Suara.com - Demi upaya penyediaan perumahan yang layak huni bagi masyarakat, pemerintah minta seluruh pihak untuk memperhatikan segala aspek kebutuhan perumahan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), khususnya, mendorong seluruh stakeholder terkait perumahan untuk meningkatkan aspek kualitas dalam pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Perumahan, Lana Winayanti, dan Dirjen Penyediaan Perumahan, Khalawi Abdul Hamid, kepada wartawan, dalam jumpa pers Hari Perumahan Nasional (Hapernas) 2018, yang kali ini mengusung tema "Wujudkan Rumah Rakyat Berkualitas", di Media Center KemenPUPR, Jakarta, Kamis, (23/8/2018).
Sejarah Hapernas berawal dari Kongres Perumahan Rakyat Sehat, yang dibuka oleh Wakil Presiden Pertama RI, Muhammad Hatta, pada 25-30 Agustus 1950. Dalam kongres tersebut, Bung Hatta menyampaikan, cita-cita untuk terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat bukan mustahil apabila kita mau sungguh-sungguh bekerja keras.
Kemudian pada 6 Agustus 2008, lahir Keputusan Menteri Negara Perumahan Nasional No: 46/KPTS/M/2008 tentang Hari Perumahan Nasional, yang menyatakan, 25 Agustus sebagai Hari Perumahan Nasional.
Pada kesempatan itu, Lana menjelaskan, pemerintah ingin perumahan yang dibangun oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat, memenuhi syarat laik huni, agar masyarakat dapat hidup lebih berkualitas dan sehat.
"Pada 2018 merupakan peringatan Hari Perumahan Nasional yang ke-11. Tujuan Hapernas adalah untuk mengingatkan kita semua sebagai stakeholder perumahan, bahwa rumah memiliki fungsi yang sangat penting, karena menjadi cikal bakal peradabadan dan jati diri bangsa," katanya.
Dalam rangka mensukseskan peringatan Hapernas 2018, KemenPUPR menyelenggarakan rangkaian kegiatan, diantaranya, ziarah ke makam Menteri Pekerjaan Umum periode 1988-1998, Radinal Mochtar, dan makam Wakil Presiden Pertama, yang juga Bapak Perumahan Indonesia, Muhammad Hatta atau Bung Hatta, pameran rumah rakyat pada 22-30 September 2018 di Jakarta Covention Center, dan workshop tentang "Disruptive Technology for Affordable Housing", pada 17 September 2018 di KemenPUPR. Ada juga sayembara rumah tapak dan rumah susun bersubsidi pada Juli-September 2018, peresmian rumah layak huni di Kota Palu, 2 Oktober 2018, dan turnamen Gateball antara mitra perumahan pada 29-31 Agustus 2018.
"Sayembara tersebut digelar, karena kita melihat, semua rumah bersubsidi berdesain sama. Melalui sayembara ini, diharapkan akan muncul desain yang mengangkat arsitektur masing-masing daerah, menggunakan bahan lokal, dan inovasi lainnya yang mengusung kearifan lokal," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Khalawi mengatakan, desain rumah tapak dan rumah susun juga akan mengusung kearifan lokal. Ia mencontohkan, KemenPUPR telah memulai diantaranya dengan penggunaan desain rumah Honai di Papua, pembangunan rumah di Suku Anak Dalam Jambi, yang menggunakan kayu lokal, rusun di Bali yang menggunakan pernak-pernik budaya Bali, dan rusun di Palembang yang dicat dan menggunakan songket khas Palembang.
Baca Juga: Lantik Pejabat Baru, PUPR Harap Program Pemerintah Berjalan Baik
"Tampilan tersebut akan memperindah rumah, dan bisa digunakan sebagai keperluan wisata, serta mempromosikan kebudayaan dari daerah itu sendiri," kata Khalawi.
Saat ini, sudah 1.288 peserta yang telah memasukan hasil karyanya. Dewan juri adalah Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Profesor Arief Sabarudin, Direktur Rumah Khusus Ditjen Penyediaan Perumahan KemenPUPR, Christ Robert Marbun, akademisi, Profesor Sarwidi, Ikatan Arsitek Indonesia, Djoko Ardianto, praktisi arsitek, Imelda Akmal, dan perwakilan dari Asosiasi Pengembang, Hendra Susanto.
Nantinya, karya para finalis akan akan dipamerkan dalam pameran perumahan September 2018, di Jakarta Convention Center.
Berita Terkait
-
Punya Nyali! Pemerintah Kuasai Kembali Tanah Negara dari Pihak Lain Demi Bangun Hunian Rakyat
-
Mudik Siswa Sekolah Rakyat, Naila Akhirnya Punya Rumah Baru Layak Huni
-
Kementerian PKP Usulkan Anggaran Rp49,85 Triliun untuk Wujudkan Rumah Layak Huni pada 2026
-
Standar Rumah Layak Menurut SDGs, Layakkah Rumah Subsidi 14 m2 Dihuni Manusia?
-
Rumah Subsidi Luas 18 Meter Tidak Layak Huni
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Menkeu Optimistis Pendapatan Negara Capai Target, Coretax Dinilai Sudah Menunjukkan Hasil
-
Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal
-
Luhut Sebut Bea dan Cukai Tak Diperlukan Lagi, Purbaya Beri Jawaban
-
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital