Angka inflasi Mei 0,39 persen (mtm), 4,33 persen (yoy) dan 1,67 persen (ctc), Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan inflasi sampai akhir tahun mencapai 3,96 persen.
Anggota Komisi XI DPR RI, Donny Imam Priambodo menilai proyeksi inflasi dari BPS cukup optimis. Donny berharap semoga terealisir, karena resiko inflasi di semester ke-2 di tahun 2017 cukup besar yang berasal dari potensi adanya kebijakan kenaikan harga BBM dan LPG. Sementara, Bank Indonesia (BI) sendiri telah memperkirakan proyeksi inflasi 2017 berada di range 3 persen-5 persen atau 4 persen/-1 persen.
Adanya penghambat penurunan BI-7 dan RR, menurut Donny, perubahan policy rate sangat ditentukan oleh ekspektasi inflasi (khususnya inflasi inti) dan ekspektasi nilai tukar.
Donny menambahkan, perubahan ekspektasi masyarakat atas inflasi dan nilai tukar sangat ditentukan oleh banyak faktor di eksternal (terutama perekonomian AS dan China) dan domestik termasuk stabilitas sistem keuangan.
"Penurunan suku bunga relatif terhambat saat ini karena tekanan perkembangan global yang kuat (utamanya kenaikan FFR) dan domestik (seperti kenaikan harga BBM, tekanan fiskal, depresiasi Rupiah, NPL perbankan yang naik) berdampak pada gilirannya pada ekspektasi inflasi dan depresiasi yang tinggi," kata Donny di Jakarta, Minggu (4/6/2017).
Tingginya inflasi 2017, menurut politisi Nasdem itu disebabkan karena inflasi dari sisi kebijakan harga pemerintah di sektor energi yaitu kenaikan tarif listrik dan mungkin penyesuaian harga BBM dan LPG.
Oleh karena itu, upaya koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah yang perlu disegerakan di bidang pengendalian inflasi diarahkan paling tidak dengan menjaga inflasi pangan (volatile food) tetap rendah, misalnya di kisaran 4 persen-5 persen (dari perkiraan sekitar 7 persen-9 persen) sehingga dapat menekan total inflasi agar tidak terlalu tinggi.
"Pengendalian inflasi volatile food sangat penting terutama di masa puasa dan lebaran ini yang siklusnya meningkat," katanya.
Baca Juga: BI Sebut Inflasi Mei 2017 Sejauh Ini Terkendali
Hal itu dapat dicapai terutama dengan menjaga pasokan pangan antara lain meningkatkan produksi, melakukan impor dengan waktu yang tepat, memperlancar distribusi, pergudangan yang baik, dan lain-lain.
"Peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang terdiri dari Pemda, BI, lembaga terkait di daerah sangat penting untuk bersama-sama menjaga inflasi, khususnya pangan tetap rendah," terang Donny.
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
Tantrum Harga Minyak Meroket, Trump Cap NATO Pengecut Karena Tak Mau Ikut Buka Selat Hormuz
-
Pertamina Kawal Pemudik Lalui Jalur Non-Tol Pantura
-
Raksasa Migas Italia Finalisasi Proyek Gas Strategis di Kaltim
-
Pastikan Stok BBM Aman Selama Mudik, Wakil Menteri ESDM Kunjungi Rest Area 379 A Batang-Semarang
-
Cerita Ibu Eka Setelah Dua Tahun Menahan Rindu Kini Bisa Mudik Nyaman Bareng PNM
-
Menteri LH: PT Agincourt Resources Boleh Kelola Tambang Emas Martabe Lagi
-
Purbaya: Harga BBM Subsidi Tak Akan Naik Harga
-
Layanan BRI Lebaran 2026: Cukup Scan QRIS, Bisa Kirim THR dalam Hitungan Detik via BRImo
-
BRI Siap Sedia Layani Nasabah Lebaran 2026: 627 Ribu E-Channel Aktif Layani Nasabah 24 Jam
-
[HOAKS] Presiden Prabowo Resmikan KUR BRI Tanpa Agunan