.
Ia menyebutkan, pembangunan pembangkit listrik perlu terus dipercepat sehingga target 35.000 MW selesai atau paling tidak sudah bisa mulai dikerjakan.
Darmin menyebutkan rapat terbatas pada Kamis ini membahas mengenai listrik dan kilang minyak.
"Ratasnya panjang sekali jadi saya tidak bisa jelaskan semuanya," katanya.
Menurut dia, dalam ratas itu juga dibicarakan mengenai listrik yang "renewable" baik geothermal, mikrohidro, bahkan yang dari sampah sekalipun kecil-kecil yang sekaligus untuk menyelesaikan masalah sampah di kota-kota besar.
"Artinya akan didorong satu kegiatan agar sampah itu menjadi sumber tenaga pembangkit listrik, tidak besar-besar tetapi kecil-kecil seperti 10 MW tetapi dua masalah diselesaikan yaitu sampah beres dan dapat listrik," katanya.
Menurut dia, listrik dari sampah mungkin biayanya lebih mahal sedikit dibanding batu bara atau gas, tetapi kalau dihitung benefitnya secara keseluruhan itu malah lebih tinggi benefitnya.
"Cuma memang itu ada persoalan bagaimana kalau nanti diaudit, akan beda-beda tiap kota sehingga akan ada angka maksimum supaya pengambil keputusan bisa mengambil keputusan, kalau tidak urusan sampah tidak beres," katanya.
Menurut dia, pembangkit listrik dari sampah bisa dikerjakan PLN, bisa juga swasta dan itu ada skemanya.
Darmin menyebutkan dalam rapat itu juga dibahas pembangkit listrik dengan tenaga renewable lain seperti mikrohidro.
Sementara itu mengenai percepatan pembangunan kilang minyak, Darmin mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan Perpres yang mengatur hal itu.
Menurut dia, terakhir pihaknya masih mendiskusikan satu masalah karena Pertamina ingin dikerjakan sendiri atau jika swasta masuk harus kerja sama.
"Tapi kemudian kita bilang tidak bisa, harus ada pilihan ketiga di mana swasta bisa masuk tapi dengan tarif yang masuk akal," katanya.
Darmin menyebutkan dalam seminggu ke depan, pihaknya akan berupaya menyelesaikan Perpres itu. (Antara)
Berita Terkait
-
Pemerintah Bidik Hilirisasi Industri demi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di 2029
-
Mantan Gubernur BI: Rupiah Melemah Karena Pemerintah Tahan Subsidi BBM
-
Pertumbuhan Kredit Nasional Capai 10,42 Persen di Q1 2026, Realisasi KUR Naik 0,21%
-
Kelas Menengah di RI Capai 185,35 Juta Orang, Terancam Turun Buntut Tekanan Daya Beli
-
Investor Global Proyeksi Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Perang AS vs Iran, Ini Buktinya
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai
-
Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI
-
Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan
-
Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%
-
Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan
-
UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026
-
Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026
-
BI Lapor Uang Primer Tumbuh Melambat 14,3% pada April 2026
-
ASDP Masih Raih Pendapatan Rp 4,96 triliun pada 2025 di Tengah Tantangan Bisnis
-
OJK Restui Merger BPR Danaputra Sakti dengan BPR Harta Swadiri