Suara.com - Utang Indonesia kian membengkak dari tahun ke tahun, terutama dalam satu dekade terakhir. Saat ini, total utang negara telah menembus angka Rp8.353 triliun dengan utang jatuh tempo sebesar Rp3.749 triliun untuk periode 2025-2029.
Adapun dalam periode lima tahun itu Indonesia harus membayar utang jatuh tempo tiap tahunnya sebesar Rp800,33 triliun pada 2025, Rp803,19 triliun pada 2026, Rp802,61 triliun pada 2027, Rp719,81 triliun pada 2028, dan Rp622,3 triliun di tahun terakhir.
Dengan tanggungan utang tersebut, lantas, apakah program presiden terpilih Prabowo Subianto yang memakan dana jumbo seperti makan bergizi gratis dan melanjutkan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara masih bisa jalan di masa depan?
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha M. Rachbini menyebut saat ini porsi anggaran APBN 2024 untuk pembangunan IKN termasuk cukup besar, yakni 16%. Maka menurut dia, pemerintah selanjutnya harus memiliki program-program prioritas.
“Dengan program-program yang banyak itu juga harus ada prioritas. Pembiayaan Inovatif memang diperlukan, terutama tidak hanya IKN, tapi pembiayaan-pembiayaan seluruhnya bagaimana sih memperkuat fiskal kita ke depan," kata Eisha dalam gelaran Diskusi Publik INDEF bertajuk , Jakarta, Kamis (4/7/2024).
Jika ingin tetap melanjutkan pembangunan IKN, Eisha meminta pemerintah jangan hanya mengandalkan APBN saja. Perlu mencari sumber pendanaan lain seperti bekerja sama dengan investor baik dari dalam negeri maupun pihak asing.
Namun permasalahannya, sampai saat ini pemerintah masih kesulitan mencari investor untuk IKN. Investor yang sudah menaruh dana pun dianggap belum mampu mengurangi beban APBN secara signifikan.
"Bisa dilihat pendapatnya, pembelanjaannya, pembiayaan. Pembiayaan inovatif juga harus didorong enggak cuma berpangku tangan dengan kemampuan pemerintah tapi juga dengan gandeng investor, tapi masalahnya saat ini berapa sih investor yang di IKN?" tuturnya.
Berpendapat sama, Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti turut menghimbau pemerintahan baru untuk fokus kepada program dengan multiplier effect (efek berganda) yang lebih luas.
Baca Juga: Aktivitas Konstruksi di IKN Saat HUT ke-79 RI Ditiadakan, Pekerja Proyek Tidak Dipulangkan
Langkah ini perlu diutamakan karena sudah banyak program pemerintah yang memakan anggaran bernilai fantastis, tetapi malah lebih banyak membebani kemampuan fiskal negara daripada memberi manfaat untuk masyarakat.
"Jadi pilih program yang benar-benar multiplier effect-nya itu luas, dampak jangka panjang itu ada," saran Esther.
Ia mencontohkan program yang memiliki multiplier effect itu seperti program penguatan sumber daya manusia, peningkatan modal, dan transfer teknologi. Kata Esther, tiga aspek tersebut merupakan syarat umum untuk sebuah negara menjadi negara maju.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
Terkini
-
Sah! Susi Pudjiastuti Ditunjuk Jadi Komisaris Utama Bank BJB
-
IHSG Bergejolak, Ini Alasan BBRI Jadi Rekomendasi Saham di Tengah Krisis
-
Pemerintah Mau Bentuk satgas indonesia Financial Center, Urus KEK Sektor Keuangan
-
YLKI Soroti Posisi Gerbong KRL Khusus Wanita, Dinilai Rawan Saat Kecelakaan
-
64,5% UMKM Dikuasai Perempuan, Tapi Masih Terkendala Pengelolaan Keuangan
-
KCIC Sebut Okupansi Whoosh Naik Usai Kecelakaan KRL di Bekasi
-
Insiden Kecelakaan KRL, Airlangga Ungkap Flyover Rp 4 Triliun Arahan Prabowo Dibiayai APBN
-
Danantara Bakal Evaluasi Total PT KAI Usai Insiden Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
-
Green SM-VinFast Disorot Usai Kecelakaan KRL Maut, Ternyata Jokowi Pernah Datangi Pabriknya
-
Pemerintah Bebaskan Bea Impor LPG & Bahan Baku Plastik, Cegah Kenaikan Harga Makanan-Minuman