Suara.com - Beberapa kali momen birunya langit di Jakarta ketika penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama masa pandemi Covid-19 ternyata hanya visual saja dan tidak berpengaruh secara substansial terhadap membaiknya kualitas udara di Jakarta.
Hal ini diungkap oleh Analis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Isabella Suarez. Ia mengungkapkan, kualitas udara di Jakarta selama pandemi memang menunjukan adanya penurunan tingkat polusi udara, dari 40 mikrogram per meter kubik PM 2.5 pada 2019, turun 2 poin jadi 38 mikrogram.
"Sebenarnya bukan penurunan yang sangat besar. (Angka tersebut) masih hampir tiga kali lipat dari tingkat paparan PM 2.5 udara tidak sehat yang direkomendasikan WHO. Hal ini masih sangat merugikan kesehatan manusia," ujar Isabella dalam sebuah video yang diunggah melalui akun komunitas Bicara Udara, ditulis Rabu (31/3/2021).
Lanjutnya, penurunan tingkat kualitas udara yang tetap terjadi selama pandemi Covid-19, justru mengkhawatirkan karena beberapa aktivitas di Jakarta dan di seluruh Indonesia berhenti dan beralih secara virtual selama tiga bulan ketika PSBB diberlakukan secara ketat.
"Bahkan kami tidak melihat penurunan tingkat polusi udara (di Jakarta) secara substansial seperti yang kami lihat di belahan dunia lainnya," ungkapnya.
Jika dilihat lebih jauh, Jakarta bukan hanya satu-satunya kota besar dengan tingkat polusi udara di Indonesia. Isabella mengungkapkan bahwa kota lain seperti Tangerang Selatan memiliki 74,9 dari tingkat paparan PM 2.5 udara tidak sehat pada tahun lalu.
"IQAir melaporkan kota mana saja yang dimonitor dan dapat diakses datanya, yang memiliki PM 2.5 di atas level yang direkomendasikan, yakni Jakarta, Bekasi, Surabaya, Pekanbaru dan Ubud. Mereka memiliki PM 2.5 di atas 20 mikrogram per meter kubik pada tahun 2020," paparnya.
Untuk mengurangi dampak buruk tersebut, Isabella menyampaikan langkah yang harus dilakukan adalah dengan adanya transparansi data dan ini merupakan hal yang sedang digiatkan oleh banyak kelompok di lapangan.
Saat ini ada kelompok sektor swasta tertentu yang menyediakan teknologi agar kita dapat memantau dampak (polusi udara). Salah satunya adalah aplikasi bernama Nafas yang berdiri sejak tahun 2019 dan sudah memiliki begitu banyak alat monitoring udara di sekitar Jakarta.
Baca Juga: Polusi Sebabkan Penis Menyusut, Begini Langkah Pencegahannya
Ketika data mengenai kualitas udara yang baik semakin mudah diakses, maka hal itu akan membantu untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dan pada gilirannya membantu semua pihak untuk memperbaiki kualitas udara.
"Mereka sedang berkembang. Mereka akan menunjukkan Anda lokasi tertentu di kota dan tingkat polusi udara di lokasi tersebut. Data tersebut dapat diakses setiap jam, setiap hari. Jadi, Anda sadar betul tentang apa yang sedang Anda hadapi," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Cashlez Kantongi Dana Rp237,2 Miliar dari Rights Issue, Siap Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
-
Kobaran Api Kepung Hutan Gunung Jati
-
Deepfake AI Teror Mahasiswi PTN di Solo, Polisi Kantongi Profil Terduga Pelaku
-
Penjualan Semen SIG Tembus 18,27 Juta Ton, Naik 5,6% di Tengah Persaingan Ketat
-
Anggaran Militer Melejit Rp187 T, Kabinet Bayangan: Mau Perang dengan Korbankan Demokrasi?
-
Siap-Siap! Jatim Usulkan 2.100 Kursi CPNS 2026, Ini Bocoran Jadwalnya
-
IHSG dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur, Gubernur BI Buka Suara
-
Minat Investor Asing Akuisisi Bank Indonesia Masih Tinggi, Proses Merger BPR/BPRS Terus Bertambah
-
Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie
-
Karnaval Tanpa Dentuman: Pemkot Malang Tegas Larang Sound Horeg di HUT RI