Suara.com - Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memberikan izin ekspor mineral mentah dan olahan pasca 10 Juni 2023. Ijin ini akan diberikan kepada perusahaan yang pembangunan smelternya terkendala.
Keputusan untuk mengizinkan ekspor bijih di luar 10 Juni masih dalam tahap finalisasi. Menurut Menteri Energi Arifin Tasrif, pandemi Covid-19 telah menghambat penyelesaian pembangunan smelter.
Namun, pihaknya membantah bahwa memberikan kesempatan kepada perusahaan untuk mengekspor mineral melebihi 10 Juni adalah bentuk relaksasi terhadap kebijakan pemerintah.
“Sebetulnya enggak perlu relaksasi, memang ada faktor yang kita pertimbangkan yaitu masalah keterlambatan karena Covid-19. Ini yang kita finalkan,” kata Arifin dilansir dari WartaEkonomi.co.id jaringan Suara.com, Jumat (7/4/2023).
Pemerintah telah mulai menilai dampak Covid-19 terhadap pembangunan smelter sejak akhir 2022. Namun, perusahaan seperti Freeport Indonesia dan Amman Mineral telah lama menyatakan kekhawatiran mereka, bahkan sejak April 2020.
Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas menyampaikan paparan terbaru tentang proyek tersebut dalam rapat di Dewan Perwakilan Rakyat pada 27 Maret.
Menurut Tony, proyek smelter perusahaan di Manyar, Gresik, telah mencapai 54,5 persen selesai, melebihi target 52,9 persen.
Proyek tersebut dijadwalkan selesai pada Desember nanti. Kemudian akan memasuki tahap pra-komisi dan komisi hingga Mei 2024. Produksi akan dimulai bertahap dan mencapai puncak pada Desember 2024.
Sementara, Amman Mineral juga telah menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan proyek smelternya.
Baca Juga: Resep Minuman Anti Pusing dari dr.Zaidul AKbar saat Berpuasa, Bisa Dipakai saat Buka Puasa dan Sahur
Dalam informasi yang disampaikan perusahaan secara resmi, hingga Januari 2023, proyek ini terus menunjukkan perkembangan pembangunan dengan realisasi investasi lebih dari 51 persen.
Presiden Direktur Amman Mineral, Rachmat Makkasau, mengatakan, kami akan terus berupaya untuk mengatasi berbagai kendala eksternal yang ada serta berusaha untuk mempercepat proses konstruksi.
Rachmat menambahkan bahwa diperkirakan commissioning smelter akan dilakukan pada Juli 2024 dan beroperasi dengan kapasitas 60% di Desember 2024. Komunikasi secara intensif dengan pemerintah guna mencari solusi terbaik untuk menghadapi berbagai tantangan selama tiga tahun terakhir juga terus dilakukan perusahaan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Mulai 2028, Bensin Wajib Dicampur Etanol 20 Persen
-
Kepala BGN: Program MBG Dongkrak Penjualan Motor jadi 4,9 Juta Unit pada 2025
-
Jelang Imlek dan Ramadan, Pertamina Tambah 7,8 Juta Tabung LPG 3 Kg
-
24 Perusahaan Lolos Seleksi Tender Waste-to-Energy, Lima Diantara Asal China
-
Bahlil Tegas soal Pemangkasan Produksi Batubara dan Nikel 2026: Jangan Jual Harta Negara Murah
-
Wujudkan Asta Cita, BRI Group Umumkan Pemangkasan Suku Bunga PNM Mekaar hingga 5%
-
Susul Bauksit, Bahlil Kaji Larangan Ekspor Timah Mentah
-
Antusiasme Tinggi, Waitlist Beta Bittime Flexible Futures Batch Pertama Gaet Ribuan Partisipan
-
Danantara Mau Beli Tanah Dekat Masjidil Haram, Jaraknya Hanya 600 Meter
-
Mari Elka Pangestu: Rasio Utang Indonesia Masih Terkendali