Jika ditotal, Sumarno biasanya mengirim Rp3 juta per bulan.
"Kita tidak ada penghasilan, jangankan untuk menanggung keluarga, untuk menanggung diri sendiri saja banyak yang kebingungan," kata Sumarno.
Menurut Nasrikah, seorang aktivis pekerja migran di Malaysia, apa yang dialami oleh Sumarno jamak terjadi di kalangan tenaga kerja Indonesia dan imbasnya adalah keluarga mereka.
"Tentunya sangat sulit juga untuk keluarga di Indonesia. Karena untuk nasib pekerja sendiri sekarang juga sangat tidak baik."
Dari Lebanon ke Sri Lanka: Chandra
Chandra Naayage, 52, bekerja sebagai petugas kebersihan di Lebanon selama lebih dari 15 tahun. Ia mengirimkan gajinya ke Sri Lanka untuk membantu suaminya, seorang petani teh, dua putrinya dan seorang putranya.
Chandra biasanya mengirimkan sekitar US$400 atau kira-kira Rp6 juta untuk keluarganya setiap bulan.
Uang itu antara lain digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah dan menguliahkan dua putrinya. Sekarang mereka telah berumah tangga.
Tetapi sejak Oktober tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Lebanon mandek dan negara itu mengalami kekacauan.
Baca Juga: Sejarawan: Sejak Zaman VOC, Saat Ada Wabah Prioritas Elite Adalah Ekonomi
Mata uang pound Lebanon turun tajam terhadap dolar Amerika Serikat - mata uang yang digunakan untuk mengirimkan uang pulang - sekarang sulit didapat. Kondisi itu juga membuat Chandra harus mengeluaran lebih banyak uang pound untuk membeli dolar dibanding sebelumnya.
Layaknya pekerja rumah tangga dari Asia, Chandra bekerja untuk beberapa rumah di Lebanon dengan tarif 10.000 pound Lebanon. Biasanya ia bisa mengantongi US$6,50 untuk setiap 10.000 pound tetapi sekarang nilainya turun menjadi sekitar US$2.50.
Di masa pandemi, para majikan tidak mengizinkan orang dari luar unit rumah tangga mereka masuk ke rumah. Akibatnya, Chandra tak punya pekerjaan dan tak mampu mengirim uang untuk keluarganya.
Chandra menyewa tempat bersama dua perempuan lain dan mereka terpaksa meminta bantuan makanan. Ia khawatir tidak akan mampu menguliahkan putranya yang berusia 19 tahun.
"Bekerja di Lebanon sebelumnya enak, karena kami tidak akan mendapatkan upah sebesar itu di Sri Lanka. Saya melakukan banyak hal untuk keluarga saya," kata Chandra kepada BBC.
"[Sebelum Covid-19] Saya memutuskan untuk bekerja selama satu atau dua tahun lagi, karena saya ingin hidup bersama keluarga saya. Tetapi jika kondisi tidak membaik, kami tidak bisa tinggal di Lebanon."
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Harga BBM Dijaga Tetap Stabil, Pertamina Imbau Masyarakat Hemat Energi
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp71 Ribu, Telur Ayam Rp32.300 per Kg
-
Sukuk PNM Tembus Panggung Dunia, Menang di The Asset Awards 2026 Hong Kong
-
Harga BBM RI Naik, Emas Antam Langsung Meroket
-
Impor Minyak Rusia Mulai Jalan, Pakar Ingatkan Risiko Ketahanan Energi RI
-
Diam-diam Harga BBM RI Naik, Janji Manis Prabowo Hanya Kuat 17 Hari?
-
Harga BBM Naik Hari Ini! Pertamax Turbo Tembus Rp19.400, Dexlite Rp23.600, Cek Daftar Lengkapnya
-
Harga Minyak RI Tembus 102 Dolar! Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan ICP Maret 2026
-
Selat Hormuz Resmi Dibuka Kembali, Ini Penjelasan ESDM soal Nasib 2 Kapal Pertamina
-
Anak Usaha Emiten ADHI Mulai Garap Proyek Gedung Presisi 6 Polri