- Kondisi fiskal Indonesia akhir 2025 menunjukkan defisit APBN sedikit melebihi target awal, namun masih aman di bawah tiga persen PDB.
- Pertumbuhan ekonomi 2025 diproyeksikan ekonom antara 5,00 hingga 5,05 persen akibat konsumsi domestik yang belum pulih.
- Faktor pelemahan daya beli, realisasi belanja negara rendah, dan dampak bencana alam menahan laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Suara.com - Kondisi ekonomi Indonesia di penghujung tahun 2025 menjadi sorotan tajam para pakar dan pembuat kebijakan.
Fokus utama tertuju pada kemampuan pemerintah dalam mengelola fiskal di tengah tantangan konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih.
Meskipun dihadapkan pada sejumlah tekanan struktural, arah pertumbuhan ekonomi nasional masih menunjukkan resiliensi yang cukup stabil.
Salah satu instrumen penting yang dipantau adalah kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengakui adanya tantangan besar dari sisi penerimaan pajak yang sempat meleset dari target awal. Hal ini memberikan tekanan langsung pada postur anggaran negara.
Berdasarkan evaluasi hingga akhir Desember 2025, defisit APBN memang diproyeksikan sedikit membengkak dari target awal yang sebesar 2,78 persen.
Namun, pemerintah memastikan bahwa pelebaran ini masih berada dalam batas aman yang ditetapkan undang-undang, yakni di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Pemerintah tetap optimis bahwa melalui manajemen fiskal yang disiplin, performa ekonomi nasional akan tetap solid tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.
Proyeksi Pertumbuhan dan Realita Daya Beli
Baca Juga: Konflik AS-Venezuela, Purbaya: Hukum Dunia Aneh, PBB Lemah Sekarang
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memberikan proyeksi yang sedikit lebih konservatif dibandingkan target pemerintah.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 akan mendarat di kisaran 5,00 hingga 5,05 persen. Angka ini mencerminkan keseimbangan antara daya tahan pasar domestik dan beban struktural yang ada.
Wijayanto menyoroti beberapa faktor utama yang menahan laju pertumbuhan, di antaranya:
- Pemulihan Daya Beli yang Lamban: Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 terpantau lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi indikasi kuat masih lemahnya konsumsi masyarakat.
- Belanja Pemerintah: Realisasi belanja negara yang berada di bawah target turut mengurangi stimulus ekonomi di tingkat akar rumput.
- Faktor Alam: Banjir yang melanda wilayah Sumatera juga memberikan dampak negatif pada produktivitas dan distribusi logistik.
Sektor dunia usaha juga menunjukkan kewaspadaan yang tinggi. Pertumbuhan kredit modal kerja tercatat hanya tumbuh tipis sekitar 2 persen (yoy), sedangkan kredit konsumsi berada di angka 7 persen.
Data ini mengisyaratkan bahwa pada kuartal IV-2025, para pelaku bisnis cenderung menahan ekspansi besar-besaran karena ketidakpastian pendapatan di masa depan.
Indikator menarik lainnya datang dari sektor telekomunikasi. Wijayanto mengungkapkan bahwa konsumsi data pada tiga operator seluler terbesar nasional cenderung stagnan atau bahkan menurun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Inflasi Tinggi Mengancam di Awal 2026, Apa Dampaknya?
-
Nama-nama di Balik Bursa Kripto ICEX, Benarkah Ada Haji Isam dan Happy Hapsoro?
-
Dilema Pengetatan Defisit APBD 2026: Antara Disiplin Fiskal dan Risiko Penurunan Belanja
-
Kelanjutan Proyek PLTN Tinggal Tunggu Perpres dari Prabowo
-
Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia
-
Penggunaan SPKLU PLN Naik Hampir 500 Persen Saat Libur Nataru
-
Aturan Baru Soal Akuntan Dinilai Buka Peluang Kerja untuk Gen Z
-
Purbaya Siapkan Pembangunan Sekolah Terintegrasi Impian Prabowo, Apa Itu?
-
Ganti Jibor dengan INDONIA, BI Mau Buat Pasar Keuangan Lebih Transparan
-
Awas Bubble Pecah! Bahaya Mengintai saat IHSG Menuju Rp 10.000