Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selasa (1/11/2016) ditutup turun sebesar 6 poin atau 0,12 persen ke level 5.416 setelah bergerak di antara 5.415-5.439. Sebanyak 125 saham naik, 180 saham turun, 89 saham tidak bergerak. Investor bertransaksi Rp 6.974 triliun. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi beli bersih (net sell) Rp 91 miliar.
Penjelasan tersebut tertuang dalam keterangan resmi Direktur PT Investa Saran Mandiri, Hans Kwee, Rabu (2/11/2016).
Pasar Amerika berakhir melemah seiring berita pemilu belakangan ini dan pertemuan Federal Reserve membuat investor was-was. Investor juga fokus terhadap the Fed, seiring bank sentral memulai pertemuan 2-harian pada hari Selasa. Sementara bank sentral diperkirakan akan mempertahanakn suku bunga, ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga di bulan Desember lebih dari 70 persen.
"Dow Jones melemah 0,58 persen ke level 18,037. Nasdaq melemah 0,72 persen ke level 4,766 dan S&P melemah 0,68 persen ke level 2,111," kata Hans.
Pasar Eropa kembali ditutup melemah setelah investor kembali mencerna corporate earnings dan menantikan hasil keputusan Federal Reserve pada hari Rabu (2/11/2016), terkait tingkat suku bunga AS. Sementara ini investor masih menantikan hasil pemi-lu AS yang akan dilaksanakan minggu depan tanggal 8 November 2016. Investor percaya bahwa ketidakstabilan perpolitikan AS ini berpotensi menggerakkan perekonomian dunia, termasuk Eropa.
"FTSE melemah 0,53 persen ke level 6,917, CAC melemah 0,86 persen ke level 4,470 dan DAX melemah 1,30 persen ke level 10,526," tutup Hans.
Badan Pusat Statistik (BPS) melihat inflasi di akhir tahun ini bisa dijaga di bawah level 4 persen. Namun, pemerintah harus mewaspadai potensi lonjakan inflasi. Meski demikian, Diputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan, pemerintah masih harus mewaspadai sejumlah komponen yang berpotensi mengerek inflasi akhir tahun. Ia mengatakan, pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga beras di November dan Desember.
Ke depan beras akan naik terus karena sudah lewat musimnya. Tak hanya itu, pemerintah juga perlu mewaspadai potensi berlanjutnya kenaikan harga cabai merah. Sebab, cabai merah memberikan andil 0,7 persen terhadap inflasi nasional. Selain itu, potensi kenaikan tarif transportasi umum baik darat maupun udara juga perlu diwaspadai seiring dengan musim Natal dan tahun baru. Ia memperkirakan, inflasi akhir tahun ini bisa berada di kisaran 3,5 persen, bahkan lebih rendah dari itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
IES 2026 Menjadi Ruang Dialog Ekonomi, Energi, dan Daya Saing Indonesia
-
Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
-
Permintaan Obligasi Indonesia Turun ke Titik Terendah dalam Setahun Terakhir
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Pertamina Gagalkan Pencurian 10 Ton Minyak Mentah di Prabumulih
-
Arief Muhammad Rambah Bisnis Baru, Portofolio Usaha Makin Besar
-
Pandu Sjahrir Beberkan Mekanisme Danantara Investasi di Pasar Saham
-
Danantara Tak Mau Ikut Campur Soal Saham Gorengan yang Diusut Bareskrim
-
Tak Lagi Andalkan Listrik, Bisnis Beyond kWh Didorong Jadi Sumber Pertumbuhan
-
Setelah Perbaiki KRAS, Danantara Bangun Pabrik Baja Baru