- Wakil Ketua DEN, Mari Elka Pangestu, menyatakan rasio utang Indonesia terhadap PDB 40,46% masih relatif rendah dibandingkan negara maju.
- Mari menyarankan fokus pada Debt Service Ratio dan efektivitas penggunaan utang untuk memicu pertumbuhan ekonomi nasional.
- Peningkatan utama adalah perluasan basis pajak dan perbaikan administrasi perpajakan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber utang.
Suara.com - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, memberikan pandangannya terkait kondisi fiskal Indonesia, khususnya mengenai posisi utang negara.
Ia menilai rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang saat ini berada di level 40,46 persen masih tergolong rendah dan kompetitif dibandingkan dengan banyak negara lain.
Mari menekankan bahwa masyarakat perlu melihat konteks yang lebih luas dalam menilai kesehatan ekonomi nasional, mengingat banyak negara maju justru memiliki rasio utang yang jauh melampaui angka 100 persen dari PDB mereka.
"Mengenai utang, kalau kita lihat 40 persen dari PDB, sebetulnya relatif rendah ya dibanding dengan banyak negara lain, apalagi negara maju yang sudah di atas 100 persen," ujar Mari di kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026).
Menurut Mari, rasio utang terhadap PDB bukan satu-satunya tolok ukur yang harus diperhatikan. Ia mendorong publik untuk mencermati indikator lain yang lebih substansial, seperti Debt Service Ratio (DSR) atau rasio layanan utang.
Indikator DSR dianggap lebih akurat dalam mencerminkan kapasitas pemerintah untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang tepat waktu.
Selain itu, aspek krusial yang harus dievaluasi adalah efektivitas penggunaan dana utang tersebut bagi pertumbuhan ekonomi.
"Semua negara juga berutang. Yang penting utang itu digunakan untuk menghasilkan pertumbuhan (growth) atau tidak, sehingga bisa membayar kembali utangnya," jelas mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.
Meski menilai posisi utang saat ini masih aman, Mari mengingatkan bahwa pemerintah tidak boleh lengah. Ia menegaskan bahwa meningkatkan penerimaan negara (revenue) dari sektor non-utang tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah dan Kementerian Keuangan.
Baca Juga: Berapa Kg Beras untuk Bayar Fidyah Puasa 30 Hari? Ini Bacaan Niat dan Panduan Lengkapnya
Beberapa langkah strategis yang menjadi "pekerjaan rumah" (PR) penting adalah:
- Perluasan Basis Pajak (Tax Base): Menjangkau potensi pajak baru guna mendiversifikasi sumber pendapatan.
- Perbaikan Administrasi Perpajakan: Meningkatkan kepatuhan dan efisiensi pengumpulan pajak di lapangan.
- Optimalisasi Belanja: Menekan ketergantungan pada utang dengan memastikan setiap pengeluaran pemerintah lebih efisien dan tepat sasaran.
"Bagaimana program fiskal untuk mendapatkan revenue dari sumber lain, bukan hanya dari utang. Itulah mengapa program peningkatan pendapatan, baik dari perluasan basis pajak maupun perbaikan administrasi, menjadi sangat penting," tambah Mari.
Dari sisi pengeluaran (expenditure side), DEN menyoroti adanya ruang besar untuk melakukan pembenahan. Mari menilai efisiensi belanja pemerintah adalah kunci agar stabilitas fiskal tetap terjaga tanpa harus menambah beban utang secara berlebihan di masa depan.
Berita Terkait
-
Utang Pemerintahan Prabowo Meroket ke Rp9.637 Triliun
-
Purbaya Mengaku Belum Diajak Bicara Istana soal Bayar Utang Kereta Cepat Pakai APBN
-
Pakai APBN! Danantara Masih Negosiasi Utang Kereta Cepat Whoosh
-
Purbaya Klaim Indonesia Masih Mampu Bayar Utang Meski Rating Moody's Negatif
-
Moody's Tebar Peringatan Dini buat Prabowo: Kebijakan Ugal-ugalan!
Terpopuler
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Prabowo Bakal Copot Lagi Pejabat 'Telur Busuk', Hashim Djojohadikusumo: Semua Opsi di Atas Meja
- 35 Link Poster Ramadhan 2026 Simpel dan Menarik, Gratis Download!
- Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua: Pilot dan Kopilot Gugur Usai Mendarat
Pilihan
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
Terkini
-
Bea Cukai Segel Toko Perhiasan Mewah Tiffany & Co, APEPI: Negara Hadir Lindungi Industri Lokal
-
Purbaya Pede Ekonomi Ekspansif hingga 2033: Indonesia Emas, Bukan Indonesia Suram
-
Purbaya Yakin Defisit APBN Bisa Turun Meski Pajak Tak Naik
-
Kepala BGN: Program MBG Diakui Jadi Program yang Bermanfaat
-
Survei: 77% Orang Indonesia Perkirakan Tetap Bekerja Saat Pensiun
-
Rosan Roeslani Lobi-lobi Moody's dan S&P Beri Rating ke Danantara
-
Luhut Sebut Prabowo Tak Bisa Diintervensi Terkait Evaluasi Izin Tambang Martabe
-
Flyjaya Resmi Layani Rute Morowali, Cek Link Tiketnya di Sini
-
IPC TPK Catat Bongkar Muat 299 Ribu TEUs di Awal 2026
-
Nasib Tambang Emas Martabe Diumumkan Pekan Depan