Suara.com - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore (11/1/2016), bergerak menguat sebesar 40 poin menjadi Rp13.882 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.922 per dolar AS.
"Faktor teknikal menjadi salah satu yang menopang mata uang rupiah bergerak menguat terhadap dolar AS, penguatan itu dinilai wajar karena dalam beberapa hari terakhir ini mata uang domestik cenderung terdepresiasi," ujar analis dari PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong di Jakarta, Senin (11/1/2016).
Menurut Lukman Leong, penguatan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini (Senin, 11/1/2016) cenderung masih terbatas sehingga potensi laju rupiah berbalik arah ke area negatif cukup terbuka lebar mengingat kondisi perekonomian Tiongkok yang masih melambat.
Di sisi lain, lanjut dia, perekonomian Amerika Serikat yang cukup optimistis pada tahun 2016 ini juga masih dapat mendukung mata uang dolar AS tetap berada pada tren penguatan. Diluar dugaan, jumlah gaji pekerja non pertanian naik 292.000 pada Desember 2015, lebih tinggi dari perkiraan pasar 200.000.
Untuk menjaga laju rupiah untuk tetap stabil, menurut Lukman Leong, harus ada kebijakan dari otoritas keuangan di dalam negeri, salah satunya penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate).
"Dalam jangka pendek, imbas penurunan BI rate memang negatif, namun untuk jangka panjang akan positif karena pemangkasan BI rate dapat mendorong tingkat konsumsi domestik meningkat yang akhirnya menopang pertumbuhan ekonomi domestik," katanya.
Sementara itu,Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan bahwa sentimen naiknya cadangan devisa menjadi 105,9 miliar dolar AS pada Desember 2015 masih mampu menjaga nilai tukar rupiah berada di area positif.
"Cadangan devisa yang masih dapat membiayai 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor, menjaga sentimen positif bagi pelaku pasar keuangan," kata Reza.
Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari Senin (11/1) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah menjadi Rp13.935 dibandingkan hari sebelumnya (8/12) di posisi Rp13.874 per dolar AS.
(Antara)
Berita Terkait
-
Kurs Rupiah Hari Ini 7 Mei 2026 Naik ke Rp17.336, Ini Penyebabnya
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Harga Acuan Beras Dinilai Sudah Tak Realistis, Berapa Seharusnya?
-
Pertagas Pegang Kendali Pipa Gas Cisem II
-
METI: Energi Hijau Bukan Sekadar Kurangi Emisi, Tapi Buka Peluang Ekonomi Baru
-
Jika Impor Baja China Dibiarkan, Penutupan PT Krakatau Osaka Steel Akan Disusul Perusahaan Lain
-
Bos BI Jamin Cadangan Devisa Tak Akan Goyah untuk Intervensi Rupiah
-
Pertamina dan Apache Bahas Peluang Kolaborasi Global Pengembangan Reservoir Kompleks
-
IHSG Terbang Tinggi 1,15% Hari Ini, 370 Saham Menghijau
-
Wanti-wanti LPG Mau Digantikan CNG: Bahaya, Tekanannya 25 Kali Lipat!
-
Alasan Perang Iran Bikin Harga BBM Tetap Mahal Meski Pasokan Minyak Dunia Melimpah
-
RUPST Bank Jago: Laba Tumbuh 115 Persen, Tetapkan Direksi Baru