Suara.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati melakukan kunjungan kerjanya di Washington D.C, Amerika Serikat (AS), pada kunker tersebut dirinya melakukan pertemuan dengan Managing Direktur International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva dan Director General World Trade Organization (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah isu dan permasalahan yang saat ini dihadapi dunia menjadi topik hangat pembicaraan, salah satunya soal krisis pandemi dan krisis geopolitik.
Sehingga kata dia situasi pertumbuhan ekonomi global saat ini mengalami perlambatan akibat dunia menghadapi dunia krisis di atas krisis.
"Krisis di atas krisis ini berdampak kepada risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sebetulnya sudah mulai pulih di berbagai dunia dan meningkatnya risiko fiskal," jelas Sri Mulyani dikutip dari akun resmi instagramnya, Rabu (27/4/2022).
Persoalan perlambatan pertumbuhan ekonomi global, lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjadi buah pikiran dan perhatian di berbagai belahan dunia.
"Terutama karena dampak dan kemampuan berbagai negara dalam menangani krisis di atas krisis ini berbeda-beda," ujarnya melanjutkan.
Sri Mulyani menjelaskan, peningkatan harga pangan, harga energi, inflasi yang meningkat, dan mulainya pengetatan moneter serta meningkatnya suku bunga akan menjadi tantangan bersama di dunia.
Hal tersebut dinilai perlu membutuhkan kerja sama secara global untuk mengatasinya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, yang memperingatkan bahwa saat ini dunia telah menghadapi guncangan krisis ekonomi global yang disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina dan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.
Baca Juga: Dibawa Sri Mulyani ke G20, Ini 6 Filosofi Nasi Kuning Asli Indonesia
"Dunia yang kita tinggali saat ini, tengah menghadapi krisis di atas krisis," ujarnya.
Pandemi Covid-19, kata Georgieva, saat ini belum berakhir. Ini karena kemungkinan adanya varian baru virus Corona bisa saja muncul atau bahkan lebih menular. Sementara daya beli masyarakat masih belum pulih sehingga tentu akan semakin melebarkan jurang antara negara kaya dan miskin.
Kedua, perang Rusia dan Ukraina juga menimbulkan gelombang kekhawatiran terhadap ekonomi di seluruh dunia. Hal tersebut tentu akan mempersulit pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19 yang saat ini masih berlangsung.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, menurut Georgieva, inflasi menjadi bahaya yang sangat nyata bagi di banyak belahan negara di dunia.
"Ini adalah kemunduran besar bagi pemulihan global dalam hal ekonomi. Pertumbuhan turun dan inflasi naik. Dalam aspek kemanusiaan, pendapatan orang turun dua kali lipat," kata Georgieva.
"Krisis akibat pandemi dan perang semakin diperumit oleh fragmentasi krisis lain yang berkembang dari ekonomi dunia. Mulai dari teknologi yang berbeda, sistem pembayaran standar, dan cadangan devisa yang juga tidak sama antara satu negara dengan negara lainnya," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
Perkuat Investasi Bisnis Indonesia-Korea, KB Bank Gelar 2026 Indonesian Day Business Forum di Seoul
-
Demi Kebutuhan Pabrik, DPR Desak ESDM Beri Tambahan Kuota RKAB ke Vale
-
Harga Jadi Tantangan, PT Vale Catatkan Pendapatan USD 902 Juta
-
Bocoran Menkeu Purbaya: Thomas Djiwandono Deputi Gubernur BI, Tukar Wamenkeu ke Juda Agung
-
Hanya Dapat 30%, Vale Mohon-mohon ke ESDM Agar Tambahkan Kuota RKAB 2026
-
Kementerian PU Rilis Portal Data Real Time Penanganan Bencana Sumatera
-
Antam Duga 6 Korban Tewas di Pongkor Akibat Tambang Ilegal
-
Sinkronisasi dengan BI Rate, LPS Tunda Pengumuman Tingkat Bunga Penjaminan
-
Pelaku UMKM Bisa Gunakan Fitur Ini di GoPay untuk Kelola Keuangan
-
Pulihkan Konektivitas Aceh, Pemerintah Tangani Permanen 6 Jembatan dan 28 Titik Longsor