Suara.com - Tingginya harga kedelai dunia saat ini ternyata tak membuat para importir kedelai untung besar, pasalnya selisih harga beli dan jual tidak jauh berbeda.
Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga saat dihubungi suara.com, Senin (14/2/2022).
"Yah tidak begitu (untung), karena kami ini kan beli harga pasar global dan kami jual juga dengan harga pasar," kata Hidayatullah.
"Kalau untung yah untung, tapi tidak untung besar, kami ini pedagang tentu cari selisih," tambahnya.
Selama ini kata dia para importir kedelai langsung memasok kebutuhan kedelai langsung kepada para Koperasi Tahu Tempe Indonesia atau KOPTI sehingga rantai pasoknya jadi lebih pendek.
"Karena kami kan selama ini langsung mendistribusikan ke KOPTI, jadi rantai pasoknya jadi lebih pendek, kalau tidak mungkin harganya akan lebih tinggi," katanya.
Berdasarkan data Chicago Board of Trade (CBOT), harga kedelai pada minggu kedua Februari 2022 mencapai USD15,77 per bushels. Harga ini diperkirakan terus naik hingga Mei yang mencapai USD15,7 per bushels dan mulai turun pada Juli sebesar USD15,74 per bushels.
Kondisi ini membuat para pengrajin tahu dan tempe berencana kembali untuk mogok produksi, setelah mendapati harga kedelai yang tinggi sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe.
Ketua Umum Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin membenarkan, sebagian dari pengrajin memang akan mogok produksi, terutama pengrajin di wilayah Jabodetabek.
Baca Juga: Harga Kedelai Mahal, Importir Hanya Bisa Pasrah
"Ada (rencana mogok). Jadi sebagian yang mau mogok, di daerah jakarta, Jabodetabek, dan beberapa daerah lain," ujar Aip.
Menurut Aip, jika dipaksa untuk melakukan produksi, maka pengrajin akan terus mendapatkan kerugian. Sebab, keuntungan dari produksi yang dilakukan, ketika harga kedelai naik hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
"Ya keuntungannya itu hanya untuk makan, intinya itu, berbeda dengan pengusaha lain, bisnis, ini, untung jadi modal. Kalau tukang tahu tempe sampe ratusan tahun ya begini-begini aja, karena kultur budaya seperti itu," jelas dia.
Untuk mengatasi ini, Aip meminta pemerintah harus turun tangan dalam kenaikan harga kedelai. Salah satunya, dengan mengatur harga kedelai agar tidak terus-menerus mengalami kenaikan.
"Jangan naik seperti sekarang ini, naiknya setiap hari, sehari, dua hari naik lagi. Sehingga kalau kita bikin tempe, bikin tempe ini 3 hari, hari keempat baru jadi, jadi kalau kita bikin tempe, beli kedelai 20 kg tiap hari beli itu," imbuh dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Sambut HUT ke-28, Bank Mandiri Kembali Gelar Donor Darah Serentak di 12 Region
-
Bank Jago Fokus Inovasi Fitur untuk Gaet Nasabah, Gimana Kinerja Sahamnya?
-
BBKP Pangkas Jumlah Karyawan dan Tutup Kantor Cabang, Ini Penyebabnya
-
Jadi Pertimbangan Serok, Harga Emas Batangan Diproyeksi Anjlok Pekan Depan
-
Pertamina Rombak Besar-besaran, 31 Anak Perusahaan Resmi Direstrukturisasi
-
Warga Malaysia Sering Kepo Kecanggihan Whoosh
-
Enaknya Jadi Komisaris Bank, Bisa Kredit Fiktif dan Manipulasi Pembukuan
-
BNI Perkenalkan Logo HUT ke-80, Simbol Pengabdian dan Komitmen Melayani Negeri
-
IHSG Melambat, Volume Transaksi Terpangkas Lebih dari 3 Persen
-
Purbaya Rombak Beasiswa LPDP, 80 Persen Kini untuk Bidang STEM