Suara.com - Harga minyak mentah turun 3 persen pada perdagangan akhir pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump dinyatakan positif tertular virus corona atau Covid-19.
Kabar itu mengguncang pasar aset berisiko. Peningkatan produksi minyak mentah global mengancam pemulihan pasar yang lemah.
Patokan harga minyak, Brent dan WTI AS keduanya menuju penurunan minggu kedua berturut-turut.
Ketidakpastian seputar kesehatan presiden AS menambah serangkaian kegelisahan, termasuk laporan pengangguran AS yang lesu dan peningkatan pasokan dari produsen minyak utama dunia.
Mengutip CNBC, Senin (5/10/2020) minyak mentah Brent turun 1,12 dolar AS atau 2,7 persen menjadi 39,81 dolar AS per barel, setelah sebelumnya menyentuh sesi terendah 38,79 dolar AS per barel.
Sedangkan minyak WTI ditutup melemah 1,67 dolar AS atau 4,3 persen ke posisi harga 37,05 dolar AS per barel.
Minyak mentah AS dan Brent menuju penurunan sekitar 6 persen dan 5 persen masing-masing minggu ini dalam penurunan minggu kedua berturut-turut.
Pemulihan pasar tenaga kerja AS melambat pada September, karena non-farm payrolls meningkat 661.000 pekerjaan bulan lalu setelah naik 1,49 juta pada Agustus, kata Departemen Tenaga Kerja AS.
Pengumuman Trump bahwa dia dan Ibu Negara Melania Trump dinyatakan positif Covid-19 memicu aksi jual di pasar saham AS dan Eropa.
Baca Juga: Saran Ustaz Hilmi ke Trump: Minum Minyak Kayu Putih, Tak Perlu Pakai Kalung
Pasokan minyak mentah dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) naik pada September sebesar 160.000 barel per hari (bpd) dari bulan sebelumnya, sebuah survei Reuters menunjukkan.
Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan pasokan dari Libya dan Iran - anggota OPEC yang dibebaskan dari pakta pasokan antara OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +.
Produksi Libya telah meningkat menjadi 270.000 barel per hari, lebih cepat dari perkiraan analis setelah pelonggaran blokade oleh Tentara Nasional Libya.
Pasar aset berisiko juga turun di tengah kekhawatiran tentang negosiasi yang sedang berlangsung antara Kongres AS dan Gedung Putih mengenai paket stimulus ekonomi tambahan untuk meningkatkan permintaan ekonomi.
Kasus Covid-19 baru di seluruh dunia telah meningkat menjadi lebih dari 34 juta, hampir 2 juta lebih banyak dari pada akhir pekan lalu.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Masih Genggam Sedikit, Kapan Danantara Tambah Porsi Saham GOTO?
-
Botol Plastik Kini Bisa Ditukar BBG untuk Bajaj Gas
-
OSL Indonesia Resmi Gabung Ekosistem ICEx Group, Perkuat Infrastruktur Kripto Nasional
-
Seller Alihkan Penjualan ke Website, Era Belanja di E-Commerce Berakhir?
-
Investor Masih Nahan Dana, IHSG Terus Meluncur Turun ke Level 6.905
-
Rupiah Terpeleset ke Rp17.414: Ketegangan Global dan Harga Minyak Jadi Beban
-
OJK Bahas Rebalancing MSCI, Ada Saham yang Bakal Didepak dari IHSG?
-
Rebalancing MSCI Diumumkan Besok, Danantara Pede Pasar Modal RI Tak Turun Kasta
-
Pegadaian dan SMBC Indonesia Kembangkan Sustainable Financing Framework 2026 Berbasis ESG
-
Menkeu Purbaya Batal Aktifkan BSF: Kita Enggak Krisis