Bisnis / Keuangan
Senin, 12 Januari 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah dibuka pada Rp16.839 per dolar AS pada Senin (12/1/2026), melanjutkan pelemahan selama tujuh hari berturut-turut.
  • Mata uang Asia menunjukkan pergerakan bervariasi; Baht Thailand menguat signifikan, sementara Won Korea Selatan melemah terdalam.
  • Pelemahan rupiah dipicu sentimen domestik menanti data ritel, meski ada potensi penguatan akibat isu Powell.

Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum pulih pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Senin (12/1/2026) dibuka pada level Rp16.839 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan ini membuat mata uang garuda sudah sakit selama 7 hari berturut-turut.

Alhasil, rupiah melemah 0,12 persen dibanding penutupan pada Jumat yang berada di level Rp 16.819 dolar AS. Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.834 per dolar AS.

Saat ini, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Salah satunya, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,28 persen.

Selanjutnya, ada dolar Singapura yang terkerek 0,13 persen. Disusul, yen Jepang dan ringgit Malaysia yang sama-sama menanjak 0,09 persen.

Berikutnya, peso Filipina terlihat terangkat 0,07 persen dan yuan China menguat tipis 0,03 persen di pagi ini.

Ilustrasi Won Korea. [Pixabay]

Sedangkan won Korea Selatan kembali jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,2 persen.

Kemudian ada dolar Taiwan yang turun 0,05 persen dan dolar Hongkong yang melemah tipis 0,006 persen terhadap the greenback.

Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah seiring dengan sentimen dalam negeri. Sebab, investor menunggu data penjualan ritel di Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban

"Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS yang masih menguat merespon data-data ekonomi AS pada hari Jumat yang secara umum lebih kuat dari perkiraan. Investor menantikan data penjualan ritel Indonesia pagi ini," katanya saat dihubungi Suara.com.

Namun, investor masih mendalami dampak dari perkembangan terbaru akan penyelidikan kriminal oleh DoJ terhadap Powell. Hal ini bisa membuat rupiah berpeluang menguat.

"Penyidikan kriminal oleh DoJ terhadap Powell menekan dolar AS dan bs sedikit mendukung rupiah. Range Rp16.750-Rp16.850," jelasnya.

Load More