Suara.com - Ketua Bidang Ekonomi, Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup DPP PKS Memed Sosiawan melihat fenomena kentang yang harganya masih stabil tinggi itu hal yang logis, namun ada unsur politik impor.
"Ini logis tapi ada unsur politis impor. Indonesia dengan penduduk besar kebutuhan pangan sangat besar, sementara lahan untuk pangan sangat terbatas dan menyempit akibat alih fungsi lahan. Dengan sempitnya lahan ini terjadi trade off antar komoditas pangan. Dengan lahan seperti saat ini, petani dan teknologi seperti saat ini juga trade off itu akan abadi. Kita genjot produksi padi dan jagung, kedelai tidak kebagian lahan; kita hanya perhatian pada cabai dan bawang, maka kentang dan komoditas lainnya keteteran," kata Memed di Jakarta, Jumat (19/8/2016).
Fenomena trade off, kata dia, terefleksi selalu ada komoditas yang tidak stabil atau harga naik, tergantung apa yang ditanam petani. Instabilitas harga terjadi karena demand "relatif konstan" yakni bergantung pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, sementara supply bergantung pilihan petani.
"Lalu bagaimana? Ya lahan pertanian dalam hal ini pangan harus bertambah. Permasalahan sebenarnya adalah Indonesia memiliki besar sekali lahan yang cocok untuk pertanian (pangan), namun hampir semua berada di kawasan hutan yang secara undang-undang dan peraturan yang ada masih sangat sulit untuk dialihkan dari kawasan hutan ke kawasan pangan, ini yang harus diperjuangkan para anggota parlemen. Di sisi lain, dalam waktu 10 tahun terakhir lahan perkebunan sawit bertambah dari sekitar empat juta hektar menjadi lebih dari 10 juta hektar," kata dia.
Tentang trade off komoditas, kata dia, juga dipengaruhi perubahan iklim dimana tahun ini diramalkan terjadi lanina. Juli-Agustus biasanya kemarau, sekarang banyak hujan yang berakibat turunnya produksi khususnya untuk komoditas sayuran karena banyak penyakit.
"Fenomena-fenomena di atas tampaknya terjadi pada kentang, karena fokus perhatian pemerintah tertuju pada komoditas-komoditas pangan strategis yakni komoditas yang berpengaruh kuat pada tingkat inflasi. Situasi ini pastinya mendorong importir untuk memainkan tabiatnya dan dengan dukungan media tentu diharapkan terkabullah hasratnya. Sinergi tersebut dijalankan mengingat pemerintah saat ini, terutama Mentan, sangat ketat dalam mengendalikan impor," kata Memed.
Tag
Berita Terkait
-
Menggali Manfaat Kentang, Kenali Potensi Nutrisi di Balik Sumber Karbohidrat Ini
-
Rekomendasi Game Balap Ringan Android, Cocok untuk HP Kentang
-
Kentang: Si Bulat Sederhana yang Diam-Diam Penyelamat Dunia
-
Jangan Nekat! Ini Daftar Makanan yang Berbahaya kalau Dimakan Mentah
-
Promo Akhir Pekan di Superindo! Diskon Frozen Food, Buah Segar, dan Ikan: Gratis Bakar/Goreng
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Tangani Dampak Longsor dan Banjir, Kementerian PU Pastikan Akses Jalan di Sumut Segera Pulih
-
Konsumsi Pertamax Melonjak 20 Persen Sepanjang 2025, BBM Ramah Lingkungan Makin Diminati
-
Rem Darurat Pinjol! OJK Batasi Utang Maksimal 30% Gaji Mulai 2026
-
Aset Pengguna Tokocrypto Tembus Rp5,8 Triliun, Diaudit Teknologi Canggih!
-
Harga Pangan Nasional Terus Melandai, Cabai hingga Bawang Merah Kompak Turun
-
BRI Peduli Berdayakan Penyandang Disabilitas Lewat Pelatihan dan Pemagangan Strategis
-
Harga Minyak Melandai: Antara Krisis Iran dan Ekspor Baru Venezuela
-
Rupiah Melemah, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
Aturan Asuransi Kesehatan Dibuat, OJK Tetapkan Aturan Co-Payment Jadi 5 Persen
-
Awal Pekan, Rupiah Dibuka Suram ke Level Rp16.839 per Dolar AS