Suara.com - Petani padi, jagung dan tanaman lainnya di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) terancam gagal panen imbas semakin langkanya pupuk bersubsidi.
"Benar, kami sangat heran kenapa pupuk subsidi langka dan susah diperoleh. Sedangkan pupuk non subsidi harganya cukup tinggi," kata Ketua Gabungan Kelompol Tani Sukma Karsa Sariak Kecamatan Luhak Nan Duo Pasaman Barat, Algeri Adnan di Simpang Empat, ditulis Rabu (15/1/2020).
Menurutnya petani, saat ini banyak yang tidak memberi pupuk urea tanamannya karena harga pupuk nonsubsidi cukup tinggi mencapai Rp 280 ribu per karungnya.
Jika dibandingkan harga pupuk subsidi bisa diperoleh dengan Rp 115.000 sampai Rp 120.000 per karungnya.
"Petani tidak sanggup membeli pupuk nonsubsidi karena harganya yang tinggi. Sementara tanaman jagung contohnya minimal harus dipupuk dua kali. Saat ini banyak petani hanya memupuk satu kali," sebutnya.
Ia menyatakan jika kondisi ini terus terjadi, maka petani akan terancam gagal panen atau produksinya berkurang pada Februari dan Maret nanti.
"Jika pakai pupuk satu haktare tanaman jagung bisa menghasilkan 6,7 ton. Jika tidak pakai pupuk bisa gagal panen. Meskipun satu kali pupuk akan turun produksinya 1,5 sampai 2 ton per hektare," jelasnya.
Ia sangat heran kenapa pupuk subsidi sangat langka di Pasaman Barat. Padahal kelompok tani selalu membuat Rencana Defenitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) setiap tahunnya.
"Kami berharap pupuk subsidi segera ada untuk tanaman. Untuk kelompok tani kami saja ada sekitar 150 hektare tanaman yang terancam gagal panen," ujarnya.
Baca Juga: Kuota Pupuk Bersubsidi Berkurang, Nasib Petani Terancam
Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultara dan Peternakan Pasaman Barat, Sukarli mengatakan pupuk bersubsidi memang langka di lapangan.
Menurutnya untuk pupuk bersubsidi hanya 18 persen dari total kebutuhan pupuk yang diajukan oleh petani berdasarkan RDKK.
"Kalau langka dilapangan memang alokasi pupuk 2019 sudah habis terdistribusi sampai Desember 2019.
Sementara untuk 2020 pihaknya baru dapat alokasi dari propinsi dan sedang diproses Surat Keputusan bupati.
"Saat ini hampir semua kecamatan mulai tanam padi dan tanaman lainnya. Namun pupuk bersubsidi belum bisa diyebus oleh kios ke distributor karena kita sedang membagi alokasi per kecamatan," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
Pilihan
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
Terkini
-
Janji Percepat Bangun Huntara, Menteri PU: Tak Ada Warga Aceh Tinggal di Tenda Saat Ramadan
-
Penjelasan Kelola Dana Negara Rp200 T, Tegaskan Menkeu Tertipu Bank Himbara Hoaks
-
Berita Soal Rp200 Triliun Menguap Dipastikan Hoaks, Kemenkeu dan BRI Jamin Dana Aman
-
Begini Spesifikasi Huntara di Aceh Tamiang untuk Korban Bencana
-
Impor Tapioka Masih Tinggi, Pengusaha: Bukan Karena Stok Kurang, Tapi Harga Lebih Murah
-
5 Fakta Isu Menteri Keuangan Purbaya Tertipu Bank Himbara Rp200 Triliun
-
Rencana Peleburan Bulog-Bapanas Masih Proses Pembahasan
-
Kemenkeu: Berita Menkeu Purbaya Tertipu Bank Himbara 100 Persen Hoaks
-
Bansos PKH, BPNT dan BLT Tahap 1 Cair Februari 2026, Ini Cara Cek di HP Pakai NIK KTP
-
Gubernur Target Bank Jakarta Segera IPO Saham, Ini Persiapannya