Suara.com - Ditandai dengan penekanan tombol sirene, hari Senin (13/11/2017), di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar melakukan groundbreaking pembangunan pipa gas Duri-Dumai didampingi Walikota Dumai, Direktur Jenderal Migas, Kepala BPH Migas, Dirut PT PGN (Persero), Tbk, Direktur Gas PT Pertamina (Persero), dan Dirut PT Pertagas.
Pembangunan dan pengoperasian pipa gas Duri-Dumai merupakan wujud dari sinergi BUMN yang ditegaskan Pemerintah dengan penugasan kepada PT Pertamina (Persero) dan PT PGN (Persero) Tbk melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 5975 K/12/MEM/2016 tanggal 27 Juni 2016. “Jika ada sinergi antar BUMN maka semuanya akan mendapatkan benefit, PLN mendapat benefit, Badan Usaha yang lain juga mendapatkan benefit dan rakyat juga mendapat benefit,”jelas Arcandra.
Wakil Menteri ESDM tersebut menambahkan persoalan dalam pengambilan keputusan harus dipercepat dan tetap pada koridor hukum. “Kita tidak punya interest-interest lain, kita di Kementerian, we are the guardian of the public interest. Kalau ada hal-hal terobosan-terobosan, pertanyaan saya cuma satu, kita melanggar apa tidak? kalau tidak melanggar, go for it,” tambah Arcandra.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Ego Syahrial melaporkan bahwa pipa gas ruas Duri-Dumai memiliki diameter 24 inch dan panjang sekitar 64 km dengan titik awal tie in di Duri Meter Station pipa Grissik-Duri (PT TGI) dan titik akhir di Kilang Pertamina Refinery Unit II Dumai. Sumber gas yang dialirkan pada ruas pipa tersebut dari Blok Corriodor (ConocoPhillips), Blok Bentu (EMP), dan Blok Jambi Merang (JOB Pertamina-Talisman).
Pipa Duri-Dumai akan menyalurkan gas untuk Kilang Pertamina Dumai, kebutuhan industri di Riau, kebutuhan pelabuhan, dan industri petrokimia dalam rangka mendorong nilai tambah ekonomi daerah, nasional serta daya saing industri. Gas yang disalurkan ke Kilang Dumai digunakan untuk konversi bahan bakar dari fuel oil menjadi gas sehingga berpotensi meningkatkan kemampuan produksi kilang, dengan kebutuhan gas sebesar 57 juta standard cubic feet per day (MMSCFD) dan meningkat bertahap hingga 120 MMSCFD.
“Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan sebesar 52,2 juta dolar Amerika Serikat (AS) dan menyerap tenaga kerja hingga 400 orang pada masa konstruksi. Proyek ditargetkan selesai paling cepat 11 bulan, sehingga bulan Oktober 2018 diharapkan sudah bisa beroperasi,” tambah Ego.
Sebagai BUMN yang bersinergi, Dirut PT PGN (Persero) Tbk, Jobi Triananda Hasjim mengatakan selaku BUMN di sektor gas bumi, PGN siap melaksanakan penugasan yang diamanatkan pemerintah. “Komitmen kami adalah ketepatan waktu penyaluran gas ke konsumen sehingga akan terus mengawal proses pembangunan pipa gas bumi Duri-Dumai,” kata Jobi.
Demikian halnya dengan Direktur Utama PT Pertagas, Suko Hartono menegaskan kembali bahwa proyek ini penting utk menyuplai gas ke kilang RU II Pertamina dan industri di Dumai. “Ini adalah sinergi lintas BUMN (Pertagas, PGN, HK, PDC-Elnusa) yg perlu dicontoh, jadi kami berharap kerjasama ini tidak selesai di pembangunan transmisi namun dilanjutkan untuk pembangunan distribusi" ujar Suko.
Selain Groundbreaking, Wakil Menteri ESDM juga menyaksikan Penyerahan dokumen pengalihan pengelolaan lapangan Jambaran Tiung Biru dari ExxonMobil ke Pertamina EP Cepu dan penandatanganan 3 perjanjian jual beli dan transportasi gas, yaitu:
Baca Juga: Wamen ESDM Tegaskan Tak Ada Kenaikan Tarif Llistrik
1. Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) Lapangan Unitisasi Jambaran-Tiung Biru, antara Pertamina EP Cepu dan PT Pertamina EP, dengan PT Pertamina (Persero)
2. PJBG Jambaran-Tiung Biru, antara PT Pertamina (Persero), dengan PT PLN (Persero)
3. Firm Gas Transportation Agreement (FGTA) untuk Duri-Dumai dari Grissik (Sumatera Selatan) ke Duri (Riau) antara PT TGI dengan PT PGN (Persero), Tbk.
Wujud sinergi BUMN lainnya tercermin dari PJBG proyek Jambaran-Tiung Biru antara Pertamina dengan PLN, dimana harga gas-nya sudah disepakati. “Harganya sudah disepakati dan itu fix 30 tahun, (yaitu) 7,6 dolar AS per MMBTU flat selama 30 tahun,” ungkap Wamen Arcandra.
Berita Terkait
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak 33,47 Dolar AS per Barel
-
Harga Batu Bara Acuan Naik pada Periode Kedua April, Tembus 103,43 Dolar AS per Ton
-
April 2026, Prabowo Targetkan Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 PSEL
-
Pengujian B50 di Alat Berat Sukses, Indonesia di Ambang Swasembada Energi
-
RKAB Batubara 2026 Hampir Rampung, Dekati Angka 600 Juta Ton
Terpopuler
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Dapat Status Pegawai BUMN, Apa Saja Tugas Manajer Koperasi Merah Putih?
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Permudah Akses Keuangan Pedagang, BTN Ekspansi Bisnis ke Ekosistem Koperasi Pasar
-
Lawan Imunitas Algoritma, Prof Harris: Masa Rokok Bisa Digugat, Kode Digital Tidak?
-
Ambisi Swasembada Gula 2028 Terganjal Mesin Tua dan Kiamat Lahan
-
Bos-bos BCA Kompak Serok Saham Sendiri Saat Harga Diskon, Apa Dampaknya?
-
Orang Kaya Ngeluh LPG 12 Kg Naik, Bahlil: Sorry Yee!
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Tapi Dua Kapal Milik Pertamina Masih Tersandera
-
Dobrak Sekat Perbankan dan Telko, BTN-Indosat Berduet Percepat Inklusi Keuangan
-
Harga Plastik Naik, Bapanas Waspadai Dampaknya ke Harga Beras dan Gula
-
Selat Hormuz Dibuka, PIS Siapkan Rute Darurat agar 2 Kapal Pertamina Kembali Berlayar
-
Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex Naik, ESDM Ungkap Penyebabnya