Suara.com - PT Bank Central Asia Tbk mencatatkan keuntungan bersih sebesar Rp4,5 triliun pada triwulan I 2016. Ini berarti keuntungan BCA tumbuh 11,1 persen dibandingkan periode sama pada 2015 yang sebesar Rp4,1 triliun.
Laba emiten berkode BBCA itu ditopang pendapatan operasional yang naik 17 persen menjadi Rp12,8 triliun pada triwulan I 2016. Dalam pendapatan operasional itu, BCA mengantongi pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Rp9,7 triliun yang tumbuh 14,0 persen secara tahunan (year on year).
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam keterangannya Rabu (27/4/2016) petang, mengatakan bahwa penopang saluran kredit adalah sektor korporasi yang naik 18 persen menjadi Rp129,4 triliun. Pertumbuhan sektor korprasi itu menyusul peralihan beberapa debitur baru korporasi, meskipun pemulihan ekonomi domestik belum bergerak cepat.
"Kami perlu akui, meski ekonomi sewaktu 2015 melambat, banyak yang datang ke BCA untuk sektor korporasi, seiring banyak juga pergeseran dari pembiayaan valuta asing ke rupiah," ujar Jahja.
Total portofolio kredit BCA hingga triwulan I 2016 sebesar Rp373,7 triliun, dengan kredit komersial dan UKM sebesar Rp142,3 triliun atau tumbuh 5,9 persen, kredit konsumer sebesar Rp102,1 triliun atau tumbuh 10.9 persen. Sedangkan kredit kepemilikan rumah (KPR) sebesar Rp 59,89 triliun atau tumbuh 9,3 persen dan kredit kendaraan bermotor sebesar Rp32,7 triliu atau tumbuh 13,8 persen.
Dengan ekspansinya saluran kredit, BCA mencatatkan kenaikan marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) menjadi 7 persen dari 6,7 persen pada akhir 2015. Menurut Jahja, kenaikan NIM itu bukan karena adanya kenaikan bunga kredit, melainkan strategi perseroan mendapat keuntungan dari penanaman dana di Sertifikat Bank Indonesia, pasca-peralihan dari pasar SWAP yang mengalami penurunan imbal hasil.
"Kalo secara tahunan memang naik kredit, namun kalau dibandingkan Desember 2015, kredit kita secara nominal turun Rp14 triliun natau 3,4 persen," ujarnya.
Atas dasar itu pula, Jahja tidak berani sesumbar untuk meningkatkan target pertumbuhan kredit, meskipun di tiga triwulan mendatang, pemerintah dan Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian domestik akan membaik. BCA tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit di 8-10 persen.
Sejalan ekspansi kredit, rasio pembiayaan bermasalah juga naik dari 0,7 persen menjadi 1,1 persen per akhir triwulan I 2016. Jahja menjelaskan, kenaikan NPL itu karena macetnya kredit dari sebuah nasabah korporasi yang menarik pembiayaan hingga Rp500 miliar, selain karena faktor alamiah lain yakni masih lesunya perekonomian diomestik.
Di luar pendapatan bunga bersih, BCA meraup pendapatan non bunga sebesar Rp3,06 triliun atau tumbuh 24 persen secara tahunan.
Dengan capaian laba di triwulan I 2016, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BCA sebesar 20 persen. Sedangkan intermediasi perseroan yang terindikasi dari rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Funding Ratio/LFR) sebesar 78,9 persen. LFR yang relatif kecil itu dibanding bank lain, menandakan masih melonggarnya likuiditas BCA.
"Maka dari itu kita belum rencana terbitkan obligasi, likudiitas kita masih banyak," ujar Jahja.
Adapaun Dana Pihak ketiga BCA tumbuh 5,7 persen manjadi Rp470,4 triliun di triwulan I 2016. Sedangkan Rasio Biaya terhadap Pendapatan (Cost to Income Ratio) sebesar 69,7 persen. Hingga akhir triwulan I 2016, aset BCA tercatat Rp603,4 triliun atau tumbuh 8,2 persen secara tahunan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Cek Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA Hari Ini
-
Rupiah Melemah, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
OJK Desak Perbankan Segara Tutup Ribuan Rekening Judi Online
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
-
Rupiah Masih Lemas, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
NWP Property Operasikan PLTS Atap di Empat Pusat Perbelanjaan
-
Pemerintah Mau Guyur Dana Rp 6 Miliar Buat Hidupkan Industri Tekstil
-
Tata Kelola Jadi Kunci Kepercayaan di Ekosistem Venture Capital
-
Pelaku Industri Keluhkan Kuota PLTS Atap Masih Jadi Hambatan
-
Shell, BP dan Vivo Diminta Bernegosiasi dengan Pertamina untuk Beli Solar
-
ESDM Beberkan Sosok Perusahaan Pemenang Tender Pembangunan WKP Telaga Ranu
-
CEO Danantara: 1.320 Huntara Bakal Diserahkan ke Korban Banjir Sumatera Besok
-
Perusahaan Dompet Digital Mulai Sasar Segmen Olah Raga
-
Pemerintah Buka Seluasnya Akses Pasar Ekspor untuk Redam Gejolak Ekonomi Global
-
Menko Airlangga Sebut Presiden Lebih Pilih Terapkan B40 Tahun Ini