Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta nasabah mencermati terlebih dahulu sebelum memilih produk-produk jasa keuangan. Salah satunya, produk jasa keuangan non bank asuransi.
Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK, Riswinandi menjelaskan, saat ini banyak masyarakat salah kaprah yang melihat asuransi sebagai investasi.
Padahal, asuransi adalah produk jasa keuangan yang berfungsi sebagai proteksi atau perlindungan.
"Kenapa, ada investasi ini karena asuransi ini adalah proteksi. Proteksi setiap bulan harus dibayar supaya ada pihak lain yang mengcover. Ada salah kaprah dengan investasi ini," ujar Riswinandi dalam Pelatihan Wartawan OJK, Medan yang ditulis Minggu (27/3/2022).
Dia melanjutkan, saat ini pemegang polis harus memahami betul produk asuransi yang berbasis investasi.
Saat ini, ungkap Riswinandi, banyak perusahaan yang menawarkan iming-iming ke calon pemegang polis di mana asuransi bisa sebagai investasi di masa depan. Hal ini, karena sebagian premi akan disalurkan ke pasar modal.
Akan tetapi, sebenarnya premi asuransi yang dibayarkan itu buat menutup biaya kesehatan pemegang polis lainnya. Sehingga, jika terdapat pemegang polis yang tidak mampu bayar premi, maka hasil premi dari pasar modal yang menanggung premi tersebut.
"Kalau sampai suatu saat tidak bisa membayar hasil investasi ini yang dipakai bayar premi atau biaya asuransinya. Kalau kita bisar bayat premi, bisa bayar sebagian premi, maka dibayar proteksi. Tapi, suatu saat tidak bisa melakukan bayar, untungnya sudah melakukan investasi untuk membayar," ucap dia.
Maka dari itu, Riswinandi mengingatkan, agar calon pemegang polis harus memahami apa saja penawaran dari agen asuransi. Jangan, menyetujui apapun atau menandatangani perjanjian sebelum memahami produk asuransi.
Baca Juga: Jangan Sampai Ketipu! Ini 11 Daftar Investasi Bodong Versi OJK dan Cara Mengenalinya
"Kesepakatan ada penggalian informasi atau formulir yang disepakati, kalau dia sudah paham harus tanda tangan. Kalau dia nggak paham ditulis untuk tidak melanjutkan dan tanda tangan," imbuh dia.
Berita Terkait
-
Jangan Sampai Ketipu! Ini 11 Daftar Investasi Bodong Versi OJK dan Cara Mengenalinya
-
Jasindo Optimis Premi Asuransi Barang Milik Negara Tumbuh Signifikan
-
Pasar Metaverse Capai Rp21 Ribu Triliun Pada 2030, Bank-bank Dalam Negeri Rebutan Masuk Virtual
-
Banyak yang Tertipu Produk Unit Link Asuransi, Nasabah Harus Bagaimana?
-
Buka Rakor OJK, Ganjar Cari Cara Agar Masyarakat Mudah Akses Keuangan yang Aman
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Harga Plastik Melonjak Tinggi Gegara Minyak, Sektor Industri Terancam?
-
Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng
-
Wamentan Klaim Indonesia Surplus 800.000 Hewan Kurban
-
Suara Konsumen: Kartu Kredit Maybank Belum Diterima, Tapi Sudah Dipakai
-
Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Wilmar dan Musim Mas Jadi Sorotan Dunia
-
Kanwil DJP Intensif Penagihan Aktif, Nunggak Pajak Rekening Bisa Diblokir?
-
Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah
-
Taipan RI Berharta Rp243 T Justru Gadai Saham Demi Dapat Utang Bank
-
Alasan Rekening Warga Senilai Rp330 Miliar Tiba-tiba Diblokir Dirjen Pajak