Suara.com - Dolar Amerika Serikat (AS) terus menekan Rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 16.00 WIB, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tembus di level Rp 14.935. Level ini merupakan yang tertinggi setelah krisis moneter atau krismon 1998.
Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar (JISDOR) Bank Indonesia (BI), perdagangan Rupiah pada 4 September 2018 berada di level Rp 14.840 per dolar AS.
Tercatat, pada pertengahan 1997 lalu, nilai tukar dolar AS masih berada di level Rp 2.000 sampai Rp 2.500. Namun angka tersebut terus naik, di akhir 1997 ke level Rp 4.000 dan di awal 1998 tembus ke level Rp 6.000.
Nilai tukar dolar AS makin menjadi-jadi ketika terjadinya kerusuhan Mei 1998. Dolar AS menyentuh level tertingginya di Rp 16.650 di Juni 1998.
Menanggapi pelemahan tersebut, Ekonom Permata Bank Josua Pardede meminta masyarakat dan pelaku pasar tidak panik terhadap pelemahan Rupiah.
Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia masih solid, terlihat dari pengelolaan utang luar negeri swasta cenderung lebih berhati-hati dimana Bank Indonesia (BI) juga sudah mewajibkan transaksi lindung nilai bagi korporasi dalam rangka mengelola risiko nilai tukar.
Pengelolaan yang lebih baik dari utang luar negeri swasta terlihat dari pertumbuhan utang jangka pendek yang cenderung rendah.
"Kondisi ini masih jauh dari krisis 1998. Kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang sangat berbeda dengan kondisi fundamental pada tahun 1998," kata Josua kepada Suara.com, Selasa (4/9/2018).
Menurut Josua, pelemahan Rupiah ini akibat dari pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald trump yang akan mengenakan tarif impor sebesar 200 miliar dolar AS pada produk Cina pada pekan ini.
Selain itu, lanjut dia, pelemahan Rupiah ditopang oleh beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang positif pada pekan lalu antara lain data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2018 dan data pengeluaran konsumsi pribadi inti.
"Data AS yang positif tersebut meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga AS pada rapat FOMC pada bulan September yang akan datang. Selain itu, sentimen negatif pada mata uang negara berkembang dipengaruhi oleh krisis mata uang Turki dan Argentina. Sentimen negatif pada kedua negara tersebut juga merembet pada negara-negara berkembang yang mengalami isu pelebaran defisit antara lain India dan Indonesia," jelas dia.
Meskipun begitu, Josua mengatakan, BI dalam jangka pendek tetap akan berusaha menjaga stabilitas rupiah dengan melakukan dual intervension di pasar valas dan pasar obligasi.
Selain itu, jika volatilitas nilai tukar rupiah cenderung meningkat, BI diperkirakan akan kembali lagi memperketat kebijakan moneternya dalam jangka pendek ini untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.
Dengan mempertimbangkan perbaikan fundamental ekonomi dan afirmasi dari Fitch terhadap peringkat utang Indonesia yang masih layak investasi, maka pemerintah dan BI diperkirakan akan dapat mengelola stabilitas Rupiah sehingga dapat meredam pelemahan Rupiah di bawah level Rp 15.000 per dolar AS.
"Masyarakat umum dan juga pelaku pasar diharapkan tidak melakukan aksi spekulasi yang akan mendorong penguatan dolar AS lebih lanjut lagi. Keyakinan pada masih solidnya fundamental ekonomi Indonesia serta keyakinan bahwa Bank Indonesia akan selalu berada di pasar dan akan melakukan langkah-langkah stabilisasi Rupiah tentunya akan efektif membatasi pelemahan nilai tukar Rupiah," tandas dia. (Achmad Fauzi)
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Polemik Berkas Korupsi PLTU Batubara, Langkah Polri Dinilai Lawful dan Rasional
-
Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Sedot 1,1 Juta Penonton, Roda Ekonomi Tembus Rp5 Triliun
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam