Bisnis / Keuangan
Senin, 12 Januari 2026 | 16:09 WIB
Petugas menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar AS di tempat penukaran uang Dolar Indo, Jakarta, Kamis (20/10/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah ditutup melemah pada Senin, 12 Januari 2025, mencapai Rp 16.855 per USD di pasar spot.
  • Pelemahan tujuh hari berturut-turut ini disebabkan sentimen negatif domestik, seperti defisit anggaran yang melebar.
  • Pergerakan rupiah diperkirakan akan berada dalam rentang Rp 16.800 hingga Rp 16.900 menjelang data inflasi AS.

Suara.com - Nilai tukar rupiah masih belum pulih pada penutupan Senin, 12 Januari 2025. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.855 per USD.

Pelemahan ini membuat mata uang garuda sudah sakit selama tujuh hari berturut-turut. Alhasil, rupiah melemah 0,21 persen dibanding penutupan pada Jumat  yang berada di level Rp 16.819 per USD.

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp 16.853 per USD. 

Ilustrasi uang rupiah.. (Pixabay)

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per terpantau tengah mengalami pelemahan 0,31 persen di level 98,826.

Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah disebabkan sentimen dalam negeri. Salah satunya defisit anggaran yang melebar.

"Pelemahan rupiah menegaskan bahwa sentimen terhadap rupiah yang masih negatif, terutama terkait defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga Bank Indonesia," katanya saat dihubungi Suara.com.

Kata dia, kenaikan penjualan ritel yang melampaui perkiraan pun gagal memberikan dukungan berarti bagi rupiah. Sehingga mata uang garuda  diperkirakan masih akan melemah. 

"Investor umumnya hati-hati dan menghindari mata uang beresiko menjelang data penting inflasi AS besok. Rupiah bakal bergerak pada Range Rp 16.800 - Rp 16.900," jelasnya.

Baca Juga: Rupiah Terancam Tembus Rp17.000

Load More