Suara.com - Indonesia Property Watch (IPW) mengemukakan program sejuta rumah yang dimaksudkan untuk memberikan kesempatan lebih besar bagi masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah, saat ini terhambat karena belum ada sinkronisasi.
"Kami menyoroti beberapa hal yang sampai saat ini masih dirasakan belum adanya sinkronisasi dan koordinasi yang baik di pemerintahan sendiri," kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (26/1/2016).
Menurut dia, program sejuta rumah masih belum memperlihatkan peran pemerintah dalam menyediakan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dimana porsi pemerintah hanya 16,4 persen dari rencana 1 juta unit rumah, sisanya diserahkan kepada pihak swasta.
Melihat kondisi tersebut, lanjutnya, maka program sejuta rumah juga dinilai masih jauh dari pemenuhan sektor perumahan publik untuk MBR.
"Strategi arah pembangunan program sejuta rumah masih belum terlihat jelas, sehingga masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri tanpa melihat aspek permintaan yang ada di masing-masing wilayah yang seharusnya diarahkan pemerintah sejak awal," katanya.
Dia berpendapat, ketidakjelasan itu membuat orientasi pemerintah hanya bersifat fisik terbangun tanpa memerhatikan kualitas dari rumah yang telah maupun akan dibangun.
Selain itu, Ali juga mengingatkan faktor tanah yang belum dipersiapkan pemerintah mengingat bahwa ketersediaan lahan-lahan yang akan dibangun rumah sederhana oleh pengembang swasta diperkirakan hanya bertahan dalam waktu 2-3 tahun.
"Setelah itu dikhawatirkan pengembang yang notabene bermain di menengah bawah akan kesulitan memperoleh tanah karena harga tanah akan semakin tinggi dan pemerintah tidak ada instrumen untuk mengendalikan harga tanah," katanya.
Mengingat ketersediaan tanah menjadi ranah masing-masing pemda, lanjutnya, maka Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat harus melakukan koordinasi dengan Pemda melalui Kementerian Dalam Negeri.
Direktur Eksekutif IPW juga ingin agar Kementerian PUPR melakukan sinkronisasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait kategori rumah MBR yang seharusnya memperoleh subsidi untuk listrik 900 W.
"Berdasarkan pengamatan di lapangan ternyata pihak PLN hanya mau men-supply listrik 1.300 W untuk perumahan-perumahan yang ikut program sejuta rumah. Koordinasi pihak terkait sangat dibutuhkan," katanya.
Ali juga mengingatkan bahwa rencana Tabungan Perumahan Rakyat dianggap masih membebani para pengusaha sehingga perlu dibuat alternatif untuk salah satu sumber pembiayaan perumahan.
Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan menolak tegas dengan sejumlah isi dari Rancangan Undang-Undang (RUU) Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) karena sumber pembiayaan tersebut bakal dibebankan kepada dunia usaha.
"Kami akan menyiapkan langkah-langkah hukum dan kami juga akan abaikan (bila RUU Tapera disahkan)," kata Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (19/1).
Apindo, ujar Hariyadi, menolak dengan tegas UU tersebut diberlakukan jika sumber pembiayaan untuk penyediaan perumahan itu dibebankan kepada dunia usaha.
Dia memaparkan, argumen tersebut mengingat beberapa hal yaitu beban pungutan untuk dunia usaha baik pihak perusahaan maupun kalangan pekerja sudah sangat besar sehingga penambahan pungutan betapa pun besarnya akan semakin menjadikan dunia usaha tidak kompetitif. (Antara)
Berita Terkait
-
Gandeng Swasta, Pemerintah Kebut Bangun 1.000 Rumah Murah
-
Pemerintah Siapkan Rusun Subsidi dengan Cicilan Rp1,5 Juta Tenor 30 Tahun
-
Menteri PKP: 133.000 Rumah Subsidi Berdiri di Jateng dan Jatim di 2026
-
Pastikan Harga Rumah Subsidi Tak Melejit, Menteri PKP: Program Gentengisasi Masih Dikaji!
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Danantara Bongkar Borok BUMN, Catat Penurunan Aset Hampir Rp100 Triliun
-
Jelang DSI Beroperasi, Pengusaha Kompak Minta Jaminan Kontrak Ekspor Tetap Aman
-
Setor Ratusan Triliun ke Negara, Tapi Petani Tembakau Belum Dilindungi Hukum
-
Gaji ke-13 ASN dan Pensiun Cair Mulai Besok, Taspen Ungkap Aturan hingga Penerima yang Tak Kebagian
-
Bulog Dukung Upaya Menjaga Kelancaran Penyaluran Tebu Petani di Blora
-
Pendapatan Negara Bisa Berkurang Gegara Pembatasan Nikotin dan Tar
-
Kemendag Ungkap Penyebab Koreksi Harga Emas pada Awal Juni 2026
-
1 Juni 2026 Masa Transisi, Tapi Petinggi Danantara Sumberdaya Indonesia Belum Diumumkan
-
Prabowo Soroti Ketimpangan Ekonomi: RI Kaya Nikel hingga Emas, Rakyat Jangan Hanya Jadi Penonton
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila