Suara.com - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sunarso mengaku punya solusi untuk bisa meningkatkan minat pengajuan kredit masyarakat. Solusi ini didapat setelah melihat data-data yang BRI kumpulkan.
Menurutnya, memang penurunan suku bunga kredit bisa memacu masyarakat mengajukan kredit.
Akan tetapi, lanjutnya, masyarakat juga perlu pekerjaan untuk bisa membayar kredit yang diajukan. Maka dari itu, ia menganjurkan, pemerintah bisa membuka lebar lapangan pekerjaan.
"Jadi, turun suku bunga iya, tapi dorong kemapuan belanja masyarakat ini juga jadi penting. Rasanya dibutuhkan kebijakan untuk lanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang berikan pekerjaan ke masyarakat. Maka yang perlu didorong adalah bagaimana berikan pekerjaan ke masyarakat," ujar Sunarso dalam dalam Webinar BUMN 2021 Sebagai Lokomotif PEN dan SWF, Kamis (4/3/2021).
Sunarso menambahkan, pemerintah memang tengah memberikan kelonggaran masyarakat untuk menjangkau kredit.
Namun, jelas dia, masyarakat juga perlu adanya peningkatan pendapatannya agar bisa menjangkau kredit perbankan. Salah satunya, meneruskan stimulus dalam secara tunai.
"Tapi kita juga perlu dorong peningkatan pendapatan agar siap belanja, berikan lapangan kerja, beri stimulus dalam bentuk uang," ucap Sunarso.
Sebelumnya, Sunarso menyebut, penurunan suku bunga kredit tak serta merta meningkatkan konsumsi masyarakat mengajukan kredit. Hal ini dilihat dari data yang dikumpulkan oleh Bank BRI.
Dalam data tersebut, ungkap Sunarso, meski BRI telah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR), tetapi hasilnya kinerja kredit tetap sama saat suku bunga KUR tinggi.
Baca Juga: Penurunan Suku Bunga Belum Tentu Mampu Dongkrak Pengajuan Kredit
"Kita punya data, bahwa KUR sebelum tahun 2015 bunganyanya 22 persen, saat itu pertumbuhan kredit nasional selalu doble digit, bahkan pernah 22-25 persen," jelasnya.
"Terus kemudian, setelah 2015 suku bunga KUR itu diturunkan ke 15 persen, bahkan disubsidi sehingga yang dibayar rakyat hanya 7 persen, tetapi datanya menunjukkan saat suku bunga rendah itu pertumbuhan kredit kita engga sampai double digit, sepanjang periode itu, hanya sekali double digit pada 2018," tambahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- Bacaan Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh, Kapan Waktu yang Tepat untuk Membacanya?
- Menkeu Purbaya Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Ramadan
- LIVE STREAMING: Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadan 2026
- Pemerintah Puasa Tanggal Berapa? Cek Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat 1 Ramadan 2026
Pilihan
-
Murka ke Wasit Majed Al-Shamrani, Bojan Hodak: Kita Akan Lihat!
-
Warga Boyolali Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, Gara-gara Ganti Rugi Waduk Kedungombo Belum Dibayar
-
Persib Bandung Gugur di AFC Champions League Meski Menang Tipis Lawan Ratchaburi FC
-
KPK akan Dalami Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi Menag dari Ketum Hanura OSO
-
7 Fakta Viral Warga Sumsel di Kamboja, Mengaku Dijual dan Minta Pulang ke Palembang
Terkini
-
Emiten Milik Suami Puan Maharani Bakal Rights Issue Tahun 2026
-
Aturan Makan di LRT, KRL, dan MRT Selama Ramadan 2026
-
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun Lagi, Harganya Makin Murah
-
Jaga Stabilitas Rupiah, BI Diramal Tahan Suku Bunga
-
BEI Gembok Saham WIKA, Ini Alasannya
-
Sawah Rusak 94 Ribu Hektare di Sumatra, Mentan Minta Tambahan Dana Rp2,1 Triliun untuk Perbaikan
-
Daftar Pemutihan Pajak Kendaraan Semua Daerah Februari 2026
-
Intip Kondisi Keuangan MPPA, Saham Layak Dibeli saat Ramadan?
-
Koperasi Merah Putih Akan Lemahkan Ketahanan Ekonomi Desa
-
Koperasi Merah Putih Telan Anggaran Jumbo, Desa Tak Bisa Biayai Layanan Dasar