Suara.com - Harga minyak berakhir lebih rendah pada Senin (Selasa pagi WIB), dipicu keraguan baru bahwa OPEC akan mengupayakan rencana pembekuan produksi di tengah kelebihan pasokan global, karena Iran mengindikasikan tidak siap untuk berkomitmen dalam waktu dekat.
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, merosot 1,32 dolar AS (3,4 persen) menjadi menetap di 37,18 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei, patokan Eropa untuk minyak, berakhir pada 39,53 dolar AS per barel, turun 86 sen (2,1 persen) dari penutupan Jumat.
Penurunan di pasar pada Senin, menyusul "rebound" pada Jumat, mencerminkan "kekhawatiran tentang apakah OPEC akan menggelar pertemuan gabungan," kata Phil Flynn dari Price Futures Group.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada Senin bahwa pertemuan OPEC dan produsen minyak non-OPEC untuk membahas kesepakatan pembekuan tingkat produksi, kemungkinan akan berlangsung pada April bukannya bulan ini, seperti perkiraan awal.
Rusia dan tiga produsen OPEC -- Arab Saudi, Venezuela dan Qatar -- mengatakan pada Februari bahwa mereka siap untuk membekukan produksi pada tingkat Januari jika negara-negara penghasil minyak lainnya bergabung dengan inisiatif mereka.
Tetapi Iran dikabarkan pada akhir pekan mengumumkan bahwa ia hanya akan bergabung dengan potensi pembatasan produksi setelah produksinya mencapai tingkat pra-sanksi 4,0 juta barel per hari (bph).
"Posisi Iran adalah bahwa negaranya perlu untuk mengambil tingkat produksi pra-sanksi dalam kerangka kuota OPEC," kata Novak. "Negara ini bisa bergabung membekukan nanti." Menurut laporan bulanan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang dirilis pada Senin, Iran memproduksi 3,1 juta barel minyak mentah per hari pada Februari, naik dari 2,9 juta pada Januari.
Secara keseluruhan produksi oleh kartel 13 negara itu turun 175.000 barel per hari pada Februari menjadi rata-rata 32,28 juta barel per hari, terutama karena penurunan tajam di Irak dan karena karena tingkat produksi lebih rendah di Nigeria dan Uni Emirat Arab, kata laporan itu. (Antara/AFP)
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Moody's Turunkan Outlook Peringkat Indonesia ke Negatif
-
BCA Wanti-wanti Gen Z: Hati-hati Beli Rumah Pakai KPR
-
Purbaya Datangi Perusahaan China Pengemplang Pajak, Rugikan Negara hingga Rp 5 T
-
Kecelakaan Maut di IUP Bukit Asam, Kementerian ESDM Terjunkan Tim Investigasi
-
Sempitnya Peluang Ekonomi RI, Saat Gelar Sarjana 'Keok' oleh Lulusan SD
-
Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Cuma 5,11 Persen, Purbaya Akui Tak Sesuai Janji
-
Juda Agung Bocorkan Tugas dari Prabowo usai Dilantik Jadi Wamenkeu Baru Pendamping Purbaya
-
Latar Belakang Juda Agung: Wamenkeu Baru Pernah Jabat Direktur IMF
-
7 Rekomendasi Dompet Digital Terbaik untuk Transaksi dari Luar Negeri
-
Dear Pak Prabowo! 23 Juta Rakyat RI Hidup Miskin, Mayoritas di Pulau Jawa