- Investasi portofolio asing masuk sebesar 1,6 miliar dolar AS hingga 13 Februari 2026 memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
- Aliran masuk modal asing terutama tertopang oleh Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara.
- Bank Indonesia memperdalam pasar valas rupiah-renminbi untuk mendukung transaksi perdagangan lokal antar kedua negara.
Suara.com - Investasi portofolio asing masuk (net inflows) sebesar 1,6 miliar dolar AS sejak awal tahun hingga 13 Februari 2026, yang turut membantu memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan aliran masuk tersebut terutama ditopang arus modal asing yang besar ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), sedangkan investasi pada saham masih mencatat arus keluar (outflows).
“Berdasarkan data settlement di tanggal 18 Februari ini, inflow di SRBI mencapai Rp31 triliun dan di SBN mencapai sekitar Rp530 miliar. Jadi inflow ini terus meningkat, sehingga overall, year to date itu sudah mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS untuk inflow. Ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Destry menambahkan, bank sentral Indonesia juga terus memperdalam pasar valuta asing (valas) untuk rupiah-renminbi (RMB) Tiongkok untuk mendukung transaksi perdagangan Indonesia dengan Tiongkok, khususnya dalam implementasi local currency transaction (LCT).
Ia mencatat, transaksi LCT dengan Tiongkok terus meningkat di mana pada Desember 2025 saja nilainya mencapai 2,7 miliar dolar AS. BI pun terus mendorong penggunaan mata uang lokal agar transaksi tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.
“Dan kalau kita lihat juga suplainya makin lama juga makin bertambah. Tapi memang tentu masih terus kita butuhkan upaya untuk penambahan suplai dari CNY dan CNH di pasar valas kita,” kata Destry.
Adapun BI memandang nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi dengan pengendalian inflasi sesuai sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
“Faktor fundamental yaitu indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, maupun juga indikator-indikator lain yang semuanya menunjukkan rupiah semestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Namun demikian, imbuh Perry, tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi faktor teknikal dan premi risiko global yang memicu gejolak jangka pendek di pasar keuangan.
Baca Juga: Daftar Lokasi Penukaran Uang Baru Emisi 2026
Merespons kondisi tersebut, BI pun terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah baik melalui intervensi di pasar non-delivery forward (NDF) luar negeri (off-shore) maupun transaksi spot dan domestic non-delivery forward (DNDF) di pasar dalam negeri.
Langkah tersebut juga didukung oleh upaya menarik aliran investasi portofolio asing melalui transaksi SRBI dan SBN, dengan tujuan utama meningkatkan investasi portofolio asing.
“Alhamdulillah selama dua bulan ini, investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net inflow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap memastikan kecukupan likuiditas di dalam negeri sepertimana terjemin pada pertumbuhan uang primer yang selalu double digit,” kata Perry.
Berita Terkait
-
Gubernur BI: Rupiah Undervalue, Tidak Cerminkan Ekonomi Indonesia
-
Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar, Gubernur BI Ungkap Strategi Ekonomi
-
BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen
-
Utang Negara Tembus Rp7.282 Triliun di Akhir 2025, Ini Penjelasan BI
-
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Diramal Tahan Suku Bunga
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Impor Barang Modal RI Melonjak 34 Persen
-
Laba Bersih Melonjak 79 Persen, Seabank Bakal Luncurkan Debit Card Tahun Ini
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya
-
Harga Cabai Rawit dan Beras Naik, Daging Sapi Turun Harga
-
Pembatasan BBM Berpotensi Bikin Harga Kebutuhan Pokok Naik
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Harga Emas Pegadaian Minggu 5 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bakal Naik?
-
Profil PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), Emiten Fasilitas Batu Bara Milik Haji Isam
-
Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
-
Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI