Krisis harga minyak global yang tengah terjadi telah membawa efek domino ke berbagai sektor di Indonesia antara lain melambatnya pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah, macetnya industri penunjang migas, pengurangan tenaga kerja hingga dampak-dampak sosial lainnya dalam masyarakat. Data dari SKK Migas menunjukkan angka investasi hulu migas di Indonesia terus menurun tajam, dari sebesar 15,34 milyar dollar AS di tahun 2015 menjadi 11,15 miliar dollar AS di tahun 2016.
"Ini menunjukkan terjadi penurunan investasi migas dalam kurun waktu setahun sebesar 27 persen," kata Marjolijn Wajong, Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) di Jakarta, Rabu (10/5/2017).
Pemerintah dan semua pihak yang terkait memiliki peran penting untuk segera mengambil tindakan yang tepat, sehingga Indonesia dapat terhindar dari krisis energi yang lebih luas dan berkepanjangan. Solusi yang lengkap dan jangka panjang yang dimulai dengan reformasi kebijakan yang sesuai tujuan sangat diperlukan.
“Saya harus menekankan betapa mendesaknya kondisi saat ini. Tidak ada penemuan ladang minyak baru yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas eksplorasi akan memukul kemampuan produksi migas Indonesia di masa mendatang. Penurunan produksi akan bertambah buruk bila kita hanya bergantung pada daerah produksi yang sudah berjalan. Kita perlu menemukan cadangan migas baru di lokasi baru. Untuk itu kita membutuhkan investasi yang sangat besar,” ujar Marjolin.
Presiden IPA Christina Verchere mengatakan bahwa Indonesia harus bersaing secara regional dan global untuk mendapatkan pendanaan untuk investasi saat ini. "Karena itu kondisi industri harus menarik bagi investor untuk mau berinvestasi di Indonesia,” ujar Chrsitina dalam kesempatan yang sama.
Dengan semangat tersebut Indonesia Petroleum Association (IPA), sebagai wadah perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia, akan mengadakan Konvensi dan Pameran IPA ke-41 pada tanggal 17-19 Mei 2017 di Jakarta Convention Center dengan tema “Accelerating Reform to Re-Attract Investment to Meet the Economic Growth Target”. Ajang IPA Convex ke-41 ini merupakan wadah yang akan mempertemukan pemimpin industri, pelaksana dan pengambil kebijakan, pemerintah dan para tenaga ahli yang berhubungan dengan industri migas, baik dari dalam maupun dari luar negeri.
"Tujuannya untuk bersama-sama mencari solusi yang dapat dilakukan untuk mendorong pertumbuhan dalam industri sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dalam berbagai sektor di Indonesia," tutup Marjolin.
Baca Juga: Tanpa Industri Migas, RI Kehilangan Rp300 Triliun Tiap Tahun
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Harga Minyakita Meroket, Mendag: Stoknya Memang Terbatas
-
IHSG Terus Memerah Hingga Akhir Perdagangan ke Level 7,621, Cek Saham yang Cuan?
-
Tak Cukup Kasih Modal, UMKM Perlu Akses Pasar Agar Naik Kelas
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
-
Gak Cuma Murah, Minyak Rusia Ternyata 'Jodoh' Buat Kilang Pertamina
-
OJK dan BEI Bongkar Data Pemilik Saham RI, Berharap Genjot Transparansi
-
Produksi Cat Nasional Tembus 1,5 Juta Ton, Pemerintah Soroti Pentingnya Keamanan Produk
-
Cara Perusahaan Asuransi Genjot Penetrasi Layanan
-
Direksi BUMN Karya Dipanggil Dony Oskaria Satu per Satu, Tentukan Nasib Restrukturisasi