Suara.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, pupuk subsidi oleh para petani di Sumatera Utara (Sumut) telah terserap hingga 30 persen hingga April 2021.
Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Jhoni Akim Purba mengatakan, hingga April 2021, penyerapan pupuk urea bersubsidi di Sumut sebesar 18,63 persen dari total alokasi sepanjang tahun yang sebanyak 154.916 ton.
Kemudian penyerapan SP36 sebesar 12,58 persen, NPK 23,67 persen, ZA 10,47 persen dan pupuk organik 19,73 persen dari total alokasi 19.918 ton. Angka ini membuktikan bahwa ketersediaan pupuk subsidi untuk para petani aman.
"Tidak ada kelangkaan pupuk bersubsidi. Penyerapan petani hingga April 2021 rata-rata sudah 30 persen," ujar Jhoni.
Jhoni menjelaskan, kalau pun ada gangguan, kemungkinan karena kios atau distributor belum menebus. Bisa juga petani belum menyerahkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
"Soal RDKK diakui jadi masalah khususnya di saat pilkada. Petani ragu dan tidak mau memberikan KTP dan kartu keluarga dengan alasan takut disalahgunakan untuk keperluan bakal calon kepala daerah. Yang pasti pupuk bersubsidi tidak langka, " tegas Jhoni.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengapresiasi penyerapan pupuk di Sumut. Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa SYL itu menegaskan, pengawasan dan pengawalan distribusi pupuk bersubsidi harus dilakukan bersama.
"Pupuk bersubsidi adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk membantu petani meningkatkan produktivitas untuk menjaga ketahanan pangan. Oleh karena itu, program ini harus sama-sama kita awasi dan kawal agar tepat sasaran," katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sarwo Edhy. Sebab, jumlah pupuk bersubsidi yang jumlahnya sangat terbatas ini, sangat membantu peningkatan produksi tanaman petani sehingga perlu dikawal semua pihak dalam proses distribusinya.
Baca Juga: Penggunaan Alsintan Percepat Waktu Panen Petani Bojongemas Bandung
"Jumlah pupuk bersubsidi sangat terbatas. Oleh karena itu, pupuk subsidi sifatnya membantu petani. Kita pun mendistribusikannya secara tertutup dengan data di eRDKK," katanya.
Sarwo Edhy menambahkan, penerima pupuk bersubsidi sendiri sudah diatur dalam Permetan Nomor 49 tahun 2020.
"Dalam Permentan disebutkan, petani yang berhak menerima pupuk bersubsidi adalah petani yang memiliki KTP, memiliki lahan maksimal 2 hektare, tergabung dalam kelompok tani, dan telah menyusun eRDKK," tutupnya.
Berita Terkait
-
Embung dan Dam Parit Jadi Solusi Masalah Kekurangan Air di Karawang
-
Kepala BPS: Sektor Pertanian Konsisten Tumbuh Positif
-
Nahas, Petani di Jombang Tewas Kesetrum Jebakan Tikus yang Dibuat Sendiri
-
Tingkatkan Indeks Pertanaman, Petani di Karawang Gencarkan Program RJIT
-
Kementan Sebut Food Estate Kalteng akan Jadi Kiblat Lumbung Pangan Nasional
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, Dari Rumah Charging hingga SPKLU
-
Saham HOTL Terancam Delisting, Manajemen Tegaskan Itikad Baik ke BEI
-
Fundamental Bank Mandiri Tetap Kuat di 2025, Dorong Intermediasi & Dukung Program Pemerintah
-
6 Fakta Skandal IPO REAL, Manipulasi Berbuntut Izin UOB Kay Hian Dibekukan
-
Menko Airlangga ke Anggota APEC: Ekonomi Dunia Menuntut Perubahan Besar
-
Moodys Beri Rating Negatif, Pemerintah: Ekonomi Tetap Solid di Level Investment Grade
-
Mengenal Kakeibo, Seni Menabung Tradisional Jepang untuk Mencapai Kebebasan Finansial
-
Saham BUMI Banting Harga Ekstrem, Lalu Diserok Investor Asing
-
Emas ETF Global Diborong Investor Tembus 120 Ton, Efek Ancaman Perang Dunia?
-
Bitcoin Terperosok ke USD 60.000, Analis Indodax Ungkap Dampaknya ke Pasar Kripto