- Stabilitas ekonomi Indonesia 2025 terjaga, namun pertumbuhan moderat 5,2–5,4% belum mencapai akselerasi target 8%.
- Pertumbuhan kuat memerlukan investasi produktif dengan efisiensi tinggi, terindikasi dari tingginya ICOR negara sekitar 6,0–6,5.
- Fungsi intermediasi keuangan belum optimal karena kredit produktif lemah, sementara dana bank terserap pada surat berharga negara.
Suara.com - Stabilitas kerap dipandang sebagai prasyarat utama pertumbuhan ekonomi. Namun para ekonom mengingatkan, stabil saja tidak cukup.
Pertumbuhan yang kuat hanya akan tercapai bila investasi benar-benar produktif, sektor keuangan berfungsi optimal menyalurkan dana ke dunia usaha, dan kebijakan negara tidak justru menggeser peran sektor swasta.
Pandangan ini sejalan dengan peringatan klasik Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve).
“Stabilitas yang berkepanjangan dapat menutupi kelemahan struktural yang mendasari,” ujar Greenspan, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya, stabilitas tanpa pembenahan struktural justru berisiko menyembunyikan persoalan mendasar yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan jangka panjang.
Refleksi tersebut relevan untuk membaca kondisi ekonomi Indonesia sepanjang 2025, tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah tekanan global dan ketidakpastian geopolitik, ekonomi nasional terjaga relatif stabil. Inflasi berada di kisaran 2,5–3 persen, defisit fiskal terkendali, dan nilai tukar rupiah relatif terjaga.
Namun dari sisi pertumbuhan, performa ekonomi masih tergolong moderat.
Pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan hanya mencapai 5,2–5,4 persen, masih jauh dari jalur akselerasi menuju target ambisius 8 persen pada 2029.
Baca Juga: Bursa Berjangka Komoditi 2026 Dibuka, Target Harga Acuan Nasional Naik
Belum Masuk Fase Akselerasi
Untuk mencapai target pertumbuhan tinggi, Indonesia idealnya mencatatkan pertumbuhan minimal 6 persen sejak awal periode pemerintahan. Dengan capaian saat ini, ekonomi nasional dinilai belum benar-benar memasuki fase akselerasi.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara investasi belum tampil sebagai mesin pertumbuhan (growth engine).
Kontribusi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) terhadap pertumbuhan PDB masih berada di kisaran 2,1–2,3 persen.
Persoalannya bukan semata jumlah investasi, melainkan kualitas dan efisiensinya.
Hal ini tercermin dari nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih tinggi, bertahan di kisaran 6,0–6,5. Artinya, untuk menghasilkan tambahan output yang relatif kecil, dibutuhkan investasi dalam jumlah besar.
Berita Terkait
-
OJK Gandeng KSEI Permudah Izin Reksadana, Apa Untungnya?
-
Ekonomi Global Bakal Melambat di 2026, Bagaimana Kondisi Indonesia?
-
Transformasi Makin Cepat, Potensi Ekonomi Digital Bisa Tembus 360 Miliar Dolar AS
-
Bencana Sumatera 2025 Tekan Ekonomi Nasional, Biaya Pemulihan Melonjak Puluhan Triliun Rupiah
-
Purbaya Minta 'BUMN Kemenkeu' Turun Tangan Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
-
Serangan AS-Israel Tewaskan Kepala Intelijen Garda Revolusi Iran Majid Khademi
-
Menkeu Purbaya Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026: DPR Beri Tepuk Tangan!
-
Simalakama Plastik: Antara Lonjakan Harga dan Napas UMKM yang Sesak
Terkini
-
CNAF Tebar Dividen Rp129 Miliar
-
Pembangunan Pabrik DME PTBA Butuh 3 Tahun, Pendanaan Masih Menunggu Danantara
-
Bandara Soetta Hujan Ekstrem, Atap Terminal 3 Jebol Hingga 12 Penerbangan Gagal Mendarat
-
Bea Masuk Suku Cadang Pesawat Jadi 0 Persen, Purbaya Bisa 'Rugi' Rp 500 Miliar
-
Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun: Gini-gini Uangnya Banyak!
-
Defisit APBN Tembus Rp240,1 Triliun, Meroket Dibandingkan Awal Tahun 2026
-
IHSG Longsor ke Level 6.989, Ini Alasannya
-
Menhub Klaim Kenaikan Fuel Surcharge 38% Tak Diputuskan Sepihak
-
Harga BBRI Tertekan Aksi Jual, Target Harga Sahamnya Masih Menarik?
-
Harga Tiket Pesawat Naik Imbas Avtur Meroket, Maksimal 13 Persen