Suara.com - Sumber Daya Air (SDA) di dalam negeri sungguh melimpah, dan memiliki potensi besar jika dikelola. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan curah hujan yang tinggi.
Namun sayangnya, Indonesia belum mampu mengelola SDA dengan baik, sehingga karunia yang ada menjadi sia-sia.
Staf Khusus Menteri PUPR Bidang Sumber Daya Air & Indonesia Water Institute, Firdaus Ali mengungkapkan, ketidakmampuan pengelolaan SDA tercermin dari jumlah bendungan di dalam negeri.
"Negara kita sebenarnya negara yang dianugerahi oleh tuhan dengan curah hujan yang tinggi, rata-rata 2.700-2.800 per tahun. Ini curah hujan yang sangat luar biasa, tapi permasalahannya apa? kita tidak memiliki kemampuan mengelola SDA," ujarnya dalam Seminar Ketahanan Air - Teknologi untuk Indonesia di Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jumat (22/9/2023).
Firdaus memaparkan, sebelum pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), Indonesia hanya memiliki 234 bendungan di seluruh Indonesia. Dari total jumlah bendungan itu, memiliki total kapasitas sebesar 12 miliar meter kubik.
Jika dibagi dengan jumlah populasi, kapasitas bendungan di dalam negeri hanya 48 meter kubik per kapita.
"Angka ini jauh di bawah Thailand yang 1.277 meter kubik per tahun, kita di bawah Ethiopia, Laos, dan Nepal, ini sangat menakutkan dan mengerikan sekali menurut saya," ucap dia.
Namun, lanjut Firdaus, untuk mengatasi hal ini, Pemerintahan Jokowi pun mempercepat pembangunan infrastruktur dengan membangun 61 bendungan baru dan 5 bendungan lama yang diselesaikan.
"Jika ini selesai hingga 2025 nanti, maka kita meningkat dari 48 ke 58 meter kubik per kapita per tahun, masih sangat jauh sekali, dibandingkan dengan Thailand," imbuh dia.
Sementara, Rektor Universitas Pertahanan RI RI Letnan Jenderal TNI Jonni Mahroza mengatakan, kondisi ketahanan air di Indonesia saat ini sedang menuju ke krisis air, ditandai dengan terjadinya kekeringan di Nusa Tenggara (NTT, NTB), Maluku, Jawa (Gunung Kidul), dan terjadinya banjir di DKI, Bandung dan beberapa kota lainnya sebagai dampak dari perubahan iklim.
Dampak dari perubahan iklim ini disebabkan oleh pencemaran lingkungan, terutama pencemaran udara oleh CO2, NO3, dan HSO2, yang berkontribusi pada efek rumah kaca dan hujan asam. Efek rumah kaca memiliki dampak yang signifikan pada peningkatan suhu global, termasuk suhu perairan laut. Peningkatan suhu laut ini telah memicu fenomena seperti badai El Nino dan La Nina, yang mengakibatkan timbulnya spot-spot daerah yang terlalu basah dan terlalu kering.
Baca Juga: Menhub Terpesona Nama Kereta Cepat WHOOSH: Presiden Punya Peran Besar
"Krisis air ke depan dapat memicu perang antar negara, hal ini disebabkan nilai vital air yang mempengaruhi segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkas Mahroza.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959
-
Emas Antam Merosot awal Pekan Ini, Harganya Tembus Rp 2.819.000/Gram
-
Pasar Emas Sedang Konsolidasi? Simak Update Harga Antam dan UBS Hari Ini
-
Keponakan Prabowo Sebut Ekonomi Global Masuk Zona Bahaya
-
PLN Hadirkan SPKLU Ultra Fast Charging Pertama di Kawasan Wisata Aloha PIK 2
-
Target 1,4 Juta Wisatawan, Kawasan Wisata Pesisir Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik
-
Anggaran Dipangkas, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Seniman Jogja hingga Sarjana Menganggur
-
Tren Tobacco Harm Reduction: Produk Alternatif Jadi Pilihan Kurangi Risiko Merokok
-
Hanya Berlangsung 3 Hari, IHSG Pekan Ini Akan Dibayangi Rebalancing MSCI
-
Suku Bunga Kredit Bank Resmi Turun ke 8,76 Persen, OJK Ungkap Proyeksinya