Sementara BNI juga mencatat jumlah gangguan ATM sebanyak 1.500 dari total ATM sebanyak 16.000 ATM di seluruh Indonesia.
Adapun BRI merupakan bank besar yang paling kecil terkena dampak anomali satelit Telkom 1. Saat ituhanya 300 ATM dari total 20.000 ATM BRI yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Ini karena ATM milik bank berkode BBRI itu sebagian besar jaringannya sudah migrasi menggunakan satelit sendiri, yaitu BRISat.
“Kalau saya sih tidak mengalami peristiwa ATM down sewaktu datang ke mesin ATM akhir Agustus lalu. Di Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, waktu itu saya lancar-lancar saja,” kata Purwana, salah satu karyawan klinik Al-Hanif di Cisoka, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Suara.com, Senin (16/10/2017)..
Purwana mengakui dirinya terlambat tahu bahwa pada waktu ada ribuan ATM milik bank-bank besar yang mengalami gangguan. Namun karena ia tak tahu ada peristiwa anomali Satellit Telkom 1 yang terjadi pada akhir Agustus lalu, ia merasa biasa saja. Tidak lega ataupun cemas.
“Sebetulnya sih kalau sebelum-sebelumnya, ATM BRI memang kadang sering down. Kalau itu terjadi, saya sih ya balik ke rumah aja lagi. Tapi seingat saya sepanjang Agustus lalu, waktu itu saya datang ke ATM BRI untuk tarik tunaik lancar-lancar saja,” ujarnya.
Efek Anomali Satelit Telkom 1 Terhadap Padamnya Ribuan ATM Perbankan
PT Telkom sendiri telah mengakui ada masalah dengan satelit Telkom 1 sejak Jumat sore (25/8/2017) yang berpengaruh ke layanan ATM perbankan yang dipakai konsumen. Akibatnya, 11.574 site jaringan mengalami gangguan. Site jaringan itu terdiri dari 11.574 site jaringan anjungan tunai mandiri (ATM) dan 3.445 site jaringan non ATM itu adalah non ATM.
Gangguan mulai terjadi pada Jumat (25/08) sekitar pukul 16.51 WIB. Saat itu, terjadi anomali pada satelit Telkom 1 yang berakibat pada pergeseran pointing antena satelit Telkom 1 sehingga layanan transponder satelit Telkom 1 terganggu.
Baca Juga: "BRIIndocomtech 2017" Berakhir Sukses
Guna mengantisipasi masalah, Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Alex Sinaga turun tangan dan memimpin proses migrasi pelanggan pasca gangguan yang dialami Satelit Telkom 1 akibat anomali pada satelit tersebut.
Selain memindahkan layanan ke Satelit Telkom 2 dan Telkom 3S, Telkom juga memanfaatkan satelit lain di luar Telkom, termasuk satelit asing milik China dan Hong Kong. Ribuan teknisi Telkom diterjunkan ke lapangan untuk melakukan repointing atau pencarian jaringan.
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaludin,memberikan penjelasan kaitan anomali Satelit Telkom 1 yang berakibat padamnya jaringan ribuan ATM perbankan. Menurutnya, Satelit Telkom 1 ditempatkan di ruang angkasa dengan garis bujur 108. Satelit ini memang diatur untuk mengarah ke wilayah Indonesia. Pada saat terjadi anomali, ada gangguan pada sistem probolsinya.
“Akibatnya sikap Satelit Telkom 1 berubah yang mengakibatkan antena yang mengarah ke antena penerima data satelit atau Very Small Aperture Terminal (VSAT), dalam hal ini milik para pengguna dari industri perbankan mengalami perubahana arah,” kata Thomas kepada Suara.com, di Jakarta, Rabu (4/10/2017).
Karena arahnya berubah, maka komunikasi dari pusat data bank atau server kepada jaringan ATM miliknya tak bisa dilakukan. “Inilah yang terjadi pada waktu itu, yang berakibat banyak ATM bank pengguna Telkom 1 tak berfungsi,” jelasnya.
Thomas menyarankan apabila BRI sudah melakukan semua migrasi jaringan miliknya ke BRISat, tetap perlu ada mekanisme cadangan yang memungkinkan BRI menggunakan saluran lain saat terjadi gangguan pada BRISat. “Jadi upaya ini tetap harus ada,” tutupnya.
Ratih Dewanti Putri, (31) berdiri mematung di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Center PT Bank Central Asia (BCA) Tbk di Mal Kota Kasablanca, Jakarta. Matanya berkerut saat melihat antrian pengunjung di ATM BCA nampak begitu panjang.
Sesekali ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir tiga jam dirinya mengantre untuk bisa mengakses mesin ATM BCA untuk bertransaksi.
Berita Terkait
-
OJK Restui Empat BPR di Priangan Timur Digabungkan, Apa Untungnya?
-
Kolaborasi dengan FC Barcelona, BRI Luncurkan Kartu Debit Edisi Khusus
-
Cerita Inspiratif - Sausu Tambu Ragam Budaya dalam Satu Desa
-
BBRI Melemah Tipis, Analis Ungkap Target Harga Saham dan Rekomendasi
-
Cerita Inspiratif: Kampung Koboy Desa Tugu Selatan Cisarua
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Airlangga Pastikan Tarif Dagang Indonesia dan AS Turun ke 15 Persen, Berlaku 90 Hari
-
ESDM Lobi-lobi AS Agar Sel Paner Surya RI Tak Kena Bea Masuk 104%
-
Kemenperin Catat Industri, Kimia dan Tekstil Lagi Loyo di Februari
-
IHSG Nyaris Stagnan pada Perdagangan Jumat, Tapi 352 Saham Meroket
-
BNBR Gelar Rights Issue 90 Miliar Saham, Perkuat Struktur Modal dan Ekspansi CCT
-
Rupiah Loyo ke Level Rp 16.787/USD di Tengah Aksi Jaga Investor
-
Ekonomi Digital RI Makin Gurih, Setoran Pajak Tembus Rp47,18 Triliun
-
CFX Pangkas Biaya Transaksi 50 Persen, Industri Kripto Diprediksi Makin Bergairah
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
APBN Sudah Tekor Rp 54,6 T di Awal Tahun, Pengusaha Muda Tekankan Reformasi Pajak