Bisnis / Makro
Selasa, 02 Februari 2021 | 12:45 WIB
Deretan permukiman penduduk semi permanen dengan latar belakang gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (5/10/2020). [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar]

Suara.com - Warga tak mampu di desa atau kelurahan di wilayah Cilegon, Jawa Barat, diharapkan bisa mendapatkan berbagai layanan sosial secara terpadu, cepat dan mudah diakses. Pemerintah Kota Cilegon akan segera mewujudkan pembentukan sebanyak 43 Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di wilayahnya tahun ini.

Menurut Kepala Dinas Sosial Kota Cilegon, Ahmad Djubaedi, untuk keperluan tersebut, pihaknya sudah melakukan koordinasi dan sinergi dengan Kementerian Sosial (Kemensos).

“Tahun 2020, Kota Cilegon sudah menerima bantuan dari Kemensos dalam pilot project penumbuhan Puskesos. Tahun ini, kami menggunakan APBD akan mengaktivasi 43 Puskesos,” katanya, baru-baru ini.

Bersama Kemensos, Pemkot Cilegon dan pemerintah kabupaten/kota di berbagai provinsi di Indonesia sudah menerima kajian terkait efektifitas pembentukan Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT) dan Puskesos.

“SLRT dan Puskesos efektif menangani berbagai masalah kesejahteraan sosial di tingkat bawah,” katanya.

Fungsi SLRT dan miniaturnya di tingkat desa/kelurahan yakni Puskesos, dinilai Djubaedi mampu merespons berbagai keluhan dan permasalahan masyarakat.

“SLRT dan Puskesos dapat mengidentifikasi keluhan masyarakat terhadap berbagai layanan sosial dan dipantau untuk memastikan penanganan keluhan dilaksanakan dengan di setiap jenjang,” katanya.

Djubaedi juga menyatakan optimismenya, SLRT dan Puskesos mampu terus memperkuat perbaikan data kemiskinan, sehingga meningkatkan akurasi sasaran penyaluran bantuan sosial.

“Karena Aplikasi SLRT kan juga terhubung dan menjadi bagian (modul) yang tidak terpisahkan dari aplikasi payung Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG), untuk pemutakhiran Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS),” katanya.

Baca Juga: Kemensos Akan Beri Santunan Ahli Waris Korban Gempa Sulbar Rp15 Juta

Kehadiran SLRT diharapkan dapat memberikan pelayanan sosial yang prima, tepat sasaran, responsif dan terintegrasi.

“Untuk penyelenggaraan pelayanan prima tersebut, platform layanan SLRT didukung sistem aplikasi online berbasis web dan android. Dengan demikian, memungkinkan pelayanan dapat dilaksanakan secara responsif dan tepat sasaran,” katanya.

Saat ini, kesiapan personel, sarana dan prasarana, serta peralatan dipastikan tidak ada masalah bagi Kota Cilegon.

“Kami tinggal siapkan secara kelembagaan saja,” katanya.

Kemensos mendukung penuh penumbuhan SLRT dan Puskesos di seluruh kabupaten/kota. Pusat layanan penanganan masalah sosial di level grassroot ini menjadi andalan dalam meningkatkan dan mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan sosial.

Menurut Kemensos, sampai dengan akhir 2020, SLRT telah terbentuk di 155 kabupaten/kota dan Puskesos pada 7.566 desa/kelurahan. Kemensos menargetkan, tahun ini, SLRT sudah terbentuk pada 300 kabupaten/kota dan pada akhir 2024, seluruh kabupaten/kota sudah berdiri SLRT dengan satu desa memiliki setidaknya 1 puskesos.

Load More