Suara.com - Inflasi yang kini 'mengurung' sejumlah negara bukan hanya ancaman beberapa negara saja tapi juga bisa menyebabkan efek domino hingga merembet ke Indonesia.
Pada Juni lalu, inflasi di zona Eropa mencapai 8,6 persen imbas konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Lantas, bagaimana kondisi ekonomi Indonesia saat ini?
Penasihat senior lembaga kajian LAB 45, Makmur Keliat mengatakan, kondisi perekonomian dan geopolitik global punya dampak bagi Indonesia.
Sebagai contoh, konflik di Ukraina yang berpengaruh pada pasokan energi dan harga pangan dunia. Tidak main-main, kenaikan harga ini jadi yang paling tinggi dalam 21 tahun terakhir.
"Dari Januari 2022 sebenarnya sudah terlihat tren kenaikan energi meningkat ke atas," jelas Makmur dalam diskusi virtual LAB 45 bertajuk "Dampak Krisis Ekonomi Global terhadap Stabilitas Politik: Berkaca dari Eropa dan Sri Lanka", yang dipantau Suara.com pada Jumat (22/7/2022).
Tren kenaikan harga pangan dan energi itu, lanjut Makmur, menjadi indikator dari banyak laporan di tingkat internasional bahwa ekonomi dunia saat ini sedang mengalami krisis.
"Kita bisa lihat peningkatannya luar biasa, saya kira mudah-mudahan bisa menurun seterusnya. Tetapi saya tak bisa berharap banyak karena perang terus berlanjut," ujar dia.
Menurut Makmur, di tengah situasi krisis ekonomi global, Indonesia diharapkan membuat kerangka regulasi mengenai cadangan energi dan pangan, serta dalam membuat proyeksi ke depan harus selalu mempertimbangkan geopolitical risk.
“Jadi ekonomi makro tidak bisa atau tidak berada dalam ruang hampa geopolitical. Maka asesmen ke depan harus memasukkan variabel geopolitical risk” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Digital Segera Dirilis
Indonesia Masih Jauh dari Resesi
Dari sudut pandang ekonom, menurut Direktur Eksekutif Next Policy Fithra Faisal Hastiadi, inflasi yang dihadapi Indonesia akibat pandemi serta krisis global tidak seperti yang dialami negara lain.
Indonesia, jelas dia, dari sisi komoditas memiliki stok yang berlebih seperti batu bara dan produk pertanian.
"Dari situ kita lihat kondisi over supply, dari input secara umum over supply, pupuk kita masih tersedia, bahkan mau diekspor. Bahkan Pak Jokowi menargetkan swasembada beras," kata dia.
Namun, dia mengingatkan jika tren ekspor komoditas terus dilakukan lantaran berlebihnya pasokan bakal berpotensi menyebabkan kelangkaan di akhir tahun 2022 hingga 2023.
Terkait dengan kemungkinan resesi akibat krisis, Indonesia memiliki kemungkinan kecil. Survei yang dilakukan para ekonom menyebut Indonesia hanya memiliki kemungkinan 3 persen mengalami resesi dibandingkan dengan Sri Lanka yang mencapai 85 persen.
Berita Terkait
-
Media Vietnam Soroti Aturan Ketat Bima Sakti di Timnas Indonesia U-16
-
Thailand Adakan Turnamen Mini di FIFA Matchday September, Ada Malaysia Serta Negara Amerika Latin
-
SUV Compact Mulai Jadi Tren, Apakah Mitsubishi Akan Ikut Serta?
-
Rizki Juniansyah Pertajam Rekor Dunia Snatch di Uzbekistan
-
Rupiah Digital Segera Dirilis
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Pengusaha Jasa Kurir Janji Ikut Tekan Biaya Logistik Nasional yang Masih Tinggi
-
Harga Emas Pegadaian Hari Ini: Antam Naik, UBS dan Galeri 24 Stabil
-
BTN Pertimbangkan Lakukan Buyback Saham, Berapa Nilainya?
-
Punya Kesempatan Beli, Harga Emas Antam Anjlok Rp2.673.000/Gram Hari Ini
-
Jepang dan Jerman Kekurangan Pekerja, Pemerintah Siapkan Talenta RI
-
Nilai Tukar Rupiah Paling Lemah se-Asia Pagi Ini, Nyaris ke Level Rp18.000
-
Jalur Selat Hormuz Mulai Normal, Harga Minyak Dunia Semakin Murah Jadi USD 76,71
-
Selat Hormuz Dibuka, Tarif Sewa Kapal Tanker Meroket Nyaris Dua Kali Lipat!
-
IHSG Langsung Terbang Saat ke Level 6.128 pada Rabu Pagi, Setelah Laporan MSCI
-
Selat Hormuz Dibuka Lagi, Pelaku Logistik Minta Tetap Waspadai Gangguan Rantai Pasok Global