- Bitcoin kembali mengalami pelemahan tajam hingga sentuh level terendah enam bulan.
- Sentimen risk-off yang kuat dari investor, dipicu keraguan mendalam terhadap peluang pemangkasan suku bunga.
- Tekanan jual ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
Suara.com - Pasar aset kripto global dilanda kepanikan besar. Bitcoin (BTC) kembali mengalami pelemahan tajam pada perdagangan Kamis (20/11/2025) hingga Jumat pagi (21/11/2025), jatuh ke posisi terendah dalam lebih dari enam bulan.
Sentimen risk-off yang kuat dari investor, dipicu keraguan mendalam terhadap peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed), menjadi penyebab utama runtuhnya harga.
Dikutip dari CNBC, BTC sempat menyentuh level USD 86.325,81 pada Kamis, posisi yang belum pernah terlihat sejak 21 April lalu. Pada pukul 07:10 WIB hari Jumat (21/11/2025), BTC diperdagangkan di level USD 87.167 per koin, setara dengan Rp 1,45 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.738/USD), anjlok 4,77% dalam 24 jam terakhir.
Tekanan jual ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Perekonomian AS mencatat penambahan 119.000 tenaga kerja pada September, jauh melampaui proyeksi ekonom yang hanya 50.000.
Data hot ini secara langsung memukul harapan pasar terhadap kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed akan memangkas suku bunga acuan pada Desember mendatang kini merosot tajam, hanya berada di sekitar 40 persen.
“Penurunan ini terjadi di tengah sikap investor yang mulai mengurangi eksposur pada aset berisiko dan semakin ragu terhadap peluang pemangkasan suku bunga The Federal Reserve bulan depan,” demikian laporan CNBC.
Koreksi BTC menyeret seluruh pasar kripto ke jurang merah, memperparah kerugian yang sudah dimulai sejak gelombang likuidasi posisi leverage tinggi pada awal Oktober.
- Ethereum (ETH) merosot 5,17% dalam sehari, diperdagangkan di sekitar Rp 47,7 juta per koin.
- XRP ambles 4,03% sehari.
- Cardano (ADA) menjadi salah satu yang terpukul paling keras, terkoreksi 5,77% dalam 24 jam dan mencapai 17,46% selama sepekan.
Menariknya, pelemahan BTC kali ini bahkan menyeret pasar saham, meskipun saham teknologi seperti Nvidia melaporkan kinerja keuangan yang sangat kuat. Fenomena ini menunjukkan adanya korelasi antara trader agresif yang berinvestasi di saham-saham AI dengan pemegang BTC, sehingga kedua aset berisiko ini kerap bergerak searah.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global anjlok sekitar 4,35% dalam sehari, kini berada di level USD 2,97 triliun.
Baca Juga: Rupiah Lesu Lawan Dolar AS, Karena The Fed Galau Soal Suku Bunga Acuan
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Realisasi PNBP Migas Jauh dari Target, Ini Alasan Bahlil
-
APBN Tekor Hampir 3 Persen, Dalih Purbaya: Saya Buat Nol Defisit Bisa, Tapi Ekonomi Morat-marit
-
Sabar Ya! Bahlil dan Purbaya Masih Hitung-hitung Bea Keluar Batu Bara
-
Inalum Catatkan Rekor Produksi dan Penjualan Paling Tinggi Sepanjang Tahun 2025
-
IHSG Sempat 9.000, Purbaya Percaya Diri: Itu Baru Awal, Akan Naik Terus
-
Sempat Tembus 9.000, IHSG Akhirnya Terkoreksi Imbas Aksi Ambil Untung
-
Bahlil Tetap Proses Izin Pertambangan Ormas Meski Aturan Digugat di MK
-
Gen Z Bisa Miliki Rumah, Hunian Terjangkau Ini Jadi Alternatif di Tengah Harga Melambung
-
Bahlil Sengaja Tahan Produksi Batu Bara Jadi 600 Juta di 2026 Demi Harga Stabil
-
Saham Garuda Indonesia (GIAA) Meroket Awal 2026, Ini Penyebabnya