Suara.com - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), salah satu raksasa ritel konsumen di Indonesia, baru saja merilis laporan keuangan audit untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Emiten ini cukup menarik diamati, terlebih di momen bulan Ramadhan. Saham MPPA pada Rabu (18/2/2026) ditutup di harga Rp58, menguat cukup signifikan dalam sehari.
Laporan tersebut menyajikan potret yang kontradiktif: di satu sisi perusahaan berhasil menjaga momentum pertumbuhan penjualan, namun di sisi lain struktur permodalan perusahaan mengalami tekanan hebat hingga masuk ke area defisiensi modal.
Sepanjang tahun 2025, emiten pengelola jaringan Hypermart ini harus berjibaku dengan kenaikan beban operasional yang melampaui pertumbuhan pendapatan.
Berdasarkan data audit per 31 Desember 2025, total aset MPPA tercatat sebesar Rp3,59 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 0,9% dibandingkan posisi akhir tahun 2024 yang sebesar Rp3,56 triliun.
Aset lancar perusahaan melonjak 13,8% menjadi Rp2,08 triliun. Kenaikan ini didorong oleh penumpukan persediaan yang mencapai Rp1,41 triliun serta kenaikan pada pos piutang lain-lain.
Sebaliknya, aset tidak lancar justru menyusut 12,7% menjadi Rp1,51 triliun. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari strategi efisiensi jaringan gerai yang mengakibatkan penurunan aset hak-guna serta penyusutan rutin aset tetap perusahaan.
Namun, sorotan utama tertuju pada sisi liabilitas dan ekuitas. Total kewajiban atau liabilitas perusahaan membengkak 5,4% menjadi Rp3,60 triliun.
Kenaikan ini didominasi oleh kewajiban jangka pendek yang naik 9,8% ke angka Rp2,58 triliun, yang dipicu oleh ketergantungan pada utang usaha dan pinjaman bank jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Libur atau Tidak? Ini Jadwal Resmi Bursa dan Analisisnya
Kondisi yang paling mengkhawatirkan terlihat pada posisi ekuitas. MPPA mencatatkan defisiensi modal sebesar negatif Rp2,24 miliar, berbanding terbalik dengan posisi ekuitas positif Rp150,26 miliar pada akhir 2024. A
kumulasi saldo defisit akibat kerugian tahun berjalan menjadi faktor utama yang melenyapkan seluruh bantalan modal perusahaan.
Dari sisi performa operasional, MPPA sebenarnya mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 1,9% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) menjadi Rp7,25 triliun.
Kontribusi terbesar dalam pertumbuhan ini datang dari segmen penjualan grosir yang menunjukkan kinerja positif sepanjang 2025.
Sayangnya, pertumbuhan pendapatan ini tidak mampu mengimbangi lonjakan beban. Rugi bersih tahun berjalan tercatat membengkak 28,8% YoY menjadi Rp152,2 miliar, dibandingkan kerugian Rp118,1 miliar pada tahun sebelumnya.
Membengkaknya kerugian ini disebabkan oleh tiga faktor utama: kenaikan beban pokok penjualan, beban pajak penghasilan, serta beban penjualan yang tetap tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Rekomendasi Saham Saat IHSG Anjlok Parah dan Ketidakpastian Politik
-
Realisasi KUR Mandiri Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026
-
Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar
-
Moodys: Kontrol Ekspor Tambang oleh SDI Bikin Indonesia Ditinggal Investor
-
Operasi CANTVR Dihentikan, Diduga Tawarkan Investasi Ilegal
-
Produk Ekspor Indonesia Bisa Laku di Karena Rupiah Melemah, Tapi Ada Syaratnya
-
Rupiah yang Memble Jadi Tantangan Industri Logistik, Ini Strategi SiCepat Ekspres
-
Panasonic GOBEL Hadirkan ART with HEART: Pamerkan 70 Karya Seniman Difabel dan Senior
-
Danantara Minta Pengusaha Tenang, Kontrak Ekspor Tak Diutak-atik
-
IHSG Rontok Gegara Danantara Sumberdaya? Ini Jawaban Pandu Sjahrir