Suara.com - PT MNC Vision Network Tbk, anak perusahaan PT Global Mediacom Tbk (BMTR), mengumumkan penawaran umum saham perdana atau initial public offering alias IPO. Diketahui, MVN akan menawarkan 3,5 miliar lembar saham baru.
Corporate Secretary MNC Vision Network Anthony Chandra Kartawiria menjelaskan, jumlah tersebut setara 10 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh MN setelah penawaran umum perdana. Listing sendiri akan dilakukan di Bursa Efek Indonesia, 8 Juli 2019.
Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp 231 sampai Rp 242 per lembar saham. Mereka menargetkan memeroleh dana segar antara Rp 814 miliar sampai Rp 856 miliar dari penawaran tersebut.
Untuk diketahui, MVN bergerak dalam bidang saluran televisi berbayar, fixed broadband atau IPTV dan layanan konten digital.
Selain itu, tim manajemen MVN memiliki rata-rata pengalaman lebih dari 20 tahun dalam industri media.
"Pelanggan entitas anak MVN dapat menikmati saluran hiburan dan Informasi terbaik dan terlengkap dengan total 185 channel, termasuk 35 channel eksklusif. MNC sebagai perusahaan media dan konten terbesar di Indonesia memberikan dukungan dengan menyediakan saluran TV Free To Air (FTA)," ujar Anthony, Senin (17/6/2019).
Anthony menjelaskan, entitas anak MVN itu meliputi PT MNC Sky Vision Tbk (MNC Vision), PT MNC Kabel Mediakom (MNC Play), PT MNC OTT Network (MNC Now), dan PT Nusantara Vision (NV).
Ia mengklaim, MNC Vision menjadi pemimpin pasar dalam bisnis TV berbayar dengan menguasai 96 persen pasar, dan memiliki pelanggan sekitar 2,4 juta pada tahun 2018. MNC Vision menyasar pelanggan di kota-kota menengah dan kecil.
Untuk MNC Play yang berfokus pada penyedia layanan fixed broadband atau IPTV, menjadi pemain nomor 3 terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan 262 ribu pada tahun 2018.
Baca Juga: Sambut "Pacific Rim Uprising", MNC Vision Gelar "Movie Screening"
Sedangkan MNC Now penyedia layanan konten digital jumlah pelanggan terdaftar lebih dari 2 juta pada 2018.
Penetrasi pasar TV berlangganan di Indonesia baru sebesar 13 persen dibanding di negara-negara kawasan Asia lainnya, yang mencapai 71 persen.
Untuk penetrasi fixed broadband berpotensi tumbuh 16 persen dengan jumlah pelanggan 11,3 juta pada tahun 2023, melalui program pemerintah digitalisasi industri 4.0.
Sedangkan pertumbuhan industri layanan konten digital (OTT), didukung oleh generasi milenial dan pergeseran kebiasaan dalam menikmati konten hiburan secara digital.
"Penawaran umum ini merupakan langkah strategis perseroan dalam rangka memperkuat struktur permodalan dimana dana hasil penawaran umum akan digunakan untuk modal kerja, pengembangan jaringan fixed broadband atau IPTV serta pengembangan layanan konten digital melalui produksi konten original yang menarik.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri