Suara.com - Harga minyak mentah bergerak dalam tekanan pada perdagangan akhir pekan lalu. Harga minyak turun tipis di tengah naiknya pasokan produsen utama serta kekhawatiran atas gambaran beragam dampak pandemi covid19 terhadap demand minyak.
Mengutip CNBC, Senin (12/4/2021) minyak Brent di pasar futures untuk kontrak pengiriman bulan Juni turun 25 sen ke 62,95 dolar AS per barel. Kontrak harga Minyak WTI pengiriman bulan Mei turun 28 sen ke level harga 59,32 dolar AS per barel.
Kedua kontrak harga berada di jalur penurunan 2-3 persen minggu ini tetapi masih jauh dari level terendah 60,47 dolar AS yang dicapai dua minggu lalu.
Tekanan harga telah diberikan oleh keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak ( OPEC ) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, untuk meningkatkan pasokan sebesar 2 juta barel per hari antara Mei dan Juli.
"Prospek permintaan minyak yang menguntungkan sebagian besar diimbangi oleh perkiraan peningkatan produksi OPEC + yang bisa mendekati 2 juta barel per hari pada akhir Juli," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.
Sementara pengebor AS mempertahankan jumlah rig minyak tidak berubah minggu ini, demikian menurut data perusahaan jasa energi Baker Hughes Co. Analis memperkirakan lebih banyak rig diperlukan untuk menjaga produksi tetap stabil.
Penerapan kembali lockdown di beberapa bagian dunia dan masalah program vaksinasi dapat mengancam gambaran permintaan minyak. Stephen Innes, analis di AXI, mengatakan harga minyak diperkirakan dalam kisaran antara 60 dolar AS dan 70 dolar AS karena investor mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.
"Ada dorongan nyata di pasar berdasarkan akselerasi vaksinasi, peningkatan produksi dan lockdown baru, itulah sebabnya kami bergerak ke samping," kata John Kilduff, analis di Again Capital LLC di New York.
Pembicaraan untuk membawa Iran dan Amerika Serikat kembali sepenuhnya ke dalam kesepakatan nuklir 2015 sedang membuat kemajuan.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Harga Minyak Turun Tipis
Tetapi para pejabat Iran menunjukkan ketidaksepakatan dengan Washington mengenai sanksi mana yang harus dicabut.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
MBG Bisa Dijalankan Tanpa Ganggu Kondisi Fiskal, Begini Caranya
-
Asosiasi Bisnis RI - Filipina Resmi Terbentuk, Fokus Atasi Hambatan Dagang
-
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
-
Kisah Bambang Jadi Agen BRILink Nomor 1 di Klaten, Dari Ngontrak hingga Antarkan Anak ke Jepang
-
Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024
-
Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta
-
Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang
-
Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi
-
Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste
-
Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu