Suara.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani meresmikan pabrik benang pintal PT Indo-Rama Synthetics Tbk (Indorama) di Subang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (10/2/2016).
Pabrik yang bergerak di sektor hulu tekstil itu bernilai Rp556 miliar atau sekitar 40 juta dolar AS .
"Realisasi investasi perluasan Indorama akan mendukung program pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat kabupaten Purwakarta dan juga sekitarnya serta meningkatkan pendapatan devisa melalui peningkatan ekspor," kata Kepala BKPM Franky Sibarani saat meresmikan pabrik di Subang, Rabu (10/2/2016).
Menurut Franky, industri benang pintal sebagai industri hulu industri tekstil masih memiliki potensi yang besar untuk terus dikembangkan terutama di Jawa Barat yang masih sangat kompetitif.
"Kami akan terus mengawal investasi industri tekstil yang merupakan industri prioritas yang sedang didorong pemerintah karena bersifat padat karya dan berorientasi ekspor," katanya.
Pabrik yang diresmikan merupakan pabrik ke sembilan dengan kapasitas produksi mencapai 10.800 metrik ton per tahun dengan proyeksi pendapatan per tahun mencapai 40 juta dolar AS.
Produk yang akan dihasilkan dari pabrik tersebut adalah benang pintal dengan kebutuhan tenaga kerja 270 orang.
"Kami menggunakan teknologi baru dengan 40.000 mata pintal di setiap mesinnya yang canggih sehingga barang langsung dari bahan baku sampai keluar tidak perlu banyak tenaga manusia," kata Komisaris Utama Indo-Rama Synthetics Sri Prakash Lohia.
Dengan masa konstruksi hanya tujuh bulan, pabrik ke sembilan itu menempati lokasi tanah pabrik yang telah dibeli sejak 1997 seluas 50 hektare.
Lohia mengatakan dengan total produksi 10.800 metrik ton benang pintal per tahun, 74 persennya akan diekspor hingga ke 80 negara di seluruh dunia.
Perusahaan yang memiliki rencana investasi sebesar Rp593,75 miliar dan sudah terealisasi sebesar Rp583,8 miliar.
Perusahaan menjual produknya pada pemilik merek ternama dunia di segmen menengah tinggi. Pada 2014, perusahaan tersebut mencatatkan penjualan ekspor mencapai 427 juta dolar AS. (Antara)
Berita Terkait
-
Jakarta Geser Jabar, Serap Investasi Rp78,7 Triliun di Triwulan I 2026
-
Baru 24,4 Persen, Realisasi Investasi Awal 2026 Sentuh Rp498,8 Triliun
-
Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru
-
BKPM Permudah Izin KKPR Darat bagi Usaha Mikro
-
Keputusan Pengambilan Tambang Martabe Milik Agincourt Berada di Tangan Prabowo
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Harga Minyak Bakal Naik Pekan Depan? Ini Prediksinya
-
BRI Terapkan Aturan Baru Rekening 2026: Ini Beda Status Aktif, Tidak Aktif, dan Dormant
-
Cara Cek NIK Penerima Bansos Kemensos Usai Update dari DTKS Jadi DTSEN
-
Rupiah Bisa Tembus Rp17.900, Ini Alasan Mata Uang RI Diproyeksi Makin Anjlok!
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit dan Daging Ayam Naik, Beras Premium Tetap Tinggi
-
3 Pilihan Aset Aman untuk Investasi saat Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS
-
IKN Disebut 'Gegabah Terstruktur', Prabowo Diminta Evaluasi Proyek Era Jokowi
-
Nilai Tukar Rupiah dari Masa ke Masa, Era Prabowo Subianto di Posisi Berapa?
-
Kesepakatan China-AS Jadi 'Omong Kosong', Perang Masih Ancam Ekonomi Dunia
-
IHSG Libur 4 Hari, Senin Besok Dihantui Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Investor