- Rupiah dibuka pada Rp16.839 per dolar AS pada Senin (12/1/2026), melanjutkan pelemahan selama tujuh hari berturut-turut.
- Mata uang Asia menunjukkan pergerakan bervariasi; Baht Thailand menguat signifikan, sementara Won Korea Selatan melemah terdalam.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen domestik menanti data ritel, meski ada potensi penguatan akibat isu Powell.
Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum pulih pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Senin (12/1/2026) dibuka pada level Rp16.839 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini membuat mata uang garuda sudah sakit selama 7 hari berturut-turut.
Alhasil, rupiah melemah 0,12 persen dibanding penutupan pada Jumat yang berada di level Rp 16.819 dolar AS. Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.834 per dolar AS.
Saat ini, pergerakan mata uang di Asia bervariasi. Salah satunya, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,28 persen.
Selanjutnya, ada dolar Singapura yang terkerek 0,13 persen. Disusul, yen Jepang dan ringgit Malaysia yang sama-sama menanjak 0,09 persen.
Berikutnya, peso Filipina terlihat terangkat 0,07 persen dan yuan China menguat tipis 0,03 persen di pagi ini.
Sedangkan won Korea Selatan kembali jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,2 persen.
Kemudian ada dolar Taiwan yang turun 0,05 persen dan dolar Hongkong yang melemah tipis 0,006 persen terhadap the greenback.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah seiring dengan sentimen dalam negeri. Sebab, investor menunggu data penjualan ritel di Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
"Rupiah diperkirakan berpotensi melemah terhadap dolar AS yang masih menguat merespon data-data ekonomi AS pada hari Jumat yang secara umum lebih kuat dari perkiraan. Investor menantikan data penjualan ritel Indonesia pagi ini," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, investor masih mendalami dampak dari perkembangan terbaru akan penyelidikan kriminal oleh DoJ terhadap Powell. Hal ini bisa membuat rupiah berpeluang menguat.
"Penyidikan kriminal oleh DoJ terhadap Powell menekan dolar AS dan bs sedikit mendukung rupiah. Range Rp16.750-Rp16.850," jelasnya.
Berita Terkait
-
Catatan Buruk Rupiah di 2025: Sempat Tembus Rp16.800, Menjadi Mata Uang Terlemah Kedua di Asia
-
Rupiah Konsisten Menguat, Dolar AS Loyo ke Level Rp16.773
-
Rupiah Perkasa di Selasa Pagi, Tembus Level Rp 16.781
-
Setelah Libur Panjang, Rupiah Ditutup Lesu di Level Rp 16.788
-
Rupiah Alami Tekanan dari Kebijakan Pemerintah, Dolar AS Perkasa Tembus Rp16.773
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Pemerintah Siapkan Insentif ETF Emas, Bursa Mineral, Hingga Demutualisasi
-
Jumlah Saham HSC Membengkak Jadi 51 Emiten Pasca Pengesahan Aturan Baru BEI
-
Rombak Aturan Pasar Modal, OJK Target Demutualisasi Tuntas September 2026
-
Saham HSC Dilarang Masuk LQ45, Puluhan Emiten Jumbo Kena Dampak!
-
Analis Sebut IHSG Seharusnya Jauh Lebih Tinggi, Ini Alasannya
-
Purbaya Minta Investor Beli Saham dan Jual Dolar, Klaim Ekonomi RI Mulai Diakui Internasional
-
Purbaya Girang S&P Pertahankan Rating Indonesia: Bukan Indonesia Cemas tapi Indonesia Emas
-
Inflasi Juli 2026 Naik ke 3,34%, Tiket Pesawat hingga Harga Beras Jadi Pemicu
-
Amman Mineral Bidik Produksi 16 Ton Emas dan 162.000 Ton Tembaga di 2026
-
Alasan Pemerintah Optimis Inflasi Mereda, Mendagri Singgung Harga BBM