Hingga saat ini, PT Freeport Indonesia belum juga merealisasikan komitmennnya untuk membangun fasilitas pemurnian mineral mentah (smelter). Padahal, padar pemegang Kontrak Karya seperti PT Vale ( ex Inco ) dan PT Amman Mineral Sumbawa (ex Newmont ) bersikap patuh mengikuti kewajiban dalam UU Minerba nomor 4 tahun 2009.
"Mereka sudah mulai membangun serta berkomitmen membangun smelter dan telah memenuhi kewajiban divestasinya, sesuai isi kontrak Karya pasal 10 ayat 5 dan pasal 24, dan pasal 13 soal royalti dan pajak pajak diangap tetap. Ini contoh ketidak adilannya PT FI masih membayar royalti emas 1 persen sementara BUMN PT Antam membayarnya 3, 75 persen," kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman, saat dihubungi Suara.com, Minggu (2/4/2017).
Yusri menegaskan bahwa sesungguhnya UU Minerba itu lebih kepada penegaskan dari isi kontrak karya juga, bukanlah suatu penyimpanganya.
Sampai saat ini ada sekitar 28 pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) sudah membangun smelter dan bahkan banyak yang sudah beroperasi. "Hal ini semakin menguatkan kesimpulan bahwa PT Freeport Indonesia tidak punya itikat baik membangun smelter.
Sudah tentu sikap PT FI tidak mau membangun smelter dengan alasan harus ada kepastian perpanjangan izin operasi sampai dengan tahun 2041 adalah bagian strategi mengulur kewajibannya untuk memurnikan semua emas bebas yang diperoleh oleh proses penangkapan 14 unit konsertrator Knelasen terbesar didunia," ujar Yusri.
Penangkapan itu dilakukan menghindari emas bebas yang tidak bisa ditangkap dengan proses flotasi akan lolos bersama tailing, sedangkan penangkapan emas yang terinklusi pada mineral sufida tembaga diperoleh melalui proses pengapungan ( flotasi ) yang menghasilkan konsentrat yang sejumlah 40 persen dari keseluruhan konsentrat yang diproduksi PT FI diproses lanjut oleh smelter PT Smelting Gresik. Pemurnian tembaga dilakukan dengan cara elektoris, terbukti berhasil memaksimalkan konsentrat menjadi tembaga murni sebanyak 300.000 ton pertahun dan 2000 ton lumpur anoda pertahun dan unsur unsur mineral ikutan dalam larutan konsentrat yang merupakan produk samping adalah gypsum untuk bahan baku pabrik semen Gresik dan Asam Sulfat sebagai bahan baku PT Pertokimia Gresik.
Kalaulah diasumsikan saja ada 2 persen kandungan emas dari lumpur anoda dari hasil proses smelter dari PT Smelting gresik , maka diduga akan menghasilkan emas sebesar 2 persen X 2000 ton anoda lumpur = 40 ton emas dari 40 persen konsentrat dari total konsentrat milik PT FI yang diolah di smelter Gresik. Maka kalau ditambah potensi emas dari 60 persen konsentrat yang diekspor dan proses pemurniannya di smelter Jepang dan lainnya, dengan ditambah emas bebas yang berhasil ditangkap oleh 14 unit konsetrator Knelson yang beroperasi dilokasi tambang PTFI.
Maka tak salah publik menduga duga ada potensi emas 100 ton pertahunnya dihasilkan dari lokasi tambang PT FI. Padahal deposit bijih tembaga Gresberg terbentuk pada batuan terobosan dengan batuan samping berupa batugamping, sehingga mineral mineral sulfida penyusun cebakan bijih tembaga porfiri Cu -Au Grasbeg terdiri dari bornit ( Cu5FeS4), kalkosit ( Cu2S), Kalkopirit ( CuFeS2), digenit ( Cu2S5), dan pirit ( FeS2), dan emas umumnya terdapat sebagai inklusi didalam mineral sulfida tembaga.
Di beberapa bagian tubuh bijih konsentrasi emas terdapat bersamaan dengan kehadiran mineral pirit. Apalagi PT FI saat ini sudah bergerak menambang kelokasi semakin dalam dengan tambang bawah tanah, karena sudah semakin dekat ketubuh batuan terobosannya, maka akan diperoleh kadar kandungan emas, tembaga dan perak lebih tinggi dibandingkan diperoleh dari bijih yang berada lebih jauh dari kontak dengan batuan terobosannya.
Baca Juga: Pemerintah Dikritik Lemah Sikapi Lambannya Smelter Freeport
Atas dasar itulah, Yusri mengaku pesimis PT Freeport Indonesia akan mudah melepas 10,64 persen sahamnya dengan harga yang sesuai dengan kemauan pemerintah. Menurutnya, daripada membuang waktu meminta konsorsium BUMN tambang membeli saham Freeport, lebih baik Pemerintah menugaskan Konsorsium BUMN tambang (PT Inalum, PT Antam, PT Bukit Asam dan PT Timah) bersama PT Perokimia Gresik dan PT Semen Indonesia untuk membangun smelter. Tujuannya untuk menampung konsentrat dari tambang PT FI maupun dari tambang lainnya diseluruh Indonesia.
"Apakah kita masih harus terus belajar kepada negara kecil tetangga kita Singapore yang tidak mempunyai sumber migasnya , akan tetapi sejak lama mereka membangun kilang minyak dengan kapasitas 1,5 juta barel perhari dan Negara kitapun sampai saat ini sangat tergantung disuplai dari negara tersebut," tutup Yusri.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Riset Danareksa: Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh di Kuartal I, Ditopang Konsumsi Rumah Tangga
-
Telkom dan PGN Perkuat Ekosistem Green Digital Infrastructure Terintegrasi Bersama Mitra Global
-
ADB Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen di 2026
-
Penerimaan Pajak dari MBG Cuma 3-5 Persen, Setara Rp 10,05 T hingga Rp 16,75 T
-
Toko Online Dibanjiri Produk China, Purbaya Mau Tarik Pajak E-commerce Pertengahan 2026
-
Negosiasi Buntu, Iran ke AS: Rasakan Harga Bensin Kalian!
-
Komitmen Nyata BRI Group, Sinergi Holding UMi Perkuat Fondasi Ekonomi Masyarakat
-
Purbaya Kesal Restitusi Pajak 2025 Tembus Rp 360 Triliun, Duga Ada Kebocoran
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Karpet Merah Family Office di Bali: Ambisi Prabowo, Warisan Luhut, dan Kiblat Abu Dhabi