- Harga nikel naik tertinggi dalam 14 bulan setelah PT Vale Indonesia (INCO) hentikan operasi sementara di seluruh wilayah IUPK.
- Kenaikan harga nikel kontrak tiga bulan di London Metal Exchange mencapai 1,8 persen menjadi USD 16.945 per metrik ton.
- Penghentian operasional INCO disebabkan belum terbitnya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 sebagai kepatuhan.
Suara.com - Harga nikel tercatat mengalami kenaikan tertinggi selama 14 bulan terakhir pada Jumat 2 Januari 2025. Kenaikan harga itu disebabkan keputusan perusahaan tambang nikel, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menghentikan operasionalnya untuk sementara di seluruh wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Mengutip dari Reuters, harga nikel pengiriman kontrak tiga bulan di London Metal Exchange naik hingga 1,8 persen menjadi USD 16.945 per metrik ton. Kenaikan itu tertinggi sejak sejak Oktober 2024.
Keputusan INCO menghentikan operasional pertambangannya disebabkan rencana kerja dan anggaran Biaya atau RKAB untuk tahun 2026 yang belum diterbitkan. Penghentian sementara disebut sebagai bentuk kepatuhan perusahaan.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan usaha berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tulis manajemen perusahaan.
Dalam keterbukaan informasinya, INCO mengungkap dampak dari keterlambatan penerbitan RKAB 2026 bagi perusahaan.
"Keterlambatan persetujuan RKAB berdampak pada penundaan sementara kegiatan operasional Perseroan di seluruh wilayah IUPK Perseroan," tulis manajemen,
Meski demikian, kondisi itu disebut tidak menimbulkan dampak material langsung terhadap kondisi keuangan perusahaan. Untuk itu INCO pun berharap persetujuan RKAB perusahaan dapat segera diterbitkan.
"Perseroan berharap persetujuan RKAB Tahun 2026 dapat diterbitkan dalam waktu dekat dan Perseroan tetap berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan usaha, keselamatan kerja, dan stabilitas operasional," tulis INCO.
Dilaporkan setelah mengalami penurunan harga selama berbulan-bulan karena kelebihan pasokan, harga nikel naik 12,3 persen pada Desember. Hal itu disebabkan rencana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang akan memangkas produksi komoditas pertambangan mineral demi menjaga stabilitas harga.
Baca Juga: RUPSLB Vale Indonesia (INCO) Gagal Imbas Tak Kuorum, Kursi Presiden Direktur Masih Kosong
Berita Terkait
-
RKAB 2026 Belum Terbit, Vale Indonesia Stop Operasi Sementara
-
Bahlil akan Pangkas Produksi Nikel, Harga di Dunia Langsung Naik
-
Target Harga Bisa Tembus Rp 4.700, Ini Kata Analis Soal Prospek Saham INCO
-
Danantara Gaet Perusahaan China Garap Proyek Smelter Nikel Milik INCO Senilai Rp23 Triliun
-
Orang Dekat Prabowo dan Eks Tim Mawar Ditunjuk jadi Presiden Komisaris Vale
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
Terkini
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Pasar Sambut Positif Rumor Chatib Basri Jadi Menkeu, tapi Ada Catatannya
-
Kepercayaan Pasar Jadi Taruhan, Isu Pergantian Menkeu Bisa Guncang Rupiah
-
Panas Bumi Indonesia Melesat, PGE Dapat Suntikan Dana Rp7,8 Triliun untuk 3 Proyek Strategis
-
Harga Emas Hari Ini Naik, Antam Tembus Rp2,88 Juta per Gram, Masih Jadi Investasi Incaran?
-
Bekas Klinik Peninggalan Belanda Dimanfaatkan Jadi Kebun Lidah Buaya, Nyiramnya Bisa Lewat HP
-
OJK Catat Aset Industri Asuransi Tembus Rp1,2 Kuadriliun pada April 2026, Tumbuh 3,39 Persen
-
Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun hingga Mei 2026, Tumbuh 34,4 Persen
-
Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?
-
Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini