Suara.com - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada Kamis (18/2/2016) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk 2016 menjadi 3,0 persen dari 3,3 persen, karena data mengecewakan, permintaan lamban, investasi lemah dan risiko tinggi ketidakstabilan keuangan.
"Risiko ketidakstabilan keuangan cukup besar," OECD yang beranggotakan 34 negara mengatakan dalam prospek interim terbarunya, mendesak respon kolektif yang kuat untuk memerangi pelambatan pertumbuhan global, yang ia prediksi tidak akan melampaui 2015 yang sudah menunjukkan pucat pasi.
Lembaga yang berbasis di Paris itu memangkas prospek untuk tahun ini, karena pertumbuhan melambat di banyak negara-negara berkembang dan negara maju hanya diperkirakan mencapai pemulihan moderat setelah pada 2015 melihat pertumbuhan paling lambat dalam lima tahun.
Dalam prospek November, OECD telah menurunkan estimasi awalnya untuk 2016, mengutip stagnasi perdagangan di tengah pelambatan di Cina.
Tapi mengatakan, pihaknya merasa terdorong untuk membuat revisi turun lebih lanjut untuk tahun ini sementara juga merevisi turun proyeksi pendahuluan November untuk 2017 menjadi 3,3 persen dari 3,6 persen.
"Respon kebijakan kolektif lebih kuat diperlukan untuk memperkuat permintaan," kata organisasi, mencatat kebijakan fiskal "kontraktif" di banyak ekonomi besar di tengah pelambatan reformasi struktural.
Organisasi mengidentifikasi lebih lanjut risiko-risiko, karena volatilitas mata uang dan utang negara-negara berkembang, terutama di Rusia, Turki dan Brazil.
Hal itu menambah prospek pertumbuhan kian buruk yang menekan harga-harga ekuitas, membantu memicu volatilitas pasar yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir.
"Momentum reformasi struktural telah melambat," tambah OECD, mengidentifikasi kombinasi negatif yang mempengaruhi prospek global, karena harga bahan bakar dan komoditas dalam sebuah palung di tengah permintaan yang lesu, sementara Cina tetap terjebak "di gigi tiga".
"Kebijakan moneter tidak bisa bekerja sendiri" untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, OECD memperingatkan, karenanya organisasi memproyeksikan tingkat pertumbuhan "terendah dalam lima tahun terakhir dan jauh di bawah rata-rata jangka panjang." OECD mengatakan bahwa pertumbuhan relatif sehat di negara-negara berkembang di tahun-tahun sebelumnya sebagian mengompensasi pelambatan di negara-negara maju, saat ini tidak ada lagi.
"Pertumbuhan PDB global diproyeksikan tidak lebih tinggi dari 2015, pada kecepatan terendahnya dalam lima tahun terakhir," lembaga itu menyimpulkan.
Pada basis negara ke negara, OECD melihat pelemahan secara menyeluruh. Ia mengurangi perkiraan untuk Amerika Serikat sebesar 0,5 persen menjadi 2,0 persen. Untuk lokomotif ekonomi Uni Eropa, Jerman, pertumbuhannya dipangkas sebesar 0,5 persen menjadi 1,3 persen, dibandingkan dengan perkiraan pemerintah Jerman 1,7 persen.
Pemangkasan untuk Prancis lebih kecil hanya 0,1 persen menjadi 1,2 persen -- pemerintah Paris saat ini memperkirakan 1,5 persen.
Perkiraan untuk Cina tetap tidak berubah pada penilaian November di 6,5 persen, sementara India menikmati revisi kenaikan kecil 0,1 persen menjadi 7,4 persen.
Tetapi Brazil, terjun bebas setelah terpukul parah kejatuhan harga komoditas dan penurunan permintaan Tiongkok, diturunkan 2,8 persen menjadi kontraksi 4,0 persen. (Antara)
Berita Terkait
-
Ekonomi Global Masuk Fase 'New Normal' Krisis, Pemerintah Waspadai Ancaman ke Indonesia
-
Purbaya: APBN Tak Bisa Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan
-
Transaksi Olein Tembus Rp7,3 Triliun dan Timah Rp2,6 Triliun di Tengah Gejolak Global
-
Ekonomi Kreatif Disiapkan Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Jakarta, OJK Perkuat Akses Pembiayaan
-
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas