Suara.com - Harga minyak dunia berakhir jatuh pada Senin (Selasa pagi WIB), di tengah kekhawatiran tentang peningkatan persediaan AS dan Arab Saudi melaporkan segera menyelesaikan proyek perluasan ladang minyak utama, sehingga berpotensi menambah pasokan global yang berlimpah.
Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni, turun 1,09 dolar AS (2,5 persen) menjadi ditutup pada 42,64 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juni, patokan Eropa, berakhir di 44,48 dolar AS per barel, turun 63 sen (1,4 persen) dari penutupan Jumat pekan lalu.
Kedua kontrak telah mencatat kenaikan mingguan selama tiga minggu terakhir.
Phil Flynn dari Price Futures Group mencatat bahwa harga bergerak antara keuntungan dan kerugian pada Senin dalam volume ringan. "Mereka berbalik lebih rendah ketika Genscape, periset swasta, menyatakan peningkatan pasokan minyak mentah di Cushing, Oklahoma," kata Flynn.
Pasokan minyak mentah komersial AS saat ini mendekati tingkat tertinggi dalam sejarah dan para pedagang terus mengamati tingkat di terminal minyak Cushing, di mana persediaan dijadikan sebagai dasar harga untuk kontrak WTI. Departemen Energi AS melaporkan persediannnya pada Rabu.
Harga minyak turun pada Senin setelah data menunjukkan persediaan di sebuah pangkalan penyimpanan utama untuk minyak mentah AS naik tajam.
Perusahaan intelijen pasar Genscape mengatakan pada Senin bahwa stok di titik pengiriman Cushing, Oklahoma untuk minyak mentah berjangka AS naik 1.549.705 barel dalam pekan sampai 22 April.
Sementara Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan minyak milik negara Saudi, Aramco, akan menyelesaikan perluasan ladang minyak Shaybah pada akhir Mei, yang memungkinkan eksportir terbesar di dunia itu mempertahankan total kapasitas 12 juta barel per hari. Langkah ini akan meningkatkan kapasitas Shaybah dari 750.000 barel menjadi 1,0 juta barel per hari.
Laporan tersebut menimbulkan "kegelisahan pasar", kata Bernard Aw, analis IG Markets di Singapura.
"Jika Saudi meningkatkan produksi dengan jumlah yang cukup besar, tingkat harga 40 dolar AS akan mudah dipecahkan. Itu menciptakan masalah yang kita bahkan tidak akan melihat penyeimbangan kembali pasar minyak, bahkan pada paruh pertama tahun depan," katanya kepada AFP.
Secara terpisah Arab Saudi mengumumkan rencana reformasi luas untuk untuk menghentikan ketergantungan ekonominya pada minyak. Langkah-langkah termasuk penawaran umum saham mungkin kurang dari lima persen dari Aramco, yang seorang pangeran terkemuka katakan bernilai total dua triliun hingga 2,5 triliun dolar AS. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Danantara Disebut Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia, Siap Akhiri Era Inefisiensi BUMN
-
IHSG Terpeleset Jatuh di Sesi I, 421 Saham Turun
-
Reli Lima Hari Beruntun, Saham BBRI Terus Menguat Tak Terbendung
-
Hak Jawab Kemenperin untuk Berita tentang Komentar Menperin soal PHK di Industri Tekstil dan Plastik
-
59 Persen Emiten Sudah Penuhi Aturan Free Float, PANI, BREN dan HMSP Belum
-
Purbaya Siapkan Program Stimulus di Q2 2026, Incar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen
-
Duit Negara 'Ludes' Rp34 Triliun dalam Sebulan! Bank Indonesia Akhirnya Buka Suara!
-
Sektor F&B Jadi Tulang Punggung Manufaktur, Intip Peluangnya di CBE 2026
-
OJK Blokir Rp614,3 Miliar Dana Penipuan, Ratusan Ribu Rekening Terdeteksi Ilegal
-
Antisipasi Karhutla, APP Group Kedepankan Deteksi Dini dan Kolaborasi