Suara.com - Kala kunjungannya di Kalimantan Tengah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum berencana untuk menengok berbagai wilayah garapan program lumbung pangan atau food estate. Sebab, Jokowi tengah mencari investor untuk realisasi programnya tersebut.
“Belum. Masih mencari investor, investor. Dan yang kami dorong sekarang ini adalah investasi, bukan dari APBN,” ungkapnya usai peresmian Rehabilitasi dan Renovasi Sarana dan Prasarana Pendidikan, dikutip Senin (1/7/2024).
Pada 2020, rencana lahan food estate total 322 hektar. Dua tahun berselang, lahannya meluas lagi 340 hektar. Sementara tahun ini, pemerintah tengah mengembangkan lahan food estate seluas 338 hektar. Teranyar, luas lahan semuanya genap 1000 hektar.
Lokasinya pun tersebar di seluruh Indonesia. mulai dari Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, NTT, Papua, dan Papua Selatan.
Komoditas yang ditanam pada lahan tersebut pun beragam seperti cabai, bawang merah, bawang putih, jagung, kentang, padi dan lainnya.
Semula dari APBN
Awal mula program food estate, sudah ada sejak periode kedua Jokowi. Sebab adanya ancaman paceklik dari faktor kekeringan dan pandemi Covid-19.
Sejak 2019, anggaran yang disiapkan sebanyak Rp80,7 triliun. Kemudian sempat menurun menjadi Rp74,5 triliun pada 2018.
Dalam empat tahun belakangan, anggaran mercusuar Jokowi itu mulai menanjak. Pada 2021 mencapai Rp85,9 triliun, lalu 2022 sebanyak Rp88,9 triliun. Kemudian mulai naik signifikan pada 2023 menjadi Rp 100,9 triliun dan 2024 penyuntikan hingga Rp108,8 triliun.
Baca Juga: PDN Diobok-obok Hacker, Jokowi Ngotot Perintahkan Ini ke Menko Polhukam Hadi Tjahjanto
Dan kini, Jokowi mengaku sedang mencari investor untuk meneruskan proyek mercusuarnya di masa penghujung akhir kepemimpinan menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Investor Berminat?
Studi bertajuk “Analisis Implementasi Program Food Estate sebagai Solusi Ketahanan Pangan Indonesia” menunjukkan bila banyak proyek food estate Jokowi yang gagal.
Studi garapan Alsafana Rasman dkk menuliskan bila food estate di bekas lahan gambut, Kalimantan Tengah yang ditanami padi sudah dinilai gagal.
Salah satu faktornya adalah paksaan berubahnya pola tanam, sehingga hasil produksi tak maksimal hingga gagal panen. Selain itu, lahan gambut yang menjadi kawasan pertanian tergolong belum siap. Sebab masih banyak sisaan kayu dan akar.
Kurang lebih itulah yang terjadi pula pada food estate di Sumatera Utara. Melalui lahan 30.000 hektar, pemerintah menanam kentang, bawang merah dan bawang puith ada 2021 lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
Terkini
-
Harga Beras SPHP Semua Wilayah Rp 12.500 per Kg, Pengecer Untung?
-
DJP Ungkap Kasus Faktur Pajak Fiktif, Rugikan Negara Rp 170 Miliar
-
Perlancar Distribusi Bantuan, Kementerian PU Buka Fungsional Tol SigliBanda Aceh 24 Jam
-
IHSG Gagal Tembus Level 9.000, Investor Panik Langsung Buru-buru Lego Saham
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Aturan Purbaya soal Kripto Dinilai Bikin Industri Makin Transparan
-
Rupiah Makin Ambruk Hingga ke Level Rp 16.855
-
8 Ide Usaha Menjanjikan di Desa dengan Modal Kecil yang Menguntungkan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
Harga Beras SPHP Akan Dipatok Sama Rp 12.500/Liter di Seluruh Wilayah RI