Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan pemberian dana bantuan dari Dana Moneter Internasional atau Internasional Monetary Fund (IMF) sebesar Rp 90,2 triliun yang berupa Special Drawing Rights (SDR) bukan dianggap sebagai utang negara.
Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi mengatakan, dana bantuan tersebut diberikan kepada IMF dalam rangka mendukung ketahanan seluruh negara dalam menghadapi pandemi Covid-19. Maka dari itu, dana itu ditempatkan di cadangan devisa.
Doddy melanjutkan, SDR yang diberikan dari IMF juga tidak sama dengan krisis moneter 1998 yang mana wajib untuk dikembalikan negara.
"Waktu itu (krisis moneter) memang hutang yang memang harus dikembalikan. Sementara SDR ini yang kita terima itu bukan utang. Tidak ada batas waktunya, tidak ada SDR yang kita terima saaat ini harus dikembalikan. Karena alokasi SDR semacam dana yang bisa mendapatkan cadangan devisa bersama. Bukan utang, tidak ada batas waktu," ujar Doddy dalam Taklimat Media Virtual, Rabu (8/9/2021).
Menurut Doddy, tidak hanya Indonesia saja yang mendapatkan dana bantuan tersebut dari IMF. Negara-negara yang terdampak dan menjadi anggota juga diberikan dana oleh IMF.
Dibandingkan negara-negara lain, pemberian dana bantuan IMF masih lebih kecil. Namun, BI bersyukur dengan pemberian dana bantuan tersebut.
"Karena didistribusikan berdasarkan kuota dan AS punya kuota paling besar di IMF itu dia yang paling banyak dapat SDR kemudian negara-negaea eropa, Jepang juga. SDR yang mereka terima jauh lebih besar dari indonesia, karena kita lebih kecil," ucap dia.
Doddy juga menegaskan, pemberian dana bantuan ini bukan berarti kondisi Indonesia tengah dalam kesulitan. Justru, kehadiran dana bantuan IMF itu membuat struktur cadangan devisa Indonesia menjadi kuat.
Doddy menambahkan, meskipun tak mendapat dana bantuan IMF, cadangan devisa Indonesia cukup untuk menghadapi gejolak ke depannya.
Baca Juga: Atur Perdagangan Kripto, Kemendag Bakal Gandeng BI dan Lembaga-lembaga Lain
"Tambahan cadangan devisa yang berasal dari SDR terjadi di saat cadev kita sudah sangat cukup untuk menghandel kalau ada tekanan berikutnya. Jadi tambahan ini akan betul kita terima dengan baik, akan memperkuat. tapi bukan berasal dari kita kesulitan dan bukan karena permintaan kita," tutur Doddy.
Untuk diketahui, BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2021 sebesar USD 144,8 miliar. Cadangan devisa itu, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Juli 2021 sebesar USD 137,3 miliar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Inflasi Mei 2026 Naik Lagi, Harga Cabai hingga Bawang Merah Tekan Daya Beli Masyarakat
-
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih
-
Tiket Pesawat Berpotensi Naik, Pemerintah Izinkan Maskapai Kenakan Fuel Surcharge hingga 50 Persen
-
Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Fasilitas Operasi dan Stabilitas Pasokan Energi di Bali
-
Rupiah Melemah! Wisatawan Singapura Mulai Serbu Jakarta untuk Belanja, Mulai Kemang Hingga SCBD
-
Dukung Kualitas Pendidikan & SDM,Dewan Komisaris Pertamina Berbagi Inspirasi di Sekolah Area Operasi
-
Pemerintah Resmi Izinkan BUMN Impor Migas Tanpa Tender, Berlaku Saat Kondisi Darurat
-
Telkom Akses Raih Penghargaan IRCA 2026 atas Komitmen Tata Kelola dan Kepatuhan Regulasi
-
Rupiah Jadi Mata Uang Asia Paling Terburuk, Sentuh Level Rp17.887 per Dolar AS
-
IHSG Terbang pada Selasa Pagi ke Level 6.200-an, DSSA Hingga BREN Topcer