Suara.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi media komunikasi dua pemimpin dunia. Hal itu tercermin saat Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky kompak melakukan panggilan telepon dengan Presiden Jokowi terkait pengiriman gandum dari Ukraina dalam Grain Initiative.
Kesepakatan Grain Initiative antara Rusia dan Ukraina melibatkan Turki dan PBB agar pengiriman gundum dan biji-bijian kembali berjalan setidaknya pada bulan ini. Langkah Presiden Putin dan Zelensky menelpon Presiden Jokowi mendapat tanggapan dari pengamat politik Ali Armunanto.
Menurut Ali Armunanto, keterlibatan Presiden Jokowi dalam masalah itu bukan semata-mata untuk menyelamatkan negara lain dari krisis pangan, tetapi lebih pada memastikan stabilitas pangan dalam negeri.
“Saya rasa bukan semata dalam rangka menyelematkan krisis pangan glohal, tetapi juga dalam rangka mengamankan stabilitas pangan dalam negeri,” kata Armunanto.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mencoba melihat peluang yang bisa menguntungkan Indonesia bila suatu ketika ada terjadi embargo internasional terhadap Rusia. Pasalnya, hingga saat ini Rusia masih terus melakukan invasi kepada Ukraina, karena jika hal tersebut terjadi bukan hanya terjadi ancaman krisis pangan tetapi juga pada melonjaknya harga minyak dan gas.
“Untuk mencegah krisis serta mengambil keuntungan atas embargo internasional terhadap Rusia dengan memanfaatkan harga minyak dan gas yg murah,” ujarnya.
“Dengan langkah tersebut Jokowi telah memastikan stabilitas pangan dan energi Indonesia serta memperkuat kerjasama internasional,” jelasnya.
Disini lain, lanjut dosen politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar itu, aktifnya Presiden Jokowi dalam permasalahan Rusia dan Ukraina sangat tepat dan membawa keuntungan bagi Indonesia secara khusus, karena hal tersebut bisa menciptakan stabilitas ekonomi di Indonesia, serta memperkuat hubungan antara Indonesia-Rusia dan Indonesia-Ukraina.
“Disisi lain stabilitas pangan dan energi akan menciptakan stabilitas ekonomi dan memperkuat stabilitas pemerintahan Jokowi,” tandasnya.
Baca Juga: Partai Politik 'Ojo Kesusu' Sodorkan Nama Bacapres, Ngabalin: Mending Salat Istikharah Dulu Deh!
Sebelumnya, Rusia sempat menarik diri dari kesepakatan Grain Initiative sehingga arus gandum dan biji-bijian lainnya dari Ukraina terblokir di Laut Hitam. Setelah melewati masalah tersebut, Presiden Putin dan Presiden Zelensky kompak melakukan panggilan telepon dengan Presiden Joko Widodo.
Dalam akun twitter-nya @jokowi, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan sambungan telepon dengan Putin. Dia pun menyambut berlanjutnya kesepakatan tersebut.
"Melakukan percakapan telepon dengan Presiden Putin dan membahas Inisiatif Biji-bijian [Grain Initiative] Laut Hitam. Menyambut keputusan untuk bergabung kembali dengan inisiatif tersebut," tulisnya, dikutip Jumat (4/11).
Sementara, percakapan Jokowi dengan Zelensky terungkap dalam cuitan Presiden Ukraina tersebut di akun twitter-nya, @ZelenskyyUa.
"Melakukan panggilan telepon Presiden Indonesia @jokowi. Kami membahas pentingnya melanjutkan Inisiatif Biji-bijian. Ukraina siap untuk terus menjadi penjamin ketahanan pangan global. Perhatian juga diberikan pada persiapan KTT #G20," cuitnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Saham Dinilai Sudah Terlalu Murah, Gimana Nasib BBNI?
-
Astra Perkuat Desa Sejahtera Kemiren, Budaya Osing Jadi Penggerak Ekonomi Warga
-
Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, BPJS Kesehatan Perkuat Fondasi SDM Unggul Indonesia
-
B50 Resmi Jalan, Ekonom UGM Ingatkan Ancaman APBN, Minyak Goreng hingga Deforestasi
-
Danantara Belum Juga Rilis Laporan Keuangan 2025
-
Kemendag Tagih PLN Penuhi Hak Pelanggan Korban Pemadaman, Kompensasi Masih Tunggu Investigasi
-
Saham Perbankan Masih Menarik, BBCA dan BMRI Layak Dikoleksi
-
Mengapa Investor Mulai Menjauh dari Indonesia?
-
Pedagang Online Dukung Kewajiban NIB, Tapi Minta Pemerintah Ikut Atur Potongan Komisi E-commerce
-
PNM Borong GCG Awards 2026, Layani 23,3 Juta Perempuan Prasejahtera hingga Mei