- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mengklarifikasi rencana Penambahan Modal II via *rights issue* untuk memperkuat finansial tanpa beban bunga tinggi.
- Dana PMHMETD II akan dialokasikan untuk akuisisi, belanja modal properti, dan pelunasan kewajiban perusahaan serta anak usaha.
- Pemegang saham utama berkomitmen penuh dalam *rights issue* kedua dan siap menjadi pembeli siaga jika ada saham tidak terserap.
Suara.com - Manajemen PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait rencana besar perseroan untuk menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II atau rights issue.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkokoh fondasi finansial perusahaan tanpa harus terbebani bunga pinjaman yang tinggi.
Dalam keterbukaan informasi yang dirilis pada Kamis (19/2/2026), manajemen BUVA menegaskan bahwa pemilihan skema rights issue dibandingkan pinjaman perbankan bertujuan untuk meminimalisir beban keuangan jangka panjang.
Selain itu, mekanisme ini memberikan ruang bagi pemegang saham eksis untuk berpartisipasi langsung dalam mendukung peta jalan pertumbuhan perusahaan.
Aksi korporasi ini dipastikan mendapat dukungan kuat dari jajaran pemegang saham utama. PT Nusantara Utama Investama bersama tokoh bisnis Happy Hapsoro—yang juga merupakan suami dari Ketua DPR RI Puan Maharani—telah menyatakan komitmennya untuk mengeksekusi hak mereka.
Tidak hanya menjalankan haknya, para pemegang saham pengendali ini bahkan bersiap bertindak sebagai pembeli siaga jika terdapat porsi saham masyarakat yang tidak terserap.
Dukungan ini menjadi sinyal positif bagi pasar mengenai kepercayaan investor utama terhadap masa depan emiten pengelola properti mewah ini.
Alokasi Dana: Dari Akuisisi hingga Pengembangan di Bali
Manajemen memproyeksikan dana segar yang dihimpun dari pasar akan digunakan secara terukur untuk beberapa pos strategis, antara lain:
Baca Juga: Saham INET Meroket Lagi Hari Ini: YTD Tembus 1.200 Persen, Ada Update Right Issue
- Pertumbuhan Anorganik: Melakukan pengambilalihan atau akuisisi perusahaan lain yang dinilai memiliki nilai strategis guna memperluas portofolio bisnis.
- Belanja Modal (Capex): Pembelian lahan baru serta pengembangan aset-aset properti yang sudah ada.
- Penyehatan Neraca: Melunasi sejumlah kewajiban atau utang perseroan maupun anak usaha guna meningkatkan rasio solvabilitas.
- Target Free Float: BUVA optimis melalui skema ini, porsi kepemilikan saham publik (free float) dapat meningkat hingga menyentuh level 15%, yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perdagangan saham di bursa.
"PMHMETD II muncul atas dinamika dan peluang yang berkembang," tulis manajemen BUVA dalam penjelasannya mengenai urgensi pendanaan tersebut.
Selain memaparkan rencana masa depan, BUVA juga melaporkan transparansi penggunaan dana hasil rights issue tahap pertama yang dilaksanakan pada November 2025 lalu.
Dari total dana yang terhimpun sekitar Rp603 miliar, perusahaan telah merealisasikan sejumlah agenda besar:
- Akuisisi PT Bukit Permai Properti (BPP): BUVA sukses menguasai 99,99% saham BPP dengan total nilai transaksi mencapai Rp536,2 miliar. Pendanaan ini dikombinasikan antara hasil rights issue (Rp416,2 miliar) dan kas internal (Rp119,9 miliar).
- Proyek Pecatu, Bali: Perseroan telah mengucurkan dana sebesar Rp76,6 miliar untuk pengembangan lahan di kawasan elite Pecatu, Bali.
- Sisa Dana: Saat ini, masih terdapat sisa dana dari tahap pertama sebesar Rp107,4 miliar yang disimpan sebagai cadangan pengembangan aset di masa mendatang.
Hingga saat ini, pihak manajemen masih melakukan pengkajian internal terkait harga pelaksanaan dan rasio saham untuk rights issue tahap kedua ini.
Berita Terkait
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Di Tengah Pasar Ambyar, Emiten Happy Hapsoro Siap Guyur Rp 250 M Buat Buyback
-
Saham BUVA Masuk MSCI? Analis Ungkap Potensi Emiten Happy Hapsoro
-
Daftar Saham Potensi Indeks MSCI Februari 2026, Ada BUMI Sampai BUVA
-
Rekomendasi Saham-saham yang Patut Dicermati Senin 12 Januari 2026
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Sosok di Balik Danantara Sumberdaya Indonesia, Direksinya Orang Asing
-
Cara Investasi SBN untuk Pemula Saat Suku Bunga Naik dan Berapa Minimal Belinya?
-
Ini Alasan Hulu Migas Dikecualikan dari Skema Ekspor DSI
-
Rupiah Melemah dan Suku Bunga Naik, Ini 3 Tipe Investasi untuk Pemula Amankan Tabungan
-
Profil Luke Thomas Mahony, WN Australia Eks Petinggi Vale Jadi Dirut PT DSI
-
Ekspor Mineral Disentralisasi ke Danantara, Bahlil Klaim Akhiri Modus Transfer Pricing
-
5 Jenis KPR untuk Solusi Cicilan Nasabah dan Dampaknya Jika BI Naikkan Suku Bunga
-
IHSG Anjlok Usai DSI Dibentuk, Purbaya Sebut Investor Belum Paham Badan Ekspor Baru
-
Indonesia dan Pertamina Perkuat Kolaborasi Hadapi Geopolitik Demi Ketahanan Energi Nasional
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN