Melanjutkan kunjungan kerja di Jepara, Jawa Tengah, kemarin, Minggu (23/10/2016), Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita meninjau gudang Sistem Resi Gudang (SRG) di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Mendag minta peran SRG dioptimalkan keberadaannya agar semakin memberikan manfaat.
"Di Jepara, petani/pelaku usaha masih terbatas memanfaatkan SRG. Pemerintah harus berupaya menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat dan para stakeholders untuk memnfaatkan SRG," tegas Mendag Enggar.
Melihat kondisi SRG di Jepara, Mendag mengatakan perlu dilakukan penguatan kelembagaan SRG, mendorong perbankan agar lebih aktif, meningkatkan fasilitas gudang, serta menyinergikan pasar lelang dengan SRG. "Saat ini, salah satu tantangan yang dihadapi yaitu masih terbatasnya infrastruktur pengolahan komoditas hasil panen di sekitar lokasi gudang SRG,” katanya.
Fasilitas yang dimiliki gudang SRG Kabupaten Jepara saat ini cukup memadai, antara lain mesin pengering dan lantai jemur. Namun demikian, masih dibutuhkan fasilitas tambahan seperti mesin pengolahan komoditas dan sarana transportasi. SRG, lanjut Enggar, tidak hanya sebagai sarana penyimpanan komoditas. “Keberadaan SRG harus bisa menjadi sarana pemberi nilai tambah komoditas dengan biaya yang ekonomis. Selain itu juga dapat mengurangi keterikatan petani pada tengkulak/pengijon,” lanjut Enggar.
Sementara itu, mengenai Pasar Lelang Komoditas (PLK), petani masih sulit mengakses secara langsung pasar komoditas yang ada. Mereka terbiasa menggunakan perantara sehingga harga yang diperoleh tidak maksimal. Untuk itu, Enggar juga menekankan bahwa fungsi PLK perlu disinergikan dengan SRG. Mengenai penguatan kelembagaan, SRG di Kabupaten Jepara perlu ditingkatkan pada aspek pengelola gudang. “Pengelolaan gudang SRG di Jepara akan dilakukan oleh pengelola gudang lokal atau dapat pula dilakukan oleh koperasi/BUMD. Selain itu, penguatan kelembagaan kelompok tani juga harus terus dilakukan,” ujar Enggar.
Gudang yang saat ini dimanfaatkan sebagai gudang SRG di Kabupaten Jepara merupakan gudang milik Pemerintah Daerah yang dibangun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perdagangan dengan Dana Stimulus Fiskal Tahun 2009. Gudang tersebut mulai beroperasi sebagai gudang SRG sejak tahun 2011 dengan PT Pertani sebagai pengelola gudangnya. Dengan luas 720 m2, gudang ini dapat menampung komoditas 1.500 ton gabah, beras, dan jagung. Namun, sejak 2011-2016 gudang SRG Kabupaten Jepara baru dimanfaatkan untuk komoditas gabah.
“Sistem resi gudang ini bermanfaat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menyejahterakan petani. Karenanya, harus dimanfaatkan secara optimal,” kata Enggar.
Sekilas Mengenai SRG
Sistem Resi Gudang (SRG) merupakan salah satu instrumen perdagangan yang dapat dimanfaatkan para petani, kelompok tani, gapoktan, koperasi tani, maupun pelaku usaha (pedagang, prosesor, pabrikan) sebagai instrumen tunda jual dan pembiayaan perdagangan. Melalui SRG, para petani dapat menyimpan komoditas hasil panennya ketika harga rendah, untuk kemudian dijual pada saat harga tinggi sehingga petani yang selama ini dalam posisi termarginalkan dapat memiliki daya tawar yang lebih kuat. SRG diharapkan juga memiliki peranan dalam mewujudkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan.
Dalam upaya mendorong pelaksanaan SRG, sejak 2009-2015, Pemerintah telah membangun 120 gudang komoditas pertanian, namun baru 80 gudang yang telah memiliki kelengkapan untuk mendapatkan persetujuan (antara lain sertifikasi dan peralatan pendukung) sebagai gudang SRG. Sedangkan, sisanya sebanyak 40 gudang masih belum aktif. Secara keseluruhan, Pemerintah sampai saat ini telah memberikan 128 persetujuan sebagai gudang SRG yang terdiri dari 80 gudang SRG milik pemerintah dan 48 gudang milik swasta. Sejak dimulai pada 2008, daerah pelaksanaan SRG yang awalnya di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Jombang semakin meluas, saat ini SRG telah diimplementasikan di 75 kabupaten/kota yang tersebar di 21 provinsi.
Secara kumulatif, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan sampai 30 September 2016 di gudang SRG milik pemerintah maupun swasta sebanyak 2.362 resi dengan total volume 86.725,56 ton senilai Rp485,7 miliar yang meliputi komoditas gabah, beras, jagung, kopi, rumput laut, dan rotan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Pemerintah Akan Larang Alih Fungsi Sawah, Sedang Siapkan Sanksi
-
Mentan Optimistis Stok Pangan Aman Hadapi Fenomena El Nino Godzilla
-
Beredar Info Harga Pertamax Tembus Rp17.850 per Liter 1 April, Pertamina: Belum Pasti
-
Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang
-
Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko
-
Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia
-
Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam
-
RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea
-
Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina